
DUKUHSETI | WARTAPHOTO.NET– Musim kemarau tak menyurutkan semangat para pemuda di Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, untuk berkreasi. Mengubah suasana malam di tepi sawah menjadi lebih hidup, sekelompok pemuda kreatif memanfaatkan Taman Poh Gading sepanjang 100 meter sebagai wadah kuliner hangat yang memikat warga sekitar.
Di bawah kerlip lampu dan semilir angin malam khas pinggir sawah, taman yang berlokasi di Jalan Desa Ngagel, akses dari Dukuh Cepoko Ledok menuju makam desa setempat kini disulap menjadi area nongkrong favorit warga.
Sedikitnya terdapat 6 pedagang yang menggelar lapaknya di sana. Sajian yang ditawarkan pun sangat beragam, mulai dari kopi, serabi, soft drink, hingga sajian kuliner tradisional Nusantara seperti gudeg, pecel, kulup urap, serta minuman hangat penyejuk malam khas cemue.
Salah satu pengelola, Eko Wahyudi, menceritakan bahwa langkah berani ini berawal dari inisiatif pemuda Ansor dan Banser Ranting Penggung, Desa Ngagel.

Mereka ingin membentuk usaha bersama demi memperkuat kas organisasi sekaligus membantu perekonomian warga.
“Mulai buka pertama bulan Juli 2026 lalu, awal mulanya hanya ada satu stan saja yaitu Nusantara Coffee. Ide awalnya kami ingin punya usaha yang dikelola bersama dan hasilnya bisa menambah kas. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, saat ini berkembang sampai ada 6 pedagang yang ikut meramaikan,” ujar Eko, Sabtu (10/10/2026).
Tak sekadar mencari keuntungan pribadi, keberadaan usaha ini juga membawa dampak sosial bagi lingkungan setempat. Dari pendapatan bersih bulanan khusus Nusantara Coffee, sebanyak 10 persen disisihkan untuk kas Ansor Banser yang nantinya dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat.
Selain itu, para pedagang yang berjualan di area taman juga rutin menyisihkan Rp50 ribu per bulan untuk kas RT setempat.
Dampak positif dari hadirnya pusat kuliner ini pun mulai dirasakan oleh para pengunjung.
Riska, salah satu warga Dukuhseti, mengaku sengaja datang untuk mengisi waktu malam minggu bersama teman-temannya di Taman Poh Gading. Rasa penasarannya muncul setelah melihat unggahan video yang tular (viral) di media sosial.
“Awalnya tahu dari story WhatsApp teman, kok penasaran. Masa iya di taman Ngagel ada kafe-kafe gitu. Akhirnya coba datang ke sini,” tutur Riska.
Riska pun tak melewatkan kesempatan untuk mencicipi kuliner lokal yang dijajakan. Ia menikmati porsi pecel di sisi utara taman yang dipadu dengan hangatnya wedang cemue. “Makanannya enak, suasana malamnya pas banget buat nongkrong, apalagi ada wedang cemue yang bikin badan hangat,” tambahnya.
Taman Poh Gading mulai ramai dikunjungi warga sejak pukul 16.00 WIB hingga malam hari. Bagi pengunjung yang datang menggunakan kendaraan bermotor tak perlu khawatir, sebab pihak pengelola tidak memungut biaya parkir alias gratis. Untuk menjaga kerapian dan keamanan kendaraan, pengelola telah menempatkan petugas khusus di titik-titik parkir yang disediakan.
Melalui inisiatif ini, para pemuda berharap keberadaan Taman Poh Gading tak hanya menjadi tempat bersantai yang asyik, tetapi juga terus tumbuh menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat Desa Ngagel dan sekitarnya.
Reporter: Dimas
Editor: Revan Zaen