Tumpah Ruah dan Meriah Karnaval Akulturasi Budaya Peringati Imlek 2570 dan Haul ke 9 Gus Dur

  • Whatsapp

PATI. Puncak kemeriahan tahun baru Imlek 2570 di Kabupaten Pati berlangsung meriah. Ribuan masyarakat tumpah ruah di sepanjang rute yang dilalui rombongan pawai kebudayaan mulai dari Jalan Pemuda hingga finish di Klenteng Hok Tik Bio, Selasa,05/02/19. Acara kali ini dibarengkan dengan haul ke 9 Gus Dur.

Dandim 0718 Pati meletuskan 500 balon dengan cara diadu dengan papan yang berisi paku

Acara dimulai dengan meletuskan 500 balon di garis start oleh Komandan Kodim 0718 Pati, Letkom Arief Darmawan sekaligus melepas rombongan karnaval. Rombongan Marching Band, atraksi barongsai dan naga serta reog ponorogo menjadi sesuatu yang ditunggu pengunjung. Tercatat adada kelompok barongsai dari Pati, Kudus, Jawa Timur, dan Kertosono. Ada pula lima grup reog ponorogo.

Bacaan Lainnya

Sedikitpun, para penonton tak beranjak dari posisinya demi bisa menyaksikan kemerian agenda budaya ini. Sesekali mereka mencuri kesempatan berfoto bareng barongsai maupun penampil lainnya.  Tak kalah sibuk, barongsai menyambangi sejumlah toko di sepanjang jalan yang dipasang angpao menggantung di pintu dengan sesekali beratraksi.

Salah satu atraksi barongsai naga yang tampil

“Imlek di Kabupaten Pati bukan milik satu komunitas atau suku tertentu tapi milik masyarakat luas. Jadi ya yang berpartisipasi ada dari lembaga pendidikan, pramuka, pesantren, hingga komunitas budaya,” kata Kyai Happy, salah satu panitia yang juga koordinator Gusdurian Pati.

Disampaikannya pula bahwa panitia memberikan apresiasi tinggi kepada warga Pati yang memiliki kesadaran tinggi, tertib, dan menikmati sajian perayaan imlek 2570 kali ini hingga usai.

Selain nuansa imlek, gambar Gusdur juga menjadi pusat perhatian. “Diaraknya gambar Gus Dur sebagai penghormatan kepada tokoh plural, toleran, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia internasional. Acara ini sekaligus memberingati haul ke 9 Gus Dur,” lanjut Kyai Happy Irianto.

Warga berebut foto dengan barongsai

Kerukunan dan toleransi yang dijunjung tinggi di Pati ini menjadi sesuatu yang sangat berharga dan modal pembangunan di berbagai bidang. “Akulturasi budaya ini penting bagi kami, kami menjaga budaya bangsa ini. Mencintai budaya lokal agar tidak diakui negara lain. Ada nuansa Tionghoa, namun ada pula budaya lokal,” tambahnya sembari mengutip pesan Gus Dur, tunjukkan kebaikanmu, orang tidak akan tanya apa agamamu.

 

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *