17
September
2026
Kamis - : WIB

Rumadi, Sastrawan Muda Pati yang Mendapatkan Hadiah Sastra Ayu Utami

wartaphoto net
2024/06/29 pada Pati, Pendidikan, Prestasi, wartaphoto

WARTAPHOTO.NET. PATI – Rumadi, pemuda asal Batangan Kabupaten Pati berhasil menorehkan prestasi membanggakan di bidang sastra. Pemuda yang sekarang berdomisili di Ciputat Tangerang Selatan ini mencatatkan namanya sebagai pemenang 3 hadiah sastra bertajuk “Rasa” dari Ayu Utami untuk pemula bekerja sama dengan Komunitas Utan Kayu, Jakarta.

Pemuda yang sering disapa Adi ini mendapatkan penghargaan pada Minggu (23/6/2024) di Auditorium PDS HB Jassin, Komplek Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Hadiah satsra yang didapatkan Adi ini merupakan penghargaan untuk bukunya yang berjudul “Luka Tak Tersembuhkan” oleh penerbit Unsa Press.

Ayu Utami pun memberikan komentar langsung terhadap karya tersebut.

“Luka Tak Tersembuhkan, karya Rumadi adalah suatu penggarapan epik Mahabarata. Ia memilih sosok-sosok dan sudut pandang masing-masing, ketimbang kronologi peristiwa yang klasik. Ini memungkinkannya menjadi modern dan puitis. Ia melakukan dekonstruksi dengan menawarkan pembacaan yang lain daripada tafsir konvensional cerita wayang,” ungkap Ayu Utami dalam sambutannya.

Seusai mendapatkan penghargaan tersebut, Adi bercerita bahwa ia jatuh bangun untuk menjadi penulis sastra, apalagi di level nasional. Ia bahkan sempat ingin berhenti menulis jika tidak berhasil mencapai target impiannya.

“Sebenarnya, saya sudah menyerah menjadi penulis. Saya sampai bikin perhitungan sama diri sendiri. Jika salah satu dari tiga harapan saya tidak terwujud saya akan benar benar berhenti menulis. Pertama, tembus Kompas, Jawa Pos, atau Tempo. Kedua menang sayembara sastra atau lolos festival Ubud. Ketiga, memenangkan juara satu lomba cerpen. Ternyata Tuhan mengabulkan salah satu dari ketiganya. Perasaan saya campur aduk. Karena saya datang tanpa pengharapan,” ujar Pemuda asal desa Gajahkumpul itu.

“Menjadi finalis adalah sesuatu. Saya mengharap menang sebenarnya di tahun kemarin, ternyata tahun kemarin yang diambil hanya satu juaranya. Dan sekarang, ketika diumumkan saya menjadi juara 3, perasaan saya bahagia. Ini di luar dugaan saya, karena finalis lain karyanya juga keren-keren,” imbuh Adi.

Penulis muda yang pernah mengenyam Pendidikan di SDN 1 Gajahkumpul, SMPN 1 Batangan dan SMKN 1 Rembang ini bukan kali pertama mendapatkan penghargaan. Karya cerpennya sudah malang melintang di berbagai media nasional dan daerah. Beberapa karyanya sudah tersebar di Republika, kompas.id, basabasi.co, dan media lain.

Dari Inspirasi Guru SMP hingga Sastrawan Beken Indonesia

Ada hal menarik dari Adi ketika ditanya siapa yang menginspirasi pertama kali untuk menjadi penulis sastra. Ia menjawab bahwa salah satu Guru SMP dan SMK-nya begitu berpengaruh dan menginspirasinya hingga saat ini.

“Guru yang berpengaruh adalah guru SMP, Bu Dwi Iswahyuni, pengajar Bahasa Indonesia. Dari beliau pertama kali mengenal sastra dan dikenalkan dengan karya Salah Asuhan karya Abdoel Moeis. Kemudian guru SMK, Bu Cecilia, orang-orang memanggilnya Bu Sisil. Galaknya minta ampun. Pelit nilai. Tapi enak dalam pengajaran bahasa Indonesia,” ucap dia sambil tersenyum.

Berkat guru-guru saat sekolah tersebut, ia sekarang menjadi dekat dengan sastrawan berpengaruh di Indonesia dan mengambil ilmu dari mereka. Beberapa di antaranya yaitu Sakti Wibowo, Joni Ariadinata, Kurnia Effendi, S. Prasetyo Utomo, A.S. Laksana, dan Artie Ahmad.

Berharap Karyanya Diterjemahkan ke Bahasa Asing

Penulis muda kelahiran 1990 ini mengungkapkan harapannya agar karyanya ada yang akan menerjemahkan ke bahasa asing agar bisa dibaca penikmat sastra dunia. Saat ini tuturnya sudah ada beberapa karya cerpennya yang diteliti oleh mahasiswa jurusan Sastra Indonesia.

Pemuda yang pernah aktif di Forum Lingkar Pena Cabang Ciputat dan Komunitas Prosa Tujuh ini pun berpesan terhadap generasi muda lainnya agar terus melestarikan khazanah sastra Indonesia. Ia juga berpesan agar generasi muda di bidang sastra tidak takut bermimpi setinggi-tingginya.

“Pesan ke generasi muda, jangan pernah menyerah menggapai mimpi. Berhenti sejenak boleh, tapi jangan berhenti total. Kadang Tuhan mengabulkan doa di saat titik terendah,” pungkas dia.

Untuk diketahui, selain Luka Tak Tersembuhkan, buku Adi lainnya yaitu Melepaskan Belenggu juga pernah menjadi finalis Anugerah Pena FLP 2021 dan Hadiah Sastra Rasa Ayu Utami 2021.

Penulis : Zainal Abidin

Editor: Wartaphoto

 

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close