
WARTAPHOTO.NET. PATI – Bulog Kantor Cabang Pati memastikan ketersediaan pangan di wilayah Kabupaten Pati dalam kondisi aman. Masyarakat diminta untuk tidak panik atau risau terkait stok kebutuhan pokok di pasar.
Kepala Kantor Bulog Cabang Pati, Meitha Nova Riany menegaskan bahwa stok beras di gudang saat ini sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga beberapa bulan ke depan.
”Untuk beras, kita aman sampai 6 bulan ke depan. Stok kita lebih dari cukup, mencapai lebih dari 54.000 ton,” ungkap Meitha, Kamis (19/3/2026).
Selain beras, komoditas minyak goreng kemasan rakyat (Minyakita) juga menjadi perhatian utama. Meitha menjelaskan bahwa pihaknya mengelola dua jenis alokasi stok Minyakita untuk menjaga stabilitas di masyarakat. Yakni stok komersial 500.000 liter dan stok operasional bantuan pangan 2 juta liter.
”Kebutuhan Minyakita aman sampai satu bulan ke depan karena kami rutin melakukan pengadaan. Ada yang untuk menjaga stabilitas harga (komersial) dan ada yang khusus untuk penyaluran bantuan pangan,” terang dia.
Menanggapi isu kelangkaan Minyakita di pekan kedua Ramadan, Meitha mengklarifikasi bahwa kondisi yang terjadi bukanlah kelangkaan stok, melainkan lonjakan permintaan yang sangat tinggi dari masyarakat.
Terkait adanya harga yang menyentuh Rp22.000 di pasaran, Meitha menyebut hal itu sering kali terjadi pada minyak goreng merek premium atau Minyakita yang didistribusikan di luar jalur Bulog.
”Bulog hanya mendapat pasokan 35 persen dari pabrik, sedangkan 65 persen sisanya melalui distributor swasta. Inilah yang kami koordinasikan dengan Tim Satgas Pangan dan Tim Saber agar para sales tidak menjual melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET),” jelas dia.
Sebagai langkah konkret mengendalikan harga, Bulog telah menetapkan HET Minyakita sebesar Rp15.700 per liter. Pengecer yang mengambil stok dari Bulog mendapatkan harga Rp14.500 sehingga wajib menjual sesuai HET yang ditentukan.
Untuk memastikan harga tetap terkendali, Bulog menerapkan beberapa strategi. Di antaranya bekerja sama dengan Pemkab Pati untuk memfasilitasi toko-toko di pinggiran desa sebagai titik distribusi resmi Bulog, Gerakan Pangan Murah (GPM) dengan melakukan intervensi langsung ke wilayah yang harganya melonjak, monitoring rutin dengan melakukan pengecekan stok di pasar, dan melakukan identifikasi toko dengan memasang banner khusus pada pengecer sebagai tanda bahwa toko tersebut adalah mitra resmi Bulog yang menjual sesuai HET.
”Kami akan banjiri pasar dengan stok Bulog. Dengan ketersediaan yang melimpah, kami yakin harga di pedagang lain pun akan ikut tertarik turun menyesuaikan pasar,” pungkas Meitha.
Reporter : Putra
Editor : A. Muhammad.