
PATI | WARTAPHOTO.NET– Musim kemarau panjang tahun 2026 berdampak parah bagi para petani di Desa Ngurensiti, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati. Tanaman cabai milik warga mengering dan mati, sehingga mereka terpaksa mencabut sisa-sisa tanaman dari lahan pertanian.
Kondisi ini salah satunya dirasakan oleh Siti Rukayah, seorang petani cabai merah keriting di Desa Ngurensiti. Ia mengungkapkan bahwa tanaman cabai di lahannya sudah mengering sejak tiga bulan lalu akibat kekeringan parah.
”Sudah kering, kurang lebih sejak tiga bulan yang lalu,” tutur Rukayah saat ditemui di lahan miliknya di Desa Ngurensiti, Jumat (16/10/2026).
Kerugian yang dialami Rukayah terasa makin menyakitkan. Pasalnya, harga cabai merah keriting di pasaran saat ini sedang tinggi, mencapai Rp33.000 hingga Rp35.000 per kilogram. Padahal, pada periode sebelumnya, harganya sempat anjlok di angka Rp11.000 per kilogram.
”Dulu harganya cuma Rp11 ribu per kilo. Kalau sekarang seandainya bisa panen sedang bagus, mencapai Rp33 ribu sampai Rp35 ribu per kilogram,” terangnya.
Rukayah menjelaskan bahwa modal yang dikeluarkan untuk mengolah lahan tersebut tidak sedikit. Ia telah menggelontorkan dana sekitar Rp10 juta hanya untuk pembelian pupuk, belum termasuk biaya pembelian obat-obatan dan perawatan tanaman lainnya.
Krisis air di kawasan tersebut dipicu oleh tiadanya hujan selama lebih dari empat bulan terakhir. Meski pasokan air dari Waduk Gembong sempat digelontorkan sebanyak tiga kali, hal itu tidak banyak membantu karena tanaman cabai sudah terlanjur mengering dan mati.
”Kayaknya sudah percuma. Pasokan air dari waduk juga sudah menipis, dan lagipula alokasi air dari waduk lebih diutamakan untuk tanaman padi,” tambah Rukayah.
Menurutnya, musim kemarau tahun 2026 ini jauh lebih ekstrem dibandingkan tahun 2025 lalu. Pada kemarau tahun lalu, hujan masih sesekali turun sehingga tanaman cabai masih bisa bertahan hidup.
”Tahun ini lebih parah dari tahun kemarin. Tahun lalu masih ada hujan sedikit-sedikit, jadi tanaman masih selamat,” ungkapnya.
Kini, setelah membongkar seluruh tanaman cabainya, Rukayah hanya bisa menunggu datangnya musim hujan. Rencananya, setelah curah hujan kembali normal, ia akan beralih menanam bawang merah di lahan tersebut.
”Nanti kalau sudah mulai turun hujan, lahannya akan ditanami bawang merah,” pungkasnya.
Reporter: Putra
Editor: A. Muhammad