
WARTAPHOTO.NET. PATI — Langkah kaki Saryulus (30) mantap kembali ke kampung halaman setelah menyelesaikan studi di salah satu kampus negeri di Yogyakarta pada 2017 lalu. Menyandang gelar Sarjana Ekonomi, ia memilih jalan yang berbeda dari sebagian besar teman-temannya. Alih-alih mengadu nasib ke kota, Saryulus memilih membangun sebuah toko kelontong di Desa Lahar, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, pada tahun 2019.
Namun, meski telah empat tahun menyerap ilmu ekonomi di bangku kuliah, menerapkannya di dunia nyata rupanya tak semudah membalik telapak tangan. Baru setahun usahanya berjalan, pandemi Covid-19 menghantam. Penjualan pun merosot tajam. Di tengah situasi tersebut, insting usahanya diuji. Di sisi lain, bertahan adalah satu-satunya pilihan.
Kerja keras Saryulus melewati masa-masa sulit berbuah manis. Singkat cerita, toko kelontong sederhananya bertransformasi menjadi sebuah toko ritel modern. Selain menjual sembako dan kebutuhan rumah tangga lainnya, dia juga menjual Alat Tulis Kantor (ATK) dan jasa fotokopi.

Saryulus sedang melayani transaksi pelanggan melalui BRILink di tokonya
Melihat kebutuhan masyarakat Desa Lahar yang dinamis, Saryulus menyadari bahwa layanan toko ritelnya bisa memberikan dampak yang lebih besar. Pada tahun 2024 ia resmi memegang mesin Electronic Data Capture (EDC) untuk menjadi Agen BRILink. Kehadiran unit layanan keuangan di tokonya ini pun menjadi berkah, baik bagi kelangsungan bisnisnya maupun bagi masyarakat sekitar yang lokasinya cukup jauh dari pusat kota atau kantor perbankan.
“Dulu kalau mau tarik tunai atau transfer, warga harus meluangkan waktu ke ATM Tlogowungu yang jaraknya dari Lahar sekitar tujuh kilometer. Kalau sekarang, urusan keuangan bisa selesai sambil belanja kebutuhan pokok, tanpa harus keluar desa,” ujar Saryulus kepada Wartaphoto.net, Selasa (26/5/2026).
Setiap harinya, toko milik Saryulus melayani sekitar 10 hingga 20 transaksi keuangan. Mulai dari pencairan bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), pembayaran iuran BPJS Kesehatan, hingga tagihan internet bulanan.
Sebagai agen BRILink, layanan keuangan yang dia berikan juga menjadi saksi perjuangan para orang tua yang memupuk masa depan anak-anak mereka.
Seperti siang itu, ketika seorang warga bernama Yono datang ke tokonya. Bukan untuk membeli kebutuhan pokok, melainkan untuk membayar uang kuliah anaknya yang sedang menempuh studi di salah satu kampus di Semarang. Lewat ketukan jemari Saryulus di mesin EDC BRILink, biaya pendidikan itu lunas terbayar secara instan dan aman. Yono tak perlu repot-repot mengantre ke teller bank.
Bagi Saryulus, keputusannya menjadi Agen BRILink adalah langkah strategis. Di satu sisi, ia membantu mempermudah akses perbankan bagi tetangga-tetangganya di desa. Di sisi lain, pelanggan di tokonya juga terus meningkat karena layanan perbankan sehari-hari memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, menyampaikan bahwa pihaknya hadir hingga ke desa-desa salah satunya melalui Agen BRILink. Menurutnya, agen-agen ini berfungsi mendekatkan pelayanan perbankan kepada masyarakat desa.
“Jadi kami bisa menjangkau daerah terjauh. Kalau mereka mau mengambil uang tunai, tidak perlu ke ATM. Agen BRILink bisa membantu masyarakat setempat,” ungkap dia.
Pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini menjelaskan bahwa Agen BRILink dibentuk oleh BRI untuk memudahkan kegiatan transaksi sehari-hari masyarakat desa.
“Kami memberdayakan Agen BRILink untuk membantu masyarakat desa. Yang kita agak surprise (terkejut) itu Agen BRILink bisa 1000 sampai 2000 transaksi per bulan,” jelas pria yang akrab disapa Iin ini.
Iin menambahkan, Agen BRILink kini mampu menghidupi diri sendiri karena masyarakat sangat membutuhkan kehadiran mereka di desa. Keberadaan agen ini membuat warga tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh hanya untuk pergi ke ATM.
“Jadi agen bisa menghidupi diri sendiri, karena masyarakat butuh agen hadir di desanya daripada mereka harus naik sepeda, becak, atau naik kendaraan lain ke ATM. Lewat BRILink juga bisa setor tunai. Misal ada anak desa kuliah di Jogja, Jakarta, itu tidak perlu jauh-jauh ke kota, cukup lewat agen BRILink sudah bisa dibantu,” imbuh dia.
Hadirnya BRILink di wilayah pelosok desa juga mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Salah satunya datang dari Dosen Kewirausahaan di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Anis Fittria.
Menurut Anis, BRI melalui program BRILink menunjukkan transformasi layanan keuangan yang semakin inklusif hingga ke wilayah pedesaan. Dari perspektif ekonomi pembangunan, BRILink mampu menurunkan biaya transaksi masyarakat, memperluas akses perbankan, serta mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan.
“Agen BRILink juga menciptakan efek multiplier bagi ekonomi lokal karena masyarakat tidak lagi bergantung pada akses perbankan di kota besar. Dalam jangka panjang, model branchless banking seperti ini memperkuat ekosistem ekonomi digital dan mempercepat pemerataan pembangunan,” jelas dia saat dihubungi Wartaphoto.net.
Kisah Saryulus adalah potret nyata bagaimana seorang pemuda dengan bekal ilmu ekonomi dan kejelian melihat peluang, mampu menjadi penggerak ekonomi di desanya. Melalui toko ritel dan layanan Agen BRILink yang dikelolanya, jarak menuju akses keuangan modern kini tak lagi menjadi pembatas bagi warga desa.
Reporter: Angga
Editor: Revan Zaen