
PATI |WARTAPHOTO.NET – Suasana SMAN 2 Pati pada Kamis (24/9/2026) mendadak tampil beda. Dua warga asal Prancis, Souhila Habat dan Amina Benzioua, hadir menyapa warga sekolah dalam sebuah kegiatan edukatif dan dialog interaktif lintas negara.
Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan untuk memberikan pengalaman belajar bahasa asing serta wawasan kebudayaan secara langsung kepada para siswa.
Tanpa sekat formalitas, Habat dan Benzioua melebur bersama para pelajar. Mereka tak canggung duduk lesehan di dalam kelas sambil berdiskusi santai mengenai kultur hingga bahasa dasar Eropa.
Model diskusi sederhana ini terbukti ampuh mencairkan suasana. Para siswa terpacu untuk berani berkomunikasi langsung dengan penutur asli (native speaker).
Kunjungan ini diinisiasi oleh La Lune et Le Soleil, sebuah rumah singgah di Kabupaten Pati yang mengusung konsep pembauran budaya otentik melalui sistem homestay. Tempat ini memfasilitasi wisatawan mancanegara untuk tinggal bersama warga lokal dan mengenali kehidupan masyarakat Indonesia secara mendalam.
Pemilik La Lune et Le Soleil, Yoyok Dwi Prastyo, menjelaskan bahwa konsep yang dibawanya bertujuan menciptakan pengalaman dua arah yang saling menguntungkan antara wisatawan asing dan warga lokal.
”Kami mendirikan La Lune et Le Soleil sebagai ruang pembauran yang otentik. Wisatawan asing yang datang tidak hanya menjadi penikmat keindahan alam, tetapi juga tinggal bersama warga untuk merasakan kehidupan sehari-hari secara langsung,” terang Yoyok, Sabtu (26/9/2026).

Suasana kelas bersama Habat dan Benzioua. Foto: Istimewa for wartaphoto
Selama di Pati, Habat dan Benzioua diajak mempraktikkan kebiasaan lokal, mulai dari makan di warung, mengunjungi pasar malam, penjelajahan alam ringan di kawasan pegunungan, hingga berbagi wawasan di sekolah dan kampus.
“Melalui interaksi yang wajar ini, terjadi pertukaran budaya yang natural tanpa sekat formalitas,” tambah Yoyok.
Usai menyapa siswa SMAN 2 Pati, rombongan melanjutkan agenda ke Kota Semarang pada Jumat (25/9/2026) untuk berdialog dengan mahasiswa dan akademisi Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengenai struktur bahasa Prancis serta dinamika sosial Eropa.
Kehadiran penutur asing di lingkungan sekolah dan kampus daerah ini diharapkan mampu mengikis rasa canggung pelajar dalam berinteraksi di kancah internasional.
“Harapan kami, kegiatan literasi budaya dan edukasi ini dapat membuka kacamata global bagi para siswa dan mahasiswa di daerah. Saat mereka duduk dan berdiskusi langsung, mereka belajar bahwa bahasa asing adalah alat komunikasi yang ramah dan inklusif. Di saat yang sama, para tamu asing juga belajar memahami kearifan lokal serta keramahan masyarakat Indonesia dari dekat,” pungkas Yoyok.
Reporter: Anwarudin
Editor: Revan Zaen