
WARTAPHOTO. NET. PATI – Sebuah kedai kopi yang berada di Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, tampak ramai pembeli pada Jumat (15/5/2026) siang. Sebuah kedai kopi sederhana bernama “Angkringan Joss” ini memang menjadi titik kumpul bagi warga. Bukan hanya tempat mengisi perut, kedai ini juga menjadi ruang sosial tempat bertukar cerita antarpelanggan.
Namun, ada hal berbeda ketika pembeli hendak membayar pesanannya. Di antara jejeran gorengan hangat, aneka makanan ringan, dan aroma kopi yang mengepul, terselip sebuah kode kotak hitam putih yaitu Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) berlogo Bank Rakyat Indonesia (BRI). Angkringan Joss memang telah lama memasang QRIS sebagai pembayaran nontunai demi beradaptasi dengan transformasi digital.
Salam, pemilik angkringan tersebut menyadari bahwa kenyamanan pelanggan adalah kunci. Meskipun kedainya ini berada di perdesaan, namun dirinya tak menutup mata terhadap perkembangan teknologi. Menurut dia, cepat atau lambat akan terbentuk cashless society atau masyarakat tanpa uang tunai.
“Awalnya memang banyak pembeli yang menanyakan QRIS, karena di sini pembelinya rata-rata anak muda. Mereka jarang membawa uang tunai. Kadang juga ada pembeli itu uangnya pecahan besar, sementara saya sedang tidak punya kembalian. Akhirnya saya tertarik pasang QRIS karena semua jadi lebih praktis,” kata Salam.
Bagi pelanggan, kehadiran QRIS di Angkringan Joss ini sangat memudahkan untuk bertransaksi. Salah satunya dirasakan oleh Kafi. Dia yang akan membayar secangkir kopi hitam pesanannya langsung memindai QRIS menggunakan aplikasi BRImo di smart phone miliknya.
“Kalau ada QRIS enak bayarnya. Soalnya saya jarang bawa uang tunai. Tadi saya beli kopi susu Rp10 ribu,” kata dia.
Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, menjelaskan bahwa di Kabupaten Pati terdapat 360 ribu pengguna BRImo dan 160 ribu titik QRIS. Menurut dia, QRIS dan BRImo ibarat dua mata pisau yang keduanya saling melengkapi untuk memangkas transaksi masa lalu.
“Ibarat dua mata pisau, QRIS dan BRImo harus ada. Kita mengubah transaksi manual ke digital bagi masyarakat desa dengan berbagai literasi dan edukasi. Dan ini dijalankan oleh mantri dan BRI Unit di lapangan,” kata pria yang memimpin BRI wilayah Kabupaten Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini.
Khairul Anwar, dosen STAI KI Ageng Pekalongan (STAIKAP), yang merupakan pengamat ekonomi menyebut, penggunaan QRIS pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil mulai mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Menurut dia, kehadiran sistem pembayaran nontunai ini memberikan kemudahan bagi konsumen dalam bertransaksi sekaligus membantu pelaku usaha menjadi lebih modern, praktis, dan efisien.
“Di era digital saat ini, UMKM yang memiliki QRIS cenderung lebih dipercaya karena mampu memberikan pelayanan yang cepat dan sesuai kebutuhan masyarakat. Selain memudahkan transaksi, QRIS juga membuka peluang bagi UMKM untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing,” tandas Ketua Ikatan Alumni UIN (ILUIN) FEBI UIN KH Abdurahman Wahid ini.
Reporter: Angga
Editor: Revan Zaen