
WARTAPHOTO.NET. PATI – Sebanyak 40 foto terpajang di halaman Stadion Joyokusumo Pati dalam Festival Wangi Pradesa. Puluhan karya fotografi ini mengangkat tema Jalur Rempah di kawasan Bumi Mina Tani.
Foto-foto itu menampilkan tentang aktifitas masyarakat Kabupaten Pati, utamanya di wilayah pesisir. Mulai pembuatan batik bakaran hingga pembuatan kapal di Juwana. Ada pula foto yang mampilkan kesenian lokal, seperti wayang dan ketoprak.
Pameran foto ini banyak dikunjungi masyarakat. Mereka hadir untuk melihat puluhan karya foto hasil jepretan tim redaksi Wartaphoto dan juga Komunitas Foto Juwana (KFJ). Para pengunjung bisa menikmati secara gratis pameran tersebut.
Diketahui, pameran fotografi Jalur Rempah ini diselenggarakan dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-701 Kabupaten Pati. Pameran dilaksanakan mulai tanggal 6 hingga 11 Agustus 2024.
Salah satu panitia pelaksana, Beni Dewa mengatakan, pihaknya berupaya memvisualisasi jejak jalur rempah di wilayah Kabupaten Pati agar masyarakat mengetahui jika Pati termasuk daerah strategis terkait jalur perdagangan rempah pada masa lalu.
”Jadi keberadaan jalur rempah memiliki nilai historis yang penting bagi Kabupaten Pati. Di mana dahulu Pati menjadi persinggahan bangsa asing untuk mencari rempah-rempah,” kata Beni.
Menurut dia, adanya jalur rempah ini mempengaruhi kehidupan masyarakat Kabupaten Pati. Baik dari segi budaya, ekonomi hingga pertanian.
Komoditas pertanian beras hingga galangan kapal di Kabupaten Pati pun tumbuh.
Beni menyebut, galangan kapal sudah ada sebelum zaman kolonial Belanda. Galangan kapal ini menjadi salah satu keunggulan Kabupaten Pati. Di mana, dulu Pati menjadi salah satu produsen kapal terbaik di Nusantara.
”Kita angkat kembali dengan adanya fotografi ini. Nantinya juga luncurkan video sinematik yang akan kita luncurkan dengan harapan masyarakat mengenal adanya Jalur Rempah. Sebenarnya Jalur Rempah ini bukan hanya rempah-rempahnya saja tetapi juga dampaknya,” jelas dia.
Ia menuturkan, bila China punya Jalur Sutra, maka Indonesia mempunyai Jalur Rempah, salah satunya di Kabupaten Pati. Sehingga, kesenian pun tumbuh di wilayah ini. Mulai dari ketoprak, wayang, hingga kesenian mandeling.
”Kesenian Mandeling juga wujud alkuturasi budaya. Kesenian ini ada beberapa tokoh-tokoh multikultural. Mulai China Arab Indonesia,” ucap dia.

Jejak Jalur Rempah di Pati
Sementara itu pemerhati Sejarah di Pati, Ragil Haryo menjelaskan, jika berbicara mengenai jalur rempah di Pati, maka tidak lepas dengan adanya pelabuhan Juwana. Di mana, pelabuhan ini terkenal dengan galangan kapalnya.
“Kapal-kapal buatan dari Juwana itu juga disewa oleh pedagang lintas pulau,” jelas dia.
Ia menceritakan, sebelum kemerdekaan, pelabuhan Juwana menjadi jalur datangnya bangsa Eropa ke Nusantara. Bahkan, di Juwana terkenal sebagai tempat membuatan kapal.
“Salah satu galangan kapal terbaik dengan produknya mungkin mengambil kayu-kayu jati di wilayah Muria dan Kendeng,” sebut dia.
Ragil mengatakan, pelabuhan Juwana kian ramai di abad ke-16. Sebab, bangsa Eropa yang datang ke Jawa melewati Juwana. Mereka bertransaksi jual beli dengan warga lokal.
“Barang yang dibawa dari luar rempah seperti kain kemudian ditukar dengan komoditi yang ada di Jawa, yang paling banyak adalah beras,” kata dia.
Ia menuturkan, pelabuhan Juwana juga menjadi jalur alternatif bagi pedagang luar negeri yang melewati Nusantara saat itu.
“Pelabuhan Juwana menjadi alternatif ketika Pelabuhan di Jepara sebagai pelabuhan ramai tidak bisa dilewati kapal, sehingga waktu itu kapal dari Juwana langsung menuju ke Semarang,” tandas Ragil.
Reporter : Putra
Editor : Revan Zaen.
Fotografer : Dimas, Arton