16
September
2026
Rabu - : WIB

Dari Udara ke Dapur: Kisah Mantan Penyiar Radio di Pati Sukses Besarkan Warung Sambel Ikan Pe di Era Digital

wartaphoto
Diah, Pemilik Sambel Pee S’mbok saat Melayani Pembeli yang Hendak Membayar Pesanan

WARTAPHOTO.NET. PATI – Belasan tahun akrab menyapa telinga masyarakat lewat frekuensi udara, Diah Muzaroah kini sibuk memanjakan lidah para pencinta kuliner di Pati. Mantan penyiar radio swasta lokal yang telah berkarier selama 14 tahun ini sukses membuktikan bahwa keberanian bertransformasi dari balik mikrofon menuju kepulan asap dapur warung Sambel Pee S’mbok, bisa membawa UMKM lokal naik kelas di era digital.

Aroma khas ikan pari asap (iwak pe) yang gurih berbaur dengan wangi segar cabai yang diulek, langsung menyergap siapa saja yang melintasi Jalan Penjawi Gang V, Randukuning, Pati, Senin (25/5/2026).

Di dalam warung sederhana bernama Sambel Pee S’mbok itu, suasana tampak begitu hidup. Kepulan asap dapur berpadu dengan suara denting sendok dan obrolan hangat para pelanggan yang asyik menikmati kuliner khas pesisir tersebut.

Jam makan siang dan malam selalu menjadi waktu paling sibuk bagi Warung Sambel Pee S’mbok.

Tak hanya para pelanggan yang makan di tempat, warung ini juga diramaikan dengan orang-orang berjaket hijau dan oranye, para pengemudi ojek online (ojol) yang tampak sabar mengantre untuk menjemput makanan yang dipesan pelanggan lewat aplikasi daring.

Di meja kasir, tampak pula bingkai akrilik yang memajang Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Oleh seorang pelanggan, kode matriks dua dimensi berbentuk persegi itu tampak sedang dipindai menggunakan aplikasi BRImo untuk menyelesaikan pembayaran.

Sebelum sukses di dunia kuliner, dahulu pemilik warung ini, Diah Muzaroah, adalah seorang praktisi media yang telah berkarier selama 14 tahun di sebuah radio swasta lokal Pati.

Keputusan Diah untuk beralih profesi pada 2018 bukan perkara mudah. Namun, panggilan jiwa untuk berwirausaha dan kecintaannya pada kuliner khas pesisir Pantura membuatnya berani merintis usaha di bidang boga.

“Awal mulanya karena ikan pe asap ini makanan favorit ibu saya. Dulu saya sering dimasakin di rumah. Selain itu, ikan pe juga sangat khas dengan wilayah pesisir seperti Juwana, tempat saya mengambil bahan baku langsung,” kata dia.

Dengan modal awal Rp 8 juta dari uang tabungannya, Diah membeli kulkas dan kompor untuk memulai usaha kulinernya.

Diah awalnya harus membagi waktu untuk berkegiatan di studio siaran radio dan dapur warung. Untuk menjaring pelanggan, ia memanfaatkan strategi getok tular (mulut ke mulut).

“Dulu saya sambi. Masak di rumah, lalu pesan-antar sendiri. Makin lama pelanggan makin banyak yang tanya lokasi warungnya. Akhirnya akhir 2018, saya sewa lapak di parkiran warung semur kikil milik kakak saya di Jalan Kiai Saleh,” tutur Diah.

Menu Ikan Pari Penyet Lengkap dengan Nasi dan Lalapan di Warung Sambel Pee S’mbok Pati

Perjalanan bisnis Diah tidak selalu mulus. Setelah memutuskan pindah ke tempat yang lebih luas di Randukuning pada awal 2019, ia langsung diuji oleh hantaman Pandemi Covid-19 setahun berselang. Pembatasan aktivitas masyarakat di luar ruang membuat omzetnya terjun bebas.

“Susah sekali rasanya saat itu. Karena kami selalu memakai ikan pe segar dan tidak bisa disimpan lama, banyak stok ikan yang terpaksa saya buang karena tidak laku setelah lebih dari dua hari,” ucap Diah mengingat masa-masa sulit tersebut.

