
WARTAPHOTO.NET. PATI – 50 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati, telah dilantik, Selasa (27/8/2028) malam. Satu di antaranya terdapat sosok santri yang terlahir dari keluarga kurang mampu.
Dia adalah Kastomo (42), yang merupakan seorang santri dan aktivis asal Desa Kudur, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati.
Pria yang akrab disapa Bung Tomo ini sebetulnya bukan pendatang baru dalam panggung politik. Pada Pemilu 2014 lalu, dia pernah mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif. Hanya saja, perolehan suara yang ia dapat tak mencukupi untuk mengantarkannya sebagai anggota DPRD Pati.
Kegagalan itu tak membuat Bung Tomo patah semangat. Dia konsisten aktif di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) serta mencoba peruntungan lagi pada Pileg 2024. Hasilnya, dia berhasil melenggang sebagai anggota dewan setelah mendapatkan suara 9.812 dari daerah pemilihan (dapil) Pati 4 yang meliputi Kecaman Winong, Jakenan, Pucakwangi, dan Jaken.
Pria yang lama menjadi pengajar di almamaternya, Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Abadiyah Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus, Pati itu memang memiliki tekad kuat untuk mengubah nasib.
“Hidup saya penuh perjuangan. Saya kuliah sambil bekerja, sekaligus aktif dalam banyak organisasi, baik internal maupun eksternal kampus,” kata dia kepada wartaphoto.
Saat kuliah, dia aktif di organisasi ekstra kampus, yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Alkindi sebagai wakil ketua. Dia juga aktif di organisasi internal kampus dan pernah menjabat sebagai sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa Inggris Unisma serta Gubernur Mahasiswa FKIP Unisma.
Berkat semangat dan tekad yang kuat, Bung Tomo mampu menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Malang (Unisma).
Ia menceritakan, ketika kuliah, dirinya juga sambil mengajar. Namun, dia tak meninggalkan habitatnya sebagai aktivis.
Suami dari Siti Mudrikah ini aktif sebagai takmir masjid, hingga menjadi pengurus Gerakan Pemuda (GP) Ansor tingkat Kecamatan Winong dan pengurus cabang (PC) Pati. Termasuk menjadi wakil ketua pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Winong.
Selain organisasi sosial dan keagaaman, Kastomo juga terjun di partai politik sebagai kader PKB Pati mulai 2009. Dia pernah menjadi sekretaris dan juga ketua DKC Garda Bangsa Pati, sebuah organisasi sayap PKB. Saat ini dia tercatat sebagai wakil Ketua DPC PKB Pati, sekaligus ketua PAC PKB Kecamatan Winong.
Dia menuturkan, jika pencapaiannya saat ini tidak terlepas dari dukungan keluarganya. Meskipun dalam kondisi kurang mampu, orang tuanya tak pernah membatasi dirinya dalam beraktivitas positif. Selain itu, sang orang tua juga mengajarkannya kerja keras, ketekunan, dan kejujuran.
“Orang tua saya mengajarkan karakter kuat sebagai anak desa dan santri. Meskipun penuh keterbatasan kami tetap harus kuat dan bisa adaptif dalam setiap kondisi,” tutur dia.
Lahir dari daerah Pati selatan yang mayoritas masyarakatnya petani tadah hujan menjadikan Kastomo kuat menghadapi banyak rintangan. Di wilayah lahan kering, tidak banyak yang bisa dilakukan petani, kecuali hanya dapat panen sekali dalam setahun.
Itu membuat orang tuanya, Sarmo dan Muklin merantau ke Sumatra untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Di tanah rantau, mereka bekerja sebagai penderas karet. Kala itu, Kastomo diasuh sang nenek.
“Perjuangan orang tua yang begitu keras menjadikan saya semangat untuk belajar dan bertekad menjadi orang sukses. Segala daya upaya saya lakukan untuk berjuang memperbaiki keadaan keluarga. Semua tidak terlepas dari peran besar orang tua saya,” pungkas dia.
Reporter : Putra
Editor : Revan Zaen