
WARTAPHOTO.NET. DUKUHSETI – Warga Dukuh Penggung, Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, menggelar Pengajian Akbar dalam rangka Haul Mbah Surgi Suro Wencono sekaligus Sedekah Bumi pada Selasa (15/4/2026) malam.
Acara ini menghadirkan KH Amad Muzaidun, yang akrab disapa Ki Zaid Pati, dengan iringan qasidah Gamelan Santri dari Karangrowo, Pati.
Mengusung tema “Nderek Lampahing Para Wali. Arab Digarap, Jowo Digowo. Zaman Wes Tuwo, Sing Eling lan Waspodo”, pengajian berlangsung khidmat dan dihadiri ratusan warga.
Pada kesempatan itu, Kepala Desa Ngagel Suwardi mengungkapkan rasa syukur yang tak terhingga atas nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa taala. Menurutnya tradisi sedekah bumi ini menjadi momentum baik untuk saling bersatu bersama-sama membangun desa lebih maju mewujudkan slogan “noto deso dadi kutho“.
“Untuk perayaan tradisi kirab pawai jegul atau ancak yang biasanya dilaksanakan dua hari, kita sepakat bahwa nanti akan dibarengkan. Ngagel, Penggung, Cepoko bareng,” tuturnya.
Pada tahun-tahun sebelumnya, kirab ancak atau jegul hasil bumi dilaksanakan selama dua hari. Hal itu mengingat luasan Desa Ngagel untuk menyingkat waktu. Namun pada tahun 2026 ini akan dilaksanakan serentak pada hari Minggu 19 April 2026.

Sementara itu dalam tausiahnya, Ki Zaid Pati menekankan pentingnya sedekah dalam kehidupan sehari-hari. Beliau pun menyebut bahwa sedekah adalah amalan yang mendatangkan banyak manfaat dunia dan akhirat, termasuk membersihkan harta, menghapus dosa, menolak bala/bencana, dan melunakkan hati.
“Sodaqoh niku sangat penting walau hanya seteguk air. Kadhos wong ahli kubur niku nangis ora karuan nasibe, kaya dene wong klelep nek segoro, njaluk tulung njaluk donga karo wong sing urip. Melalui sedekah keluarganipun dadhosaken pitulung kagem para ahli kubur punika,” tuturnya.
Beliau juga menjelaskan, tradisi sedekah bumi hakikatnya adalah wujud rasa syukur dan nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Sebagai wujud syukur kepada Allah itulah kemudian masyarakat bersedekah hasil bumi dan berdoa untuk kemakmuran dan keselamatan bersama.
Begitu pentingnya rasa syukur, Ki Zaid Pati juga mengutip Al Quran Surat Ibrahim ayat 7 “wa idz ta’adzdzana rabbukum la’in syakartum la’azîdannakum wa la’ing kafartum inna ‘adzâbî lasyadîd”
“Artinya (ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras,” ucapnya
Uniknya, sebagai ibrah, Ki Zaid Pati menggunakan media wayang kulit sebagai contoh prilaku baik dan buruknya manusia.
Mulai lakon kebajikan Pendawa Lima, sosok humoris Punakawan hingga tokoh antagonis seperti Rahwana, Duryudana, Sengkuni serta Buto Cakil (perwujudan angkara murka)
Menutup pengajian, ia mengajak jamaah melalui pesan “goro-goro” untuk selalu mengingat kepada kebaikan dan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa Allah Subhanahu wa taala.
“Monggo ayo pada eling-eling, pepiling ngibadah ingkang sae, syukur ingkang manteb, ngampahi rukun Islam,” tutupnya.
Acara Haul dan Sedekah Bumi ini menjadi pengingat bagi warga untuk terus eling lan waspodo di zaman yang sudah tua, dengan memperbanyak syukur, sedekah, dan amal kebaikan.
Reporter: Dimas
Editor: Revan Zaen