
WARTAPHOTO.NET. PATI – Beberapa hari terakhir Kabupaten Pati mendapatkan stigma negatif oleh masyarakat di jagat maya. Seperti dijuluki sarang penadah, sarang bandit, sarang penyamun, hingga disebut sebagai kabupaten dengan SDM rendah.
Stigma-stigma negatif ini muncul usai kejadian main hakim sendiri di Desa Sumbersoko, Kecamatan Sukolilo, Kamis (6/6/2024) lalu.
Seorang pengusaha rental mobil, BH (52), tewas dihajar massa karena dicurigai sebagai pencuri. Padahal menurut keterangan pihak kepolisian, BH hendak mengambil mobil rental miliknya yang digelapkan orang.
Adanya stigma negatif tersebut seakan menghapus nama baik Kabupaten Pati yang selama ini dikenal sebagai kota santri.
Berdasarkan data dari Kemenag, pada tahun 2023 tercatat ada 265 pondok pesantren di Kabupaten Pati.
Puluhan ribu santri dari berbagai penjuru tanah air datang ke Kabupaten Pati untuk mondok di ratusan pesantren yang tersebar di Bumi Mina Tani ini.
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati, KH Yusuf Hasyim menyebut, jumlah pesantren di Pati terbanyak kedua di Jawa Tengah.
“Berdasarkan data dari BPS dan Kemenag, di Kabupaten Pati ada 200 lebih pondok pesantren. Santrinya mencapai 20 ribuan. Itu belum termasuk yang majelis-majelis taklim,” jelas dia saat dihubungi media, Sabtu (15/6/2024).
Salah satu wilayah yang menjadi konsentrasi pondok pesantren di Pati adalah Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso. Puluhan ponpes berdiri di desa ini.
Salah satu di antaranya adalah Pondok Pesantren Maslakul Huda. Pondok ini berdiri sejak 1910 dan mendapat penghargaan dalam Anugerah Satu Abad NU pada 2023 lalu.
KH Yusuf Hasyim menjelaskan, banyak ulama dan tokoh bangsa dari Pati yang masyhur di nasional, bahkan internasional.
“Saya kira (kejadian di Sumbersoko) ini sifatnya hanya kasuistik, tidak bisa digeneralisir,” ucap dia.
Bahkan di lingkup Desa Sumbersoko, lanjut dia, stigma negatif tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh penduduknya.
“Saya sendiri beberapa waktu lalu pernah ceramah di Sumbersoko. Ada pengajian dan selawatan. Luar biasa antusiasme masyarakat. Ibu-ibu di sana juga banyak yang jadi pengurus NU, Muslimat dan Fatayat bagus-bagus kegiatannya,” tutur KH Yusuf Hasyim.
Ia mengatakan, di Kepengurusan Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Sukolilo juga ada yang dari Desa Sumbersoko.
Menurut KH Yusuf Hasyim, secara umum di Kecamatan Sukolilo, semangat keagamaan masyarakatnya cukup tinggi.
“Misalnya dalam semangat membangun Gedung MWC NU itu luar biasa, di sana gedungnya bagus sekali. Belum lagi di Desa Prawoto, di sana Ibu Sinta Nuriyah Wahid sering hadir memberikan ceramah kebangsaan. Secara umum kesadaran masyarakat akan kegamaan tinggi,” kata dia.
KH Yusuf Hasyim mengajak msyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Pati lebih baik lagi, menjadi kota santri yang bermartabat. Untuk itu, dia berharap kejadian seperti di Sumbersoko pekan lalu tidak terulang lagi.
“Masyarakat harus mulai cerdas terhadap hukum. Artinya jangan sampai mudah terprovokasi oleh isu sensitif yang akan merugikan masyarakat sendiri. Masyarakat harus sadar hukum, baik hukum agama, adat, maupun pemerintah,” imbau dia.
KH Yusuf juga mengajak masyarakat untuk membiasakan diri bertabayun setiap mendapatkan informasi apa pun. Sehingga, tidak mudah terprovokasi.
“Kejadian kemarin itu juga berawal dari informasi yang kurang ditabayunkan. Sedangkan kalau dalam sisi agama, setiap informasi harus ditabayunkan dulu, jangan mudah terprovokasi. Tanpa tabayun, berita hoaks sering dianggap kebenaran oleh masyarakat,” tandas dia.
Reporter : Putra
Editor : Revan Zaen.