
WARTAPHOTO.net. Jepara – Kota ukir yang juga dikenal dengan sejarah dan budayanya yang kaya, setiap tahun menggelar tradisi Lomban yang menjadi bagian dari peringatan hari jadinya. Pada tahun 2025, Kabupaten Jepara merayakan hari jadinya yang ke-476 dengan serangkaian acara yang berlangsung pada tanggal 6 hingga 10 April. Acara ini tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga memperkuat identitas budaya masyarakat Jepara.
Larungan Kepala Kerbau
Larungan Kepala Kerbau atau Lomban adalah tradisi turun-temurun yang mencerminkan hubungan erat masyarakat Jepara dengan laut. Ritual ini diawali pada 6 April 2025 dengan penyembelihan hewan kerbau di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Jepara. Kemudian, masyarakat melakukan ziarah ke makam leluhur Jepara seperti Cik Lanang di Bulu dan Mbah Ronggo di Ujungbatu. Malam harinya, acara Wayangan digelar untuk menghibur warga sekaligus memperkuat nilai budaya.
Prosesi puncak Larungan Kepala Kerbau dilaksanakan pada 7 April 2025 di perairan Jepara, tepatnya di TPI Ujungbatu. Kepala kerbau dilarungkan ke laut sebagai simbol penghormatan kepada penguasa laut dan bentuk doa untuk keselamatan serta keberkahan bagi para nelayan. Prosesi ini diiringi oleh masyarakat yang mengenakan pakaian adat khas Jepara seperti Batik Jepara dan Tenun Troso.
Tak hanya ritual sakral, perayaan Lomban juga dimeriahkan dengan Festival Kupat Lepet pada pagi harinya. Festival ini menggambarkan rasa syukur masyarakat dengan menyajikan hidangan khas berupa kupat dan lepet yang kemudian dibagikan kepada warga sebagai simbol kebersamaan dan keberkahan.

Asal Usul Pesta Lomban
Berdasarkan kajian akademik dalam jurnal “Nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Lomban Masyarakat Jepara” karya Dewi Puspita Ningsih dari Universitas NU NTB, istilah “Lomban” memiliki dua versi asal-usul.
Sebagian masyarakat percaya bahwa istilah ini berasal dari kata “lomba-lomba,” yang merujuk pada berbagai perlombaan di laut yang dahulu digelar oleh para nelayan.
Sementara itu, versi lain menyebutkan bahwa “Lomban” berasal dari kata “lelumban,” yang berarti bersenang-senang. Terlepas dari perbedaan tersebut, Pesta Lomban tetap memiliki makna yang sama, yakni perayaan kebahagiaan setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa.
Awalnya, Pesta Lomban hanya merupakan tradisi masyarakat nelayan sebagai bentuk sedekah laut. Namun, seiring waktu, tradisi ini menjadi bagian dari budaya masyarakat Jepara secara keseluruhan.
Kini, Pesta Lomban dirayakan oleh berbagai kalangan, bukan hanya nelayan, sebagai bentuk perayaan Hari Raya Idulfitri dengan cara yang khas dan meriah.
Hari Jadi ke-476 Kabupaten Jepara
Selain tradisi Lomban, rangkaian acara juga memperingati Hari Jadi Kabupaten Jepara ke-476. Pada 7 April 2025, dilakukan ziarah ke makam para tokoh penting seperti Sayyid Abu Bakar Al Hadad (Mbah Panggang), Pangeran Syarif di Saripan, hingga Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat di Mantingan.

Acara budaya lainnya yang tak kalah menarik adalah Sendratari Ratu Kalinyamat yang digelar pada 9 April 2025 di Pendopo Kabupaten Jepara. Sendratari ini mengisahkan kepahlawanan Ratu Kalinyamat dalam memperjuangkan Jepara sebagai pusat maritim yang kuat pada masanya. Pada hari yang sama, dilakukan prosesi Buka Luwur di Kompleks Makam dan Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan, yang merupakan ritual pergantian kain penutup makam sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Puncak perayaan Hari Jadi Kabupaten Jepara jatuh pada 10 April 2025 dengan upacara resmi di Alun-Alun 1 Jepara. Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dan pejabat daerah yang mengenakan pakaian adat Jepara, menegaskan kembali kebanggaan terhadap warisan budaya yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
Reporter: Arton
Editor: Revan Zaen