
WARTAPHOTO.net.PATI – Sebanyak 18 cerpenis peserta kegiatan Residensi Literatutur 2023
diajak oleh Yayasan Gang Sebelah menelusuri sudut-sudut sarat budaya dan sejarah di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Mereka diajak “membaca” Gresik Gresik lewat diskusi, lokakarya, penelusuran lanskap, hingga tur kuliner.
Kegiatan selama selama tiga hari, Jumat-Minggu (10-12/11/2023) membawa misi “Mengalami Gresik Kota Lama sebagai Lanskap Bercerita”.
Yayasan Gang Sebelah merupakan lembaga yang berdiri pada 2017 dan berfokus dalam bidang sosial dan kebudayaan. Kali ini mereka bekerjasama dengan Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) Republik Indonesia.
Ketua Yayasan Gang Sebelah Gresik Hidayatun Nikmah mengatakan, pihaknya ingin mengajak para cerpenis Indonesia “mengalami Gresik seutuhnya”.
“Kami ajak mereka membaur bersama warga di wilayah Gresik yang kami bagi tiga, yakni wilayah kota lama, pesisir, dan bukit. Harapannya, peserta bisa merasakan langsung suasana dan kultur di Gresik,” ungkapnya pada Sabtu (11/11/2023).
Hari pertama residensi, peserta langsung diajak merasakan atmosfer kesejarahan di kawasan kota tua Bandar Grisse. Sebab, acara pembukaan berlokasi di Hotel Bahagia yang sekaligus jadi tempat menginap para peserta.
Menurut pemilik hotel, Nur Maulidiyah (56), tempat ini merupakan bangunan bersejarah peninggalan era kolonial Belanda yang mulai dioperasikan sebagai hotel pada 1954.
Selanjutnya, peserta diajak menyelami kebudayaan masyarakat pesisir Gresik lewat penelusuran di kawasan pelabuhan. Terakhir, para cerpenis diajak menikmati lanskap bukit di Gresik dengan berkunjung ke Giri Kedaton.
Hidayatun Nikmah menjelaskan, kegiatan residensi dengan mengundang peserta dari luar Gresik baru kali pertama mereka adakan. Selama ini, pihaknya lebih banyak menggelar lokakarya dengan peserta lokal Gresik.
Dia bersyukur, antusiasme para penulis untuk mengikuti kegiatan ini cukup tinggi. Ada lebih dari 50 penulis cerpen yang mendaftar. Mereka mengirimkan karya cerpen sebagai bahan panitia melakukan seleksi. Dari sekira 50 pendaftar tersebut, kemudian dipilih 18 peserta yang lolos untuk mengikuti residensi.
“Output yang kami harapkan dari kegiatan ini, para peserta bisa mengenalkan kebudayaan Gresik secara lebih luas lewat karya cerpen. Selama ini Gresik lebih banyak dikenal sebagai kota pabrik atau industri. Kami ingin orang lebih mengenal kebudayaan asli Gresik,” jelas dia.
Setelah mengikuti residensi, kedelapanbelas cerpenis akan menulis cerpen berlatar Gresik. Karya-karya tersebut kemudian akan dibukukan dalam kumpulan cerpen yang rencananya akan diluncurkan oleh Yayasan Gang Sebelah pada 2 Desember 2023.
Peserta asal Jakarta, Tannia Margaret, tertarik mengikuti kegiatan ini karena dirinya meminati sejarah.
“Apalagi ada penjelasan bahwa kami akan keliling Kota Gresik. Saya tertarik mendaftar karena saya lumayan senang dengan sejarah. Saya tertarik mengetahui sejarah salah satu kota di Indonesia yang belum tentu bisa ditemukan di Google,” ucap dia.
Tannia berharap, usai mengikuti tur singkat selama residensi di Gresik, dia bisa mendapat bahan untuk menulis cerpen.
“Selain itu juga dapat teman baru dan bisa sharing tentang apa yang didapat selama dua hari di sini. Menurut saya, dibandingkan Jakarta, Gresik jauh lebih tenang dan damai. Saya suka suasana seperti ini,” tandas dia.
Adapun 18 penulis cerpen peserta residensi ialah Mazka Hauzan Naufal (Pati), Rizka Amalia (Sidoarjo), Nurul Ludfia Rochmah (Banyuwangi), Miftahul Wulandari (Gresik), Dewi Purboratih (Mojokerto), Wiewiek Afifah (Yogyakarta), Andri Purwanto (Bojonegoro), M Isnaini Wijaya (Malang), Tannia Margaret (Jakarta), Nurillah Achmad (Jember), Mega Anindyawati (Sidoarjo), Akhmad Idris (Surabaya), Sayyidah Nuriyah (Gresik), M Rifdal Ais Annafis (Bantul), Agustina Kumala DS (Lamongan), Sapta Arif (Ponorogo), Eva Maulidiyah Bichrisyea Liberty (Gresik), dan Windy Rachmawati (Surabaya). Windy berhalangan hadir dan digantikan oleh Sakinatun Nisa (Gresik).