DPRD Imbau Agar RSUD Soewondo Tidak Melaporkan Penyebaran Video yang Viral

  • Whatsapp

WARTAPHOTO.net.PATI- Menindaklanjuti adanya video yang sempat viral di masyarakat terkait seorang Kepala Dusun (Kadus) Desa Bogotanjung Kecamatan Gabus, Suyono yang sempat marah di RSUD Soewondo, DPRD angkat bicara.

Dalam video yang langsung viral tersebut, Suyono menuding jika salah satu warganya tidak dilayani dengan baik sebagai pasien yang menggunakan BPJS. Selanjutnya, pasien berpindah untuk rawat inap di Rumah Sakit Fastabiq mendapat perlakuan berbeda meski sama-sama menggunakan BPJS.

Bacaan Lainnya

Dengan itu, Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupen Pati meminta pihak RSUD Soewondo utnuk memberikan penjelasan terkait hal tersebut. Selain itu, dalam audiensi yang dilakukan di kantor DPRD (20/1), juga mengundang pihak Rumah Sakit Fastabiq, BPJS, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) kabupaten Pati, Dinas Sosial (Dinsos). Serta Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK).

“Ini menidaklanjuti peristiwa yang viral di masyarakat.  Jika ada salah satu masyarkat Kabupaten Pati yang mau berobat katanya ditolak pihak rumah sakit.Dalam hal ini komisi D meminta keterangan dari pihak rumah sakit, yang mana penjelasan dari hasil diagnosa dikatakan belum perlu rawat inap (bagi pasien),” jelas Ketua DPRD Kabupaten Pati Ali Badrudin.

Sementara berlainan dengan itu, lanjutnya di Fastabiq dengan hasil diagnosanya justru beranggapan jika pasien tersebut perlu adanya perawatan inap. Dalam kasus ini, DPRD meminta agar IDI menindaklanjuti kasus agar tidak dijadikan konflik di kesehatan.

“Tapi ini sebagai satu pengalaman yang mana bisa sebagai motivasi ketika rumah sakit ketika melayani masyarakat harus sebaik mungkin. Kesehatan itu sangat penting,” imbuhnya.

Dirinya menyebut, memang ada tahapan bagi orang yang masuk rawat inap atau tidak. Hal itu lantaran ada mekanisme. sehingga jangan sampai peristiwa ini menjadi persaingan yang kurang sehat.

Sementara itu terkait kabar jika pihak RSUD Soewondo akan melaporkan kasus penyebaran video yang sempat viral, pihaknya berharap agar tidak dilaporkan.

“Saya amati memang jika orang dihadapkan pada suatu permasalahan seperti entah sakit, itu pasti panik. Bisa jadi dianggap ditolak karena penjelasan yang kurang begitu jelas. Sehingga dia marah dengan kepanikannya. Dilain sisi memang sebagai pelayan masyarakat jangan memilih langkah tersebut. Jangan  ada yang merasa benar, karena memang tugasnya melayani masyarakat dengan baik,” tandasnya.

Reporter: Putra

Editor: Revan Zaen

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *