
WARTAPHOTO.NET. SUKOLILO – Masyarakat Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati mengadakan Tradisi Meron, Selasa (17/9/2024) siang. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.
Ribuan warga tampak berjubel di sepanjang jalan Pati-Grobogan, tepatnya di Desa Sukolilo. Ada 13 gunungan Meron telah disiapkan di jalan tersebut.
Gunungan-gunungan itu terbuat dari berbagai bahan, seperti dari beras ketan, rengginang cucur, once, kue cucur, nasi dan berbagai bahan lainnya. Bahan tersebut ditata sedemikian rupa hingga membentuk gunungan yang setinggi sekitar 3 meter.
Ketua Panitia Meron, Shoban Rohman mengatakan, Tradisi Meron sudah ada sejak Abad 17. Hingga kini, tradisi ini terus dilestarikan.
“Kegiatan-kegiatan lainnya sudah kami mulai sejak Jumat lalu. Sementara hari ini adalah puncak kegiatan,” kata dia dalam sambutan.
Ia menyebut, Tradisi Meron sudah ditetapkan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal dari Kementerian Hukum dan HAM. Selain itu tradisi ini juga telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak Tahun 2016 oleh Kemendikbud.
“Pengakuan di atas tentu bukan hanya dimiliki oleh pemerintah desa, bukan hanya milik masyarakat Sukolilo, akan tetapi milik kita bersama,” ungkap dia.
Maka dari itu, pihaknya berharap pemerintah memperhatikan secara serius kegiatan ini. Sehingga ke depan bisa digelar dengan lebih meriah.
“Sampai saat ini tradisi meron belum diperhatikan secara memadai. Maka kami mohon paling tidak menyuarakan, pertama demi terlaksananya acara meron mohon disupport pendanaan baik dari pemda, pemprov, maupun pusat, agar kegiatan ini bisa berjalan lancar. Kedua bahwa kendala yang kami hadapi adalah masalah alternatif jalan, maka rencana-rencana yang sudah kami dengar lama mohon direalisasikan,” harap dia.

Sejumlah Kesenian Tradisional Turut Meriahkan Tradisi Meron
Sejarah Meron
Sekretaris Panitia Meron Sukolilo Pati, Triyono menceritakan, tradisi ini sudah ada sejak tahun 1627 Masehi. Saat itu, sejumlah prajurit Mataram Yogyakarta melintasi wilayah Sukolilo usai berperang melawan Kadipaten Pati, yang saat itu dipimpin oleh Adipati Pragola.
Rombongan pasukan Mataram ingin sampai ke keraton sebelum tanggal 12 Maulid untuk merayakan Tradisi Sekaten. Namun, hingga tanggal 12 Maulid, mereka masih berada di wilayah Sukolilo. Sehingga mereka berinisiatif menggelar tradisi serupa dengan Sekaten.
Akhirnya, mereka menggelar upacara yang dinamakan Meron. Nama tersebut mempunyai makna “Mempere Keraton” (layaknya keraton) atau sama dengan tradisi keraton.
”Kalau di Mataram itu Sekaten. Kemudian mereka menggelar tradisi di sini dengan nama Meron,” kata dia.
Semenjak itulah, Tradisi Meron terus dilestarikan oleh masyarakat. Mereka merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan membuat sejumlah gunungan. Gunungan Meron ini menjadi rebutan warga
Reporter : Putra
Editor : A. Muhammad.