06
Oktober
2026
Selasa - : WIB

Meneruskan Gagasan Maestro Nasirun, 10 Seniman Kolaborasi dengan Petani Garam Bikin Lukisan Terbesar

wartaphoto net
2026/10/05 pada Olahraga, Muria Raya, Rembang

REMBANG | WARTAPHOTO.NET. Festival Garam Dasun 2026 memasuki babak baru. Sepuluh seniman dari berbagai daerah di Indonesia resmi terpilih untuk berkolaborasi dengan seniman-petani garam Dasun dalam proyek pembuatan Lukisan Garam Terbesar di Dunia. Sepuluh Seniman ini akan berkolaborasi dengan petani garam Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, untuk mewujudkan lukisan garam terbesar di dunia.

Sepuluh seniman tersebut terpilih melalui proses open call yang digelar panitia pada 9–25 September 2026. Puluhan portofolio dari berbagai daerah masuk dan kemudian diseleksi oleh kurator bersama panitia.

Para seniman terpilih memiliki latar belakang beragam, mulai dari pegiat komunitas akar rumput, seniman akademisi dengan pengalaman riset, hingga seniman yang telah mengikuti berbagai kompetisi dan kegiatan seni internasional.

Keberagaman tersebut diharapkan menghadirkan perspektif baru mengenai garam, kehidupan petani garam, serta kebudayaan masyarakat pesisir.

10 Seniman dan 10 Petani Garam

Sepuluh seniman yang terpilih dalam program residensi Festival Garam Dasun 2026 yakni Tri Wahyudi dari Yogyakarta, Putut Pasopati dari Pati, Prabowo Setyadi dari Jatiwangi, Budi Karya dari Jepara, Aqilur Rachman Abdul Charizs dari Jakarta, Dwiki Naufal Ilham dari Lasem, Sonia Prabowo dari Yogyakarta, Munna Laili Hidayana dari Kediri, Kharisma Widya Kartika dari Rembang, serta Andita Purnamasari dari Yogyakarta.

Mereka akan berkolaborasi dengan 10 seniman-petani garam Dasun, yakni Tri Murti, Mulyono, Arif Yulianto, M. Sholeh, Suparlan, Mariyadi, Suparno, Agung Wibowo, Anas Kristiawan, dan Rohmadi.

Kolaborasi tersebut juga akan didampingi tim teknis yang terdiri atas Sofyan Deer, Yoyok van Badem, De Tejo, Ariz Lukman, dan Eddie Suryono.

Ketua Panitia Festival Garam Dasun 2026, Angga Hermansah, mengatakan karya “Lukisan Garam (meneruskan) Nasirun” memiliki dua sisi yang saling melengkapi, yakni sebagai ungkapan syukur sekaligus medium untuk menyampaikan realitas kehidupan petani garam kepada publik.

“Lukisan garam ini adalah ungkapan syukur para petani garam atas apa yang telah mereka jalani dan warisi dari kehidupan di tambak. Namun pada saat yang sama, karya ini juga menjadi cara mereka menyuarakan realitas yang mereka hadapi kepada publik. Karena itu, kami melihat karya ini bukan hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan antara pengetahuan, pengalaman, rasa syukur, dan suara petani garam,” kata Angga.

Festival Garam Dasun 2026 mengajak masyarakat, media, dan pecinta seni untuk menyaksikan proses kolaborasi tersebut. Festival ini sekaligus menjadi ruang pertemuan antara seni, pengetahuan, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat petani garam di Desa Dasun, Lasem, Rembang.

Tinggal Bersama Warga dan Belajar dari Petani Garam

Sepuluh seniman akan menjalani residensi seni di Desa Dasun pada 14–17 Oktober 2026. Selama empat hari, mereka tidak hanya berkarya, tetapi juga tinggal di rumah-rumah warga dan belajar langsung dari para petani garam.

Mereka akan mempelajari pengetahuan dan tradisi seputar garam, sejarah panjang garam Lasem, proses produksi garam dari tambak hingga meja, serta kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada tambak.

Kurator Festival Garam Dasun, Eggy Yunaedi, mengatakan residensi tersebut menjadi salah satu program penting dalam festival.

“Selain ingin memperluas perspektif lewat para seniman yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang, kolaborasi ini merupakan bagian dari strategi diseminasi pengetahuan. Kami ingin pengetahuan tentang garam menyebar, hidup, ditubuhkan, dan diterjemahkan kembali melalui bahasa seni oleh para seniman bersama warga,” ujar Eggy.

Salah satu peserta residensi, Tri Wahyudi dari Yogyakarta, menyambut keterlibatannya dalam program tersebut.

“Saya bersyukur dapat bersama-sama menuangkan kreativitas yang baru, dan bangga bisa terlibat dalam festival bersama masyarakat petani garam yang menjadi bagian dari kearifan lokal budaya Nusantara.”

Sementara Kharisma Widya Kartika, seniman asal Rembang yang terpilih dalam program residensi, berharap dapat mengenal lebih dekat garam Dasun beserta ekosistem yang ada di baliknya. Ia juga ingin mengeksplorasi proses berkesenian secara kolektif dengan garam sebagai medium.

Meneruskan Gagasan Maestro Nasirun

Puncak program residensi akan diwujudkan melalui kolaborasi 10 seniman dengan 10 seniman-petani garam Dasun dalam karya “Lukisan Garam (meneruskan) Nasirun”.

Karya tersebut merupakan kelanjutan dari gagasan maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, yang sebelum berpulang pada 1 Agustus 2026 sempat bertemu dengan seniman-petani garam Dasun yang didampingi Kurator Eggy Yunaedi.

Dari pertemuan tersebut muncul gagasan untuk membuat karya bersama bertema garam. Kepergian Nasirun tidak menghentikan gagasan itu. Sebaliknya, gagasan tersebut diteruskan secara kolektif sebagai bentuk penghormatan kepada sang maestro.

Mulyono, salah satu seniman-petani garam Dasun, mengatakan keterlibatan petani dalam proses berkesenian memberikan pengalaman berbeda.

“Selama ini garam adalah bagian dari keseharian kami sebagai petani, dari tambak hingga menjadi sumber penghidupan. Melalui lukisan dan kolaborasi dengan para seniman dari berbagai daerah, kami ingin garam tidak hanya dilihat sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan, pengetahuan, dan cerita masyarakat petani garam,” ujar Mulyono.

Hal senada disampaikan Arief Yulianto, seniman-petani garam yang sebelumnya juga terlibat dalam kolaborasi lukisan garam.

“Kami berharap kolaborasi ini membuat seni dan pengetahuan tentang garam semakin dikenal luas. Apa yang kami lakukan di tambak selama ini mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dipertemukan dengan dunia seni, ternyata memiliki banyak cerita dan pengetahuan yang bisa dibagikan kepada masyarakat,” kata Arief.

Lukisan kolaboratif tersebut diproyeksikan menjadi lukisan garam terbesar di dunia, melampaui karya “Bancaan Rupa” yang dibuat pada 2023 dan telah tercatat dalam Rekor Dunia MURI.

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close