
PATI | WARTAPHOTO.NET— Pengalaman merantau selama 20 tahun di Arab Saudi rupanya membawa berkah tersendiri bagi Sufaat, warga Desa Bulungan, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Terinspirasi suburnya kebun anggur di Kota Thaif, ia kini sukses mengembangkan wisata edukasi petik anggur bernamanya Mazra’atul ‘Inab di kampung halamannya.
Pria yang akrab disapa Pak Sufaat ini memulai langkahnya usai memutuskan pulang ke tanah air. Berbekal tekun dan ketelatenan, sejak tahun 2019 ia serius membudidayakan anggur impor hingga kini mengelola sekitar 200 batang pohon.
Tak sendiri, pak Sufaat dibantu oleh tiga rekannya dalam mengelola ladang anggurnya.
“Awalnya saya lihat budidaya anggur di daerah Thaif, Arab Saudi. Dari situ tertarik coba tanam di kampung sendiri. Mulai merintis sedikit demi sedikit, dan sejak 2019 makin serius,” ungkap Sufaat saat ditemui di kebunnya, Kamis (15/10/2026).
Tak tanggung-tanggung, kebun Mazra’atul ‘Inab—yang berarti Kebun Anggur—memiliki beragam varietas unggulan. Di antaranya Akademi (Akademik Avidzba), Ninel, Ilaria, Gosv (Gozv), Everest, Tran (Transfiguration), Julian, Bycornew (Baikonur / Boikonur).
Uniknya, kawasan ini dikemas sebagai destinasi wisata edukasi petik buah langsung dari pohonnya. Dengan siklus panen rutin setiap tiga bulan sekali, pengunjung tak hanya bisa menikmati manisnya buah anggur seharga Rp80.000 per kilogram, tetapi juga belajar langsung teknik budidayanya.
“Harapannya kebun ini tidak cuma tempat budidaya, tapi jadi sarana edukasi masyarakat untuk mengenal tanaman anggur lebih dekat,” terangnya.
Pemasaran yang diterapkan Sufaat pun terbilang modern. Selain melayani pembeli yang datang langsung, ia gencar mempromosikan kebunnya via media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan YouTube. Tak heran, pengunjung yang datang tak cuma warga lokal Pati, melainkan berdatangan dari Rembang, Semarang, Kudus, hingga Surabaya.
Meski demikian, jalan yang ditempuh bukan tanpa kendala. Sufaat mengaku tantangan terbesar terletak pada cuaca ekstrem, terutama saat musim hujan yang memengaruhi perawatan tanaman serta akses jalan menuju lokasi.
“Kendala utama memang cuaca saat hujan. Selain perawatan butuh perhatian ekstra, akses jalan ke kebun juga lebih sulit. Tapi itu bagian dari proses yang harus dihadapi,” pungkasnya.
Perjalanan Sufaat membuahkan bukti nyata: berbekal ketekunan dan keberanian mencoba, inspirasi dari negeri orang kini tumbuh manis menjadi peluang usaha dan edukasi di tanah kelahiran.
Reporter: Dimas
Editor: Revan Zaen