
PATI | WARTAPHOTO.NET — Nasib buruk tengah menimpa para nelayan rajungan di Desa Keboromo, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Mereka kini dihadapkan pada kondisi sulitnya mendapatkan tangkapan rajungan di laut.
Ketua Kelompok Nelayan Rajungan Bino Makmur Keboromo, Rokhim, mengeluhkan hasil tangkapan rajungan yang menurun drastis. Padahal, saat ini harga jual rajungan di pasaran sedang tinggi.
”Harganya bagus, tetapi rajungannya sulit dicari. Pernah ada yang memasang 1.000 bubu, tetapi hanya mendapat 4 ekor,” ujar Rokhim, Rabu (12/8/2026).
Rokhim menyebutkan, ada sekitar 70 hingga 80 nelayan pencari rajungan di desanya. Kondisi sulitnya mencari rajungan ini pun memukul perekonomian warga, terlebih situasi tersebut sudah berlangsung selama berbulan-bulan.
Bukannya meraup untung dari harga yang membumbung, para nelayan justru harus menanggung kerugian setiap kali melaut.
”Kalau dihitung, kerugian sekitar Rp300 ribu per trip untuk membeli solar dan perbekalan. Biasanya satu perahu diisi 3 orang yang membawa sekitar 500 bubu,” ungkapnya.
Menurut Rokhim, kelangkaan ini dipicu oleh sejumlah persoalan, mulai dari perubahan iklim hingga rusaknya ekosistem laut yang membuat rajungan kehilangan habitatnya. Selain itu, minimnya fish apartment (rumah ikan) serta maraknya pencemaran limbah ke laut membuat populasi rajungan mati dan menghilang.
”Penyebabnya banyak. Mulai dari penggunaan alat tangkap mini cantrang oleh nelayan dari daerah lain, limbah tapioka, hingga ketiadaan terumbu karang,” terangnya.
Padahal sebelumnya, para nelayan memiliki kalender musim yang dapat diandalkan. Periode Desember hingga Maret biasanya menjadi puncak musim panen rajungan.
”Dulu bisa dipastikan, bulan Desember, Januari, Februari, sampai Maret pasti ada hasil tangkapan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Namun, sekarang kondisinya tidak bisa diprediksi lagi,” kata Rokhim.
Ia menambahkan, sepuluh tahun lalu, sekali melaut nelayan bisa membawa pulang sekitar 5 kilogram rajungan hanya dengan membawa 200 bubu. Kini, baik jadwal musim maupun jumlah hasil tangkapan sudah sangat sulit diandalkan.
Reporter: Putra
Editor: A. Muhammad