
WARTAPHOTO.NET. KUDUS – Momen menunggu berbuka puasa atau ngabuburit bisa diisi dengan kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan. Salah satunya adalah dengan belajar tentang peradaban Islam.
Museum Jenang Gusjigang Kudus bisa menjadi destinasi yang tepat untuk mengisi waktu ngabuburit dengan belajar dan berwisata. Lokasinya di jalan Sunan Muria nomor 33 Glantengan Kecamatan Kota Kudus.
Di sana, terdapat koleksi yang sangat beragam. Mulai dari edukasi terkait kota Kudus hingga perkembangan peradaban Islam. Pengunjung bisa mengetahui lebih dalam tentang sejarah dan budaya Islam di Indonesia.
Kepala Museum Jenang Gusjigang Kudus, Hesti Tri Hartanto mengatakan, dari tahun ke tahun museumnya terus melakukan inovasi. Salah satunya dengan menambah koleksi.
“Dari tahun ke tahun kami terus berinovasi mengembangkan koleksi yang ada di museum. Tentunya bertujuan sebagai media edukasi selain juga untuk wisata. Kemudian untuk menambah wawasan tentang sejarah utamanya Kabupaten kudus dan Jawa Tengah pada umumnya,” kata dia kepada Wartaphoto, Selasa (4/3/2025).
Ia menjelaskan, ada tambahan koleksi di galeri Al-Qur’an. Selain itu juga ada tiga koleksi baru di galeri kaligrafi.
“Ada tambahan koleksi jenis Al-Qur’an dari bahan atau tinta emas bercover pintu ka’bah. Kemudian di galeri kaligrafi ada beberapa kaligrafi tiga dimensi terbuat dari bahan logam kuningan,” ungkap dia.
Adapun tiga koleksi baru itu meliputi dua kalimat syahadat, surat Al- Mu’minun ayat 109, dan Al-baqoroh potongan ayat 127-128 berbahan dari kuningan.
“Diharapkan pengunjung yang datang ke museum semakin dapat menambah iman dan takwa,” harap dia.

Salah satu pengunjung saat mengabadikan gambar di Museum Gusjigang, Selasa 4 Maret 2025
Selanjutnya, di ruang trilogi. Di sana terdapat spot dua organisasi islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
“Di mana pendirinya Mbah Hasyim Asyari dan Mbah Dahlan itu dahulu belajar di satu guru, kepada mbah Sholeh Darat. Namun di dalam perkembangannya ada sedikit perbedaan. Meski begitu, yang kita junjung adalah persamaannya,” tutur Tri Hartanto.
Untuk mendukung spot tersebut, lanjut dia, pihaknya mendapatkan koleksi tabloid kuno milik NU tahun 1936. Di dalamnya selain tentang keagamaan juga mengajak nasionalisme menuju Indonesia merdeka.
“Bahwa tahun 1936 sudah banyak tokoh-tokoh yang mengajak masyarakat untuk bersatu menuju kemerdekaan RI,” ucap dia.
Selain itu, juga ada koleksi kalender kuno milik Muhammadiyah tahun 1945. Di mana kalender tersebut menggunakan Hijriyah.
“Paling utama kita bisa melihat dan kita tahu bahwa hari kemerdekaan RI 17 Agustus itu jatuh pada bulan Ramadan tanggal 9 tahun 1364 H. Kita bisa membuktikan langsung dengan kalender tersebut,” jelas Tri.
Melalui koleksi-koleksi di museum ini, pihaknya ingin menyampaikan pesan kepada pengunjung, yaitu agar mereka tidak hanya menikmati pengalaman berwisata, tetapi juga memperoleh wawasan dan pengetahuan baru tentang sejarah, ilmu pengetahuan, dan menambah keimanan.
Salah satu pengunjung, Thirozut Takrimah datang bersama temannya untuk mengisi waktu menunggu berbuka puasa. Dia berkeliling ke ruang trilogi hingga galeri kaligrafi.
“Di sini lihat beberapa naskah Al-Qur’an karya kaligrafer Kudus. Kesannya sangat menyenangkan, karena bisa melihat kisah zaman dahulu di Kudus, bisa melihat sejarah, karikatur dan sebagainya,” kata wanita asal Kudus ini kepada Wartaphoto.
Reporter : Putra
Editor : Revan Zaen.