kipasoak indonesia

Tentang Pian Yang Manis

  • Bagikan
Your Ad Banner

Saya tidak percaya pada hal itu. Pian, si kecil yang menjelang 7 tahun, pun cuma bisa mengikuti ketakpercayaanku. Kukatakan kepadanya, bahwa rajin itu baik.

Kuberikan contoh simpel yang asyik. Maka, Pian pun mulai membangun diri, menjadi si rajin yang enjoy dengan segala yang dikerjakannya. Ia tak sungkan mencuci piring dan menyapu lantai membantu ibunya.

Tapi Pian bukan patung. Ia pribadi yang terus tumbuh dan mencecap segala hal yang mengelilinginya. Pikirannya bergerak dan membaca. Ia mulai membangun hasrat dan berjabatan dengan teman barunya: televisi.

“Kenapa kamu tak menonton televisi?” tanyanya suatu ketika. Mata bundarnya menatapku tanpa dosa. Aku pun merengkuhnya, mendudukkan ia di sebelahku, dan menyodorkan bakpao kesukaannya.

“Kalau aku perlu, aku menonton tivi juga,” dengan pelan aku mencoba memberi pengertian. Aku tahu, Pian kini tak sekedar gemar tivi, tapi juga mulai utak-atik internet dan mencoba game melalui hp ibunya.

Dan yang hebat, jari lentiknya mulai cekatan menekan warna-warni ikon aplikasi yg berjajar di layar emolet. Kuperhatikan, mulutnya yang bagus kudengar bersenandung, menirukan lagu entah apa. Mungkinkah ia sedang bergembira?

Sejujurnya, seringkali hatiku disergap rasa gentar: rimba apa gerangan tengah dimasuki Pian? Aku bagai melihat bayangan kesepian tengah menyeret jiwanya dalam keriuhan gadget yang tanpa jiwa.

Hingga, pada paruh hari yang berasa galak teriknya, ibunya datang bercerita: bahwa sekarang Pian pintar membantah dan perilakunya bermalas-malasan saja.

Aku manggut-manggut dan memegang jenggotku yang beberapa gelintir. Jidatku menjadi berat karena mengkerut duabelas lipat. Bagaimana mungkin Pian yang manis bisa menjadi seperti itu?

Kupikir Pian tentu tak sendirian. Ia hanyalah satu dari sekian juta anak manusia yang akan menentukan nasib sebuah bangsa. Ia perlu tauladan sederhana dari mereka yang paling dekat, yang dengan sukacita mengikhlaskan diri menemani dan mengabdi.

Ya. Pian, si kecil yang menjelang 7 tahun itu, merentangkan jiwanya di hadapanku. Senyumnya molek menawan. Aku mendongak dan memerhatikannya. Ia bagaikan kanvas putih yang dengan sukarela dilukisi apa saja.


DS Priyadi
Penulis bergiat di Kamar Budaya Yogyakarta

\
Your Ad Banner
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of wartaphoto.net