
REMBANG | WARTAPHOTO.NET — Ribuan peserta dari berbagai komunitas Tionghoa memeriahkan kirab budaya dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-171 Klenteng Hok Tik Bio Rembang, Minggu (20/9/2026). Kirab yang digelar setiap 10 tahun sekali itu berlangsung meriah dan menjadi ruang perjumpaan lintas komunitas sekaligus memperkuat semangat toleransi.
Rangkaian HUT Klenteng Hok Tik Bio ke-171 atau 2557 Kongzili digelar pada 14–27 September 2026. Berbagai kegiatan diselenggarakan, mulai dari pementasan wayang potehi, barongsai, kirab budaya, sembahyang bersama hingga bakti sosial.
Kirab budaya diikuti 33 kelompok klenteng dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta memulai perjalanan dari Klenteng Hok Tik Bio, kemudian menuju Klenteng Tjoe Hwie Kiong sebelum kembali ke Klenteng Hok Tik Bio.
Wakil Ketua Panitia HUT Klenteng Hok Tik Bio Rembang, Sutikno Hadi Wasita, mengatakan kirab budaya tersebut merupakan agenda yang digelar setiap 10 tahun sekali.
“Ini adalah kirab budaya yang diadakan 10 tahun sekali. Peserta ada 33 kelompok klenteng, 30 dari luar kota dan 3 dari Rembang,” sebutnya saat diwawancarai awak media, Minggu (20/9/2026), di sela-sela kirab budaya.
Rangkaian kirab juga menarik perhatian masyarakat Kabupaten Rembang. Warga terlihat menyaksikan peserta yang melintas sambil menikmati berbagai atraksi budaya yang ditampilkan.
Menurut Sutikno, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari perayaan HUT klenteng, tetapi juga membawa pesan persatuan dan toleransi.
“Memang kita ini untuk kirab budaya nasional, jadi kita itu untuk mempersatukan bangsa, jadi kita tidak memandang perbedaan untuk kita semua. Jadi kita jadikan satu untuk kebudayaan kita agar kita bisa bersatu dan Indonesia dapat berkah semuanya,” ungkapnya.
Para peserta kirab membawa berbagai perlengkapan dan tandu yang berisi persembahan dewa. Sejumlah atraksi turut ditampilkan sepanjang perjalanan. Meski harus berjalan cukup jauh di tengah cuaca terik, antusiasme peserta tetap terlihat.
Nadia, salah satu peserta asal Lasem, mengaku senang dapat berkumpul dengan berbagai komunitas Tionghoa dari sejumlah daerah.
“Seru sih, senang bisa kumpul-kumpul, dari luar kota juga banyak yang datang hari ini. Harapannya, semoga tahun berikutnya ada lagi, bisa ikut lagi, seru-seru lagi bareng-bareng,” ujarnya.
Selain mengikuti kirab, Nadia juga menikmati aneka kuliner yang disuguhkan komunitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) klenteng.
Peserta lainnya, Rudi, datang dari Kota Magelang untuk mengikuti perayaan yang disebut Tiong Jiu tersebut. Ia mengatakan kegiatan itu memiliki makna tersendiri bagi umat klenteng.
“Tiong Jiu itu kalau umat klenteng percaya acaranya dapat mendatangkan berkah gitu bagi tuan rumah dan juga untuk para peserta yang mengikuti. Jadi kalau kita ibaratkan bagaikan yang kita bawa ini dewa atau raja kita bawa keluar dari klenteng sebagaimana istana. Kalau biasanya ketika raja keluar dari istana melihat sekitaran, Dia bisa tahu oh ini ada daerah yang maju, ada daerah yang baik,” katanya saat ditemui di Klenteng Tjo Hwie Kiong.
Menurut Rudi, perayaan Tiong Jiu juga menjadi bagian dari penghormatan kepada leluhur yang dimaknai sebagai raja atau dewa dalam tradisi umat Tionghoa.
Dalam prosesi tersebut, umat membawa simbol dewa keluar dari klenteng dan mengajaknya singgah ke sejumlah tempat. Tradisi itu dimaknai sebagai bentuk penghormatan sekaligus kesempatan untuk melihat kondisi lingkungan dan masyarakat di sekitar.
Reporter: Arton
Editor: Revan Zaen