
WARTAPHOTO.NET. PATI – Sepinya Plaza Pragola di Margorejo Pati membuat para pedagang rontok satu demi satu. Hanya tersisa beberapa pedagang yang masih bertahan meski penghasilannya jauh dari kata layak.
Salah satu pedagang itu adalah Leginah (69) yang berjualan di sisi Barat luar Pasar Pragola. Di tempatnya jualan itu memang hampir tak ada aktivitas jual beli. Sehari-hari, ia mengaku lebih banyak menunggu ketimbang melayani pembeli.
“Sehari itu belum tentu laku satu piring. Masak beras dua gelas saja belum tentu habis,” kata Legi, Senin (5/1/2026).
Menurutnya, kondisi sepi mulai terasa sejak pandemi Covid-19. Saat itu, sejumlah pintu gerbang plaza ditutup dan hingga kini tak kunjung dibuka kembali. Menurutnya, kebijakan itulah yang membuat tempat yang dulunya menjadi pusat oleh-oleh Kabupaten Pati menjadi sepi.
“Orang enggak tahu kalau di sini ada warung yang buka. Pintu ditutup, saya di belakang. Enggak ada yang lewat,” keluh dia.
Di tengah kondisi sulit tersebut, Legi juga masih harus menyelesaikan cicilan pinjaman modal usaha di bank yang diambil sebelum pandemi. Meski usahanya nyaris tidak berjalan, ia tetap berusaha mencicil agar tidak menunggak.
Meski penghasilan tak menentu, Legi mengaku tidak menuntut banyak hal. Ia hanya berharap ada solusi agar warung-warung di Plaza Pragola kembali ramai pembeli. Salah satunya dengan membuka kembali akses gerbang dan mengadakan kegiatan atau acara secara rutin.
“Saya mohon sama Bapak Bupati Pati, Sudewo. Kasihan warung-warung di sini. Sekali-sekali ada acara, sebulan dua atau tiga kali saja sudah alhamdulillah,” harap dia.
Ia juga menyoroti kebijakan acara yang digelar di area Plaza Pragolo. Menurutnya, saat ada hajatan atau kegiatan, panitia justru membawa konsumsi dari luar atau mendatangkan pedagang luar, sehingga pedagang di dalam plaza tidak merasakan dampaknya.
“Padahal di sini sudah ada warung. Harusnya ya dari dalam sini,” ucap dia.
Reporter : Putra
Editor : Revan Zaen.