
PATI | WARTAPHOTO.NET — Sebuah meja makan kayu tua di atas panggung sederhana menjadi pusat dari segala dinamika: tempat di mana percakapan bermula, konflik memuncak, harapan digantungkan, hingga cinta disimpan secara diam-diam. Suasana emosional inilah yang dihadirkan oleh Teater AS Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati dalam pementasan produksi ketujuhnya bertajuk “Kabut di Meja Makan” yang disutradarai oleh Sinta Nur Hidayati, Kamis (10/9/2026) malam.
Lampu panggung yang temaram serta alunan musik liris menyelimuti sosok Herman (diperankan oleh Sobirin). Gestur tubuh dan tarikan napas panjangnya secara tersirat menggambarkan beban berat seorang kepala keluarga yang baru saja terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Tatapannya nanar menatap foto keluarga kusam yang tergantung di dinding.
Di tengah guncangan ekonomi tersebut, sang istri, Rahmi (diperankan Erfina), mengidap katarak, sementara putri mereka, Sita (diperankan Fida), terpaksa bekerja sebagai buruh cuci di usia muda demi menyokong kebutuhan hidup.
Terdesak oleh rasa takut dianggap gagal mempertahankan kehormatan keluarga, Herman mengambil jalan pintas dengan terjebak dalam perjudian. Alih-alih mendapatkan solusi, ia justru kehilangan rumahnya karena terpotong pinjaman dan gadaian, yang kemudian menguji kepercayaan di antara mereka.
Sutradara pementasan, Sinta Nur Hidayati, mengungkapkan bahwa naskah karya Erza Dwi Susanto ini dipilih karena keterikatan emosional serta realitas kehidupan sehari-hari yang dekat dengan masyarakat.
”Rumah dalam pementasan ini bukan sekadar bangunan fisik tempat tinggal, melainkan simbol bertemunya beragam dinamika emosi—mulai dari kasih sayang, konflik, harapan, rasa malu, hingga ancaman kehancuran,” ujar alumnus STAI Pati tersebut.
Sinta menambahkan, setiap karakter mewakili perjuangan tersembunyi yang kerap terjadi di dalam sebuah rumah tangga. Karakter Herman menggambarkan tekanan psikologis seorang ayah, Rahmi menghadirkan kepekaan batin seorang ibu di tengah keterbatasan fisik, dan Sita mencerminkan kepolosan anak yang terpaksa dewasa lebih cepat demi keadaan.
Melalui lakon ini, Sinta ingin menyampaikan pesan bahwa krisis yang dialami sebuah keluarga bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan juga kerap dipicu oleh kekehnya seseorang mempertahankan ego kehormatan hingga kehilangan arah.
Sementara itu, Ketua Panitia Pentas Produksi, Erfina Diah Kusumawati, menjelaskan bahwa karya ketujuh Teater AS ini dirancang untuk memberikan refleksi mendalam, khususnya bagi para mahasiswa yang kelak akan terjun ke masyarakat dan menjadi pendidik.
”Pementasan ini tidak berhenti saat tirai panggung ditutup, melainkan menjadi bahan perenungan untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing, agar kita belajar memahami diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar,” pungkas Erfina.
Reporter: Putra
Editor: Revan Zaen