Ritual Adat Sedekah Bumi Desa Lahar Tlogowungu Tetap Dilaksanakan, Hiburan dan Pertunjukan Ditiadakan

  • Whatsapp

WARTAPHOTO.net, TLOGOWUNGU – Berbicara mengenai budaya di Kabupaten Pati memang tidak ada habisnya. Salah satunya adalah tradisi sedekah bumi. Hampir seluruh desa melaksanakan kegiatan tahunan tersebut. Begitu juga dengan masyarakat Desa Lahar, Kecamatan Tlogowungu.

Sedekah bumi di Desa Lahar dilaksanakan setiap Kamis Pahing di bulan Apit (Dzulqo’dah), sebagai bentuk rasa syukur terhadap Allah yang telah memberikan hasil bumi yang cukup melimpah. Sehingga, masyarakat bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh yang maha kuasa.

Bacaan Lainnya

Namun berbeda dengan tahun sebelumnya, sedekah bumi di Desa Lahar dilakasanakan secara sederhana. Hal itu sesuai dengan surat edaran yang dikeluarkan oleh kepala desa setempat terkait pelaksanaan kegiatan di tengah pandemi covid-19 ini. Yakni, segala bentuk keramaian yang memicu adanya kerumunan ditiadakan.

“Kami menggelar sedekah bumi dan terlaksana dengan baik sesuai rencana. Tentu dengan mematuhi protokol kesehatan oleh pemerintah,” ujar Kepala Desa Lahar, Setiawan Budhiaji usai melakukan ritual adat, (25/6/2020).

Ritual Adat Dijalankan

Ritual adat Desa Lahar dilaksanakan mulai pukul 10.00 – 11.00 WIB, yaitu para perangkat desa mengelilingi bekas peninggalan leluhur desa (Danyang). Lokasinya, berada di tengah pasar desa setempat. Rumah peninggalan leluhur inilah lebih dikenal dengan sebutan ‘punden’.

Pada prosesi itu, kepala desa beserta staf melakukan ritual adat mengelilingi punden didampingi oleh seorang dalang dan dua sinden. Setelah ritual selesai, dilanjutkan dengan doa atau bancakan. Dalam panjatan doa, sesepuh desa bersyukur atas limpahan karunia dari sang pencipta dan memohon agar masyarakat desa setempat diberikan kedamaian serta kesejahteraan.

Usai selamatan, puluhan warga yang turut hadir diberikan nasi berkatan. Agar tidak rebutan, aparatur desa membagikannya secara rata. Namun, untuk masrakat dari luar wilayah tidak diperbolehkan datang. Hal itu sesuai dengan surat edaran yang dikeluarkan oleh pihak desa.

“Memang tidak seperti tahun sebelumnya yang biasanya banyak warga dari berbagai desa datang ke sini. Memang kami punya aturan di tengah pandemi ini. Tapi Alhamdulillah semua bisa terlaksana dengan baik. Semoga ke depan desa ini menjadi desa yang semakin tetram dan rakyatnya bisa bekerja dengan lancar dan mendapat barokah,” harap Kades Lahar.

Sementara itu untuk pertunjukan kesenian seperti ketoprak, kirab, pentas musik ditiadakan. Begitu juga dengan kegiatan olahraga seperti sepakbola dan volly juga ditiadakan.

Bahkan, kesenian lokal seperti Gong Cik juga tampak tidak memeriahkan acara sakral tersebut. Namun, pertunjukan wayang tetap dilakukan di punden setempat seiring dengan prosesi ritual adat. Hanya, durasinya tak lebih dari 10 menit. Sebab, wayang itulah syarat dari danyang desa setempat.

“Kegiatan memang kami sederhanakan. Saya tidak ingin memancing kerumunan orang banyak seperti tahun-tahun lalu,” tandas Kades Lahar.

 

Reporter : Putra

Editor : Revan Zaen

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *