
PATI | WARTAPHOTO.NET – Musim kemarau panjang membuat krisis air bersih di Kabupaten Pati kian mengkhawatirkan. Pemerintah Kabupaten Pati bahkan telah resmi menaikkan status penanganan bencana dari siaga darurat menjadi tanggap darurat kekeringan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati mencatat, sedikitnya 40 desa yang tersebar di 10 kecamatan kini terdampak kekeringan. Wilayah dengan krisis terparah berada di Kecamatan Jakenan dan Gabus, disusul Winong, Tambakromo, hingga Jaken.
Menanggapi kondisi yang kian memprihatinkan ini, aksi tanggap darurat terus digalang berbagai pihak. DPC PDI Perjuangan Kabupaten Pati berkolaborasi dengan Anggota DPR RI Komisi V Fraksi PDIP, Haryanto, turun langsung menyalurkan puluhan tangki air bersih ke wilayah-wilayah terdampak.
Tak hanya terpusat di satu titik, bantuan diprioritaskan untuk kecamatan dengan dampak terberat, termasuk menyasar Desa Ngagel di Kecamatan Dukuhseti.
Penyaluran air bersih ini disambut baik oleh Pemerintah Desa Ngagel. Sekretaris Desa Ngagel, Setyo Widi Nugroho, mengapresiasi perhatian yang diberikan untuk warganya di Dukuh Cepoko (RT 7/RW 5, RT 10/RW 5, dan RT 5/RW 5) yang terdampak kekeringan.
“Kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Pemkab Pati, PDIP, dan BPBD yang telah mengalokasikan dua tangki air bersih berkapasitas masing-masing 5.000 liter untuk warga kami. Bantuan ini sangat membantu mengurangi krisis air di Dukuh Cepoko,” ujar Setyo.
Setyo berharap aksi sosial ini dapat berlanjut, mengingat puncak musim kemarau diprediksi masih akan berlangsung hingga November mendatang.
Sementara itu, Sekretaris DPC PDIP Kabupaten Pati, Danu Ikhsan, menegaskan bahwa penanganan bencana skala tanggap darurat memerlukan semangat gotong royong dari semua elemen masyarakat.
“Total bantuan yang kami siapkan mencapai puluhan tangki. Penentuan sasaran kami sesuaikan dengan laporan krisis air terberat di lapangan, seperti Jakenan, Gabus, Winong, Tambakromo, Jaken, hingga Dukuhseti. Prinsipnya, bantuan harus tepat sasaran,” terang Danu.
Lebih jauh, Danu menyoroti pentingnya penanganan jangka panjang agar krisis serupa tak terus berulang setiap tahun.
“Penyaluran air bersih ini sifatnya penanganan darurat untuk meringankan beban warga saat ini. Ke depan, tentu harus ada solusi permanen, seperti pemetaan dan penyediaan sumber air baku di titik-titik rawan kekeringan,” pungkasnya.
Reporter: Anwarudin
Editor: Revan Zaen