
WARTAPHOTO.NET. PATI — Meski cuma “tukang ayam” kecil-kecilan, Maulana Luthfi Karim (31) punya visi pendidikan yang besar. Usai menyelesaikan kuliah dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dirinya kembali ke kampung halaman, di Desa Gembong, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, dengan memantapkan niat untuk membuka usaha kuliner. Dari usaha itulah dia bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.
Luthfi membuka sebuah kedai yang diberi nama “Ayam-Ayam” dengan bermodal uang saku kuliah yang ia sisihkan beberapa tahun hingga terkumpul Rp10 juta. Di tempat itu Luthfi menjajakan aneka masakan seperti ayam geprek hingga ayam krispi. Harganya pun cukup terjangkau, mulai Rp7 ribu hingga Rp12 ribu sudah dapat paket ayam beserta nasi.
Perjalanan Luthfi dalam membuka usaha tidaklah mudah. Baru berjalan beberapa bulan, usaha kulinernya dihantam badai Covid-19. Meskipun demikian, dirinya memilih bertahan.
“Saat itu penjualan sangat menurun. Biasanya bisa jual 50 porsi per hari, mendadak anjlok jadi 10-an porsi. Tapi saya tetap konsisten, nggak mau banting setir ke usaha lain,” ungkap dia kepada Wartaphoto, Minggu (17/5/1026).
Demi menyambung napas usahanya selama masa sulit itu, Luthfi akhirnya menyuntikkan tambahan modal. Dia mengambil Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp25 juta.
Berbagai strategi dia jalani, termasuk melayani Cash on Delivery (COD) demi menjaga kesetiaan pelanggan. Akhirnya, kegigihan itu berbuah manis. Usahanya mampu melewati hantaman pandemi.
Memasuki tahun 2024, usaha kuliner Luthfi mendapatkan angin segar. Kondisi ekonomi yang kian membaik ia manfaatkan untuk mengambil langkah berani. Dia kembali menyuntikkan tambahan modal sebesar Rp30 juta melalui fasilitas KUR BRI untuk mengembangkan usahanya. Dengan modal itu Luthfi melebarkan sayap usahanya untuk membuka usaha katering, menyediakan aneka kudapan dan makanan untuk berbagai kegiatan.
Tak hanya itu, penjualan paket ayam milik Luthfi juga semakin meningkat. Bahkan per hari dia bisa menjual 50 sampai 100 porsi.
Sedikit demi sedikit keuntungan yang dia dapat tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, melainkan diinvestasikan untuk masa depan akademisnya. Dari hasil usaha Ayam-Ayam itu Luthfi bisa melanjutkan pendidikan S2-nya di UIN Sunan Kudus pada tahun 2025.

Maulana Luthfi Karim Tampak Semringah saat Ayam-Ayam Dagangannya Habis Diborong Pelanggan, Minggu (17/5/2026).
Bagi Luthfi, pendidikan tinggi bukan soal gengsi. Tetapi ada visi yang ia siapkan untuk masa depan keluarganya.
“Paling tidak, anak saya punya standar pendidikan yang baik. Biar anak bisa mencontoh bapaknya, menempuh pendidikan hingga S2. Syukur-syukur bisa S3,” ungkap pria yang baru dikaruniai satu anak perempuan berusia 2 tahun ini.
Melihat usahanya yang semakin membaik, Luthfi berencana mengambil fasilitas KUR lagi guna membuka cabang usahanya. “Rencananya mau ambil KUR lagi buat tambahan modal buka cabang Ayam-Ayam di wilayah Pati Kota,” ucap dia.
Usaha yang dilakukan Luthfi adalah bukti bahwa modal materiel itu penting. Namun, modal mental berupa konsistensi adalah kunci seorang wirausahawan. Dari usaha Ayam-Ayam, dia tidak hanya menjemput rezki, tapi juga membangun menara pendidikan generasi penerusnya.
Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, menyampaikan bahwa KUR adalah alat BRI untuk membantu masyarakat. Tak terkecuali, disalurkan untuk para pemuda yang mempuyai usaha agar semakin berkembang.
“Anak muda, kan, punya ide. Punya kegiatan ekonomi dan kami siap bantu. Jadi anak muda tidak perlu khawatir kalau idenya tidak dapat dukungan. BRI sangat mendukung ide kreatif keekonomian anak-anak usia produktif,” ucap pria yang memimpin BRI wilayah Kabupaten Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini.
Khabib Sholihin, Dosen Perbankan dan Manajemen Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati menilai, UMKM merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan ekonomi nasional. Kekuatan ekonomi suatu negara sangat dipengaruhi oleh kualitas dan daya tahan sektor UMKM yang dimilikinya. Menurutnya, Ketika UMKM mampu berkembang secara sehat dan mandiri, maka perputaran ekonomi masyarakat akan semakin kuat, lapangan pekerjaan semakin terbuka, dan kesejahteraan masyarakat juga ikut meningkat.
Namun demikian, hingga saat ini UMKM masih menghadapi sejumlah persoalan klasik, terutama pada aspek permodalan. Banyak pelaku UMKM memiliki produk yang potensial, tetapi mengalami keterbatasan dalam pengembangan usaha akibat akses modal yang terbatas.
Dalam hal itu, lanjut Khabib, hadirnya program pembiayaan seperti KUR dan berbagai fasilitas kredit usaha yang disalurkan melalui perbankan, termasuk BRI, menjadi salah satu solusi strategis untuk memperkuat kapasitas UMKM Indonesia.
“Akses permodalan yang lebih mudah dan terjangkau dapat membantu pelaku usaha meningkatkan produksi, memperluas pemasaran, hingga meningkatkan kualitas produk dan layanan. Dengan dukungan pembiayaan yang tepat, UMKM memiliki peluang lebih besar untuk naik kelas dan berkembang secara berkelanjutan,” ungkap dia kepada Wartaphoto.
Reporter: Angga
Editor: Revan Zaen