kipasoak indonesia

Jenggot Merah Akira Kurosawa

  • Bagikan
Your Ad Banner

Akhirnya saya merasa lega setelah bersabar menuntaskan sajian Akira Kurosawa: “Red Beard”. Film yang diproduksi 1965 itu, dengan telaten memaparkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sebuah klinik rakyat, yang dikepalai seorang dokter paruhbaya berjuluk Jenggot Merah.

Syahdan, masalahpun dimulai. Seorang dokter muda berprestasi, Yasumoto, bermaksud magang di klinik itu. Tapi ia merasa salah alamat. Semua yang dilihat sungguh jauh dari bayangan: fasilitas kamar, obat-obatan, makanan, yang semuanya serba sekedarnya.

Dan ampun-ampun, Yasumoto benar2 tak yakin akan bisa bertahan menghadapi pasien2 yang kumuh dan dekil sebagaimana ia telah melihat. Belum lagi soal gaji yang paling banter hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Tapi Yasumoto tak berkutik. Ia gagal kabur. Si Jenggot Merah telah mengatur sedemikian rupa, sehingga, suka atau tidak, ia tetap bekerja di klinik tersebut. Padahal, sederet prestasinya selama di universitas menempatkan dia sebagai kandidat dokter istana.

Dari sinilah Kurosawa mulai membeberkan maksudnya. Setelah bulan demi bulan dilewati, Yasumoto mulai menginsyafi, bahwa Jenggot Merah, dokter yang mengesan angkuh dan konyol itu, rupanya seorang bijak yang berjiwa kaya.

Bagi Jenggot Merah, dokter bukan sekedar profesi, dimana seseorang bisa beroleh kekayaan atau penghormatan. Tentu ia tak serta merta menyalahkan yang berpandangan demikian. Tapi pengalamannya mengajarkan: bahwa banyak hal yang jauh lebih berarti dari semata urusan pribadi.

Jenggot Merah berbeda. Ia telah berusaha menjadikan pengetahuan dan keahliannya sebagai sarana untuk mengabdi kepada sesamanya. Dan di situ kita bagai disadarkan, betapa pengabdian tulus seorang manusia begitu menggetarkan jiwa.

Sikap tabah dan sabar Jenggot Merah dalam menunaikan tugasnya telah menjadi mata air bahagia bagi rakyat jelata yang didera aneka penyakit akibat kemiskinannya.

Di hatinya yang dalam Jenggot Merah menyadari: toh dokter juga cuma lantaran bagi suatu kesembuhan. Yang lebih nyata dan dibutuhkan adalah tugasnya sebagai seorang manusia untuk bisa ikhlas melayani serta menghormati mereka yang menderita dalam sakitnya.

Akhirnya Yasumoto berubah arah. Ia memutuskan untuk terus bekerja mendampingi Jenggot Merah. Ia merasa, pengalamannya mengabdi yang tak seberapa selama di klinik itu, telah merubah keangkuhannya menjadi cinta.

Ia pun menolak menjadi dokter istana. Ia ingin seperti Jenggot merah, yang hidup bersahaja namun penuh suka cita dalam menjalani tugas2nya.

Ya. Hidup hanyalah sepenggal cerita yang akan berakhir pada waktunya. Siapa saja, dalam masing-masing takdir yang beraneka, memiliki peluang yang sama dalam upaya memberi arti pada hidup yang fana ini.

Yang gemar film bergizi, saya rekomendasikan ini.

DS Priyadi
Penulis bergiat di Kamar Budaya Yogyakarta

\
Your Ad Banner
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of wartaphoto.net