Tak berhenti di situ, pada awal 2022, Diah kembali diuji oleh kelangkaan bahan baku akibat cuaca ekstrem dan masa transisi regulasi alat tangkap nelayan. Namun, dia tidak lantas menyerah, tetapi memutar otak dengan memperbanyak menu seperti ayam, lele, dan telur untuk menyelamatkan bisnisnya.

Kunci sukses Warung Sambel Pee S’mbok bertahan hingga hari ini adalah keberanian Diah untuk terus beradaptasi.

Tak hanya lewat diversifikasi menu, melainkan juga dengan beradaptasi pada digitalisasi keuangan. Sejak beberapa tahun lalu, ia mengadopsi sistem pembayaran nontunai menggunakan QRIS BRI.

Bagi Diah, berpindah ke sistem cashless bukan sekadar untuk ikut-ikutan tren, melainkan strategi agar usahanya tidak ketinggalan zaman.

“Awalnya saya ditawari pasang QRIS oleh pegawai BRI yang sering makan di sini. Saya langsung tertarik karena sejak pandemi, saya perhatikan masyarakat makin jarang membawa uang tunai. Sekarang, bisa dibilang separuh dari total ratusan transaksi harian di warung saya sudah nontunai,” terang Diah.

Kemudahan berwirausaha di era digital benar-benar dirasakan oleh Diah. Melalui fitur QRIS dan aplikasi BRImo, pembukuan keuangannya menjadi jauh lebih rapi karena omzet penjualan langsung masuk ke rekening secara real-time. Bahkan, Diah kini telah menularkan budaya nontunai ini kepada para pemasok bahan bakunya. Kini dia membeli minyak goreng dan gas secara praktis dengan sistem transfer menggunakan aplikasi mobile banking.

Seorang pembeli, Naufal, tampak melakukan pembayaran di meja kasir warung Sambel Pee S’mbok menggunakan aplikasi BRImo di ponsel miliknya.

Hanya dengan beberapa ketukan di layar ponsel, dalam hitungan detik dia telah menyelesaikan pembayaran senilai Rp27 ribu.

“Beberapa tahun belakangan ini memang saya sudah sangat jarang transaksi pakai uang tunai. Untungnya di Pati juga warung-warung sudah pada pakai QRIS. Bahkan angkringan juga. Lebih praktis dan aman saja rasanya. Penjualnya juga nggak usah repot-repot cari kembalian,” kata warga Gembong, Pati ini.

Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, menjelaskan bahwa QRIS dan BRImo ibarat dua mata pisau yang saling melengkapi untuk memangkas transaksi masa lalu.

“Ibarat dua mata pisau, QRIS dan BRImo harus ada. Kita mengubah transaksi manual ke digital bagi masyarakat desa dengan berbagai literasi dan edukasi,” kata pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini.

Menurut Dosen Kewirausahaan di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Anis Fittria, implementasi QRIS telah berhasil menciptakan sistem pembayaran digital yang lebih efisien, terintegrasi, dan inklusif.

Dari sudut pandang ekonomi digital, QRIS mempercepat transformasi perilaku transaksi masyarakat dari tunai menuju cashless society. Menurut Anis, standardisasi pembayaran ini tidak hanya memudahkan konsumen, tetapi juga memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM karena transaksi menjadi lebih praktis, tercatat, dan aman.

“Selain itu, digitalisasi pembayaran turut meningkatkan transparansi ekonomi serta mendukung penguatan data transaksi yang bermanfaat bagi akses pembiayaan usaha pada masa depan,” kata perempuan asal Kabupaten Pati ini saat dihubungi Wartaphoto.net.

Dari seorang perempuan yang terbiasa menyapa pendengar lewat frekuensi udara, Diah Muzaroah kini sukses menyapa lidah masyarakat Pati lewat kelezatan hidangan racikannya di Sambel Pee S’mbok. Kisah Diah menjadi bukti nyata bahwa keberanian bertransformasi adalah kunci utama bagi UMKM untuk naik kelas dan bertahan melewati zaman.

Reporter: Angga
Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close