
REMBANG | WARTAPHOTO.NET – Lukisan garam raksasa seluas 1.880 meter persegi menjadi salah satu daya tarik utama Festival Garam 2026 di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Karya monumental yang membentang di sekitar 11 petak tambak garam itu memadukan kreativitas seniman dengan kisah kehidupan petani garam setempat.
Festival Garam 2026 resmi dibuka pada Sabtu (17/10/2026) dengan mengusung tema Memetri Kawitane Uyah. Meski pembukaan baru digelar, rangkaian kegiatan festival telah berlangsung sejak Selasa (13/10/2026) dan dijadwalkan berakhir pada Minggu (18/10/2026).
Pembukaan festival berlangsung meriah melalui kirab budaya dan penampilan kesenian Barongan Gembong Condro Mowo dari Pamotan. Sejumlah pejabat dari DPR RI, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang turut hadir.
Lukisan Garam Terbesar Jadi Ikon Festival
Lukisan garam di atas tambak menjadi karya yang kembali mencuri perhatian dalam penyelenggaraan festival tahun ini. Desa Dasun sebelumnya mencatatkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) melalui karya lukisan garam pada 2023.
Pada penyelenggaraan keempat ini, karya tersebut kembali dihadirkan dengan melibatkan petani garam dan seniman dari berbagai daerah. Proses kreatifnya berangkat dari kehidupan masyarakat pesisir, termasuk pengalaman dan cerita para petani garam Desa Dasun.
Kurator Festival Garam, Eggy Yunaedi, menjelaskan bahwa gagasan lukisan dirumuskan melalui kolaborasi antara masyarakat dan seniman. Salah satu tokoh yang turut memberikan sumbangan pemikiran pada tahap awal perancangan adalah almarhum Nasirun.
Menurut Eggy, Nasirun sempat mendengarkan dan mencatat berbagai cerita serta keluh kesah petani garam Dasun. Catatan tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan konsep visual yang menggambarkan sesaji sebagai simbol rasa syukur, dikelilingi beragam hasil laut seperti ikan, kepiting, dan cumi-cumi.
Komposisi lukisan juga memuat unsur ekosistem pesisir, termasuk plankton dan bakau. Keseluruhan elemen itu merepresentasikan keterkaitan antara alam, hasil laut, dan kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada produksi garam.
Setelah Nasirun meninggal dunia, gagasan tersebut tetap dilanjutkan. Sebanyak 10 seniman dari Jakarta, Jatiwangi, Yogyakarta, Pati, Jepara, dan Kediri bergotong royong mewujudkan konsep tersebut setelah lolos seleksi program residensi melalui mekanisme open call.
Menghabiskan 8–9 Ton Garam
Pembuatan lukisan berukuran besar itu membutuhkan persiapan dan ketelitian. Eggy menyebut sekitar 8–9 ton garam digunakan dari total 10 ton yang disiapkan untuk pengerjaan karya.
Proses melukis berlangsung efektif selama sekitar 3,5 hari, setelah tambak dikeringkan selama lima hari. Kondisi medan yang luas menjadi salah satu tantangan bagi para seniman.
Seniman yang terbiasa mengerjakan mural maupun lukisan berukuran besar seperti papan reklame harus menyesuaikan diri dengan bentang tambak. Jarak antarelemen gambar yang berjauhan, termasuk antara bagian kepala dan ekor ikan, menyulitkan mereka menjaga perspektif ketika mengerjakan lukisan dari permukaan tambak.
Meski demikian, kolaborasi antarseniman dan petani garam memungkinkan karya tersebut diselesaikan sebagai bagian dari perhelatan budaya Desa Dasun.
Mengangkat Nilai Garam dan Kehidupan Petani
Kepala Desa Dasun, Sujarwo, mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan Festival Garam 2026. Ia menyebut kegiatan tersebut merupakan hasil kerja panjang untuk mengangkat garam sebagai bagian penting dari identitas dan sumber penghidupan masyarakat setempat.
Upaya pengembangan budaya di Desa Dasun telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, desa tersebut menggelar Bancaan Rupa yang berkaitan dengan pencapaian rekor MURI untuk lukisan garam.
Perjalanan itu berlanjut melalui pameran di Sangkerin Art Yogyakarta. Pada 2024, karya dan aktivitas budaya Desa Dasun juga mendapat kesempatan tampil di Museum Bahari, Jakarta Utara, dalam kegiatan yang melibatkan 11 negara asing.
Melalui tema Memetri Kawitane Uyah, Sujarwo berharap masyarakat, terutama generasi muda, semakin memahami proses terbentuknya garam serta peran pentingnya dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui tema ‘Memetri Kawitane Uyah’, kami ingin memberikan pemahaman kepada khalayak, khususnya generasi muda, bahwa garam tidak boleh dipandang sebelah mata. Garam tercipta dari proses luar biasa yang melibatkan empat elemen alam dan menyokong kehidupan kita,” pungkas Sujarwo.
Reporter: Arton
Editor: Revan Zaen