
REMBANG | WARTAPHOTO.NET — Cuaca cerah sepanjang musim kemarau 2026 membawa dampak positif bagi petani garam di Kabupaten Rembang. Selain mendukung peningkatan produksi, kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga garam di tingkat petani.
Kondisi itu dirasakan langsung Subari (57), petani garam asal Desa Mojowarno, Kecamatan Kaliori, Rembang. Menurutnya, cuaca yang relatif cerah membuat proses produksi garam berjalan lebih optimal.
Subari mengatakan, persiapan lahan tambak telah dimulai sejak Juni 2026. Panen perdana dilakukan pada akhir Juli, sedangkan puncak panen raya berlangsung pada Agustus hingga September.
Seiring meningkatnya kualitas hasil panen, harga garam di tingkat petani juga mengalami kenaikan. Sebelumnya, harga garam hanya berada di kisaran Rp500–Rp700 per kilogram.
“Sejak Agustus lalu harga relatif stabil. Untuk garam hasil tambak berterpal dijual antara Rp900 hingga Rp1.100 per kilogram, sedangkan yang tidak menggunakan terpal harganya Rp800 per kilogram,” ujar Subari kepada Wartaphoto, Rabu (23/9/2026).
Hingga saat ini, Subari telah melakukan tujuh kali panen. Dalam kondisi cuaca cerah, produksi garam dari tambaknya mencapai sekitar 5–6 ton per minggu.
Menurut Subari, penggunaan terpal pada tambak turut mempercepat proses kristalisasi garam. Tambak tanpa terpal membutuhkan waktu produksi sekitar 10 hari, sedangkan penggunaan terpal memungkinkan garam dipanen dalam waktu sekitar lima hari.
Meski demikian, produksi garam tetap sangat bergantung pada kondisi cuaca. Cuaca yang kurang mendukung dapat menghambat proses produksi karena air di tambak mudah terusik oleh angin.
“Hasil panen sangat bergantung pada cuaca. Kalau cuaca kurang mendukung, airnya mudah terusik angin. Beruntung cuaca sekarang sangat mendukung,” pungkasnya.
Reporter: Arton
Editor: Revan Zaen