
WARTAPHOTO. net. Kudus – Rumah Khalwat Balai Budaya Rejosari (RKBBR) di Dukuh Wonosari, Desa Rejosari, Kecamatan Dawe, kembali bersiap menggelar tradisi sakral “Ngangsu Banyu 2025”. Prosesi ini dirangkai dengan Pameran Puisi Rupa yang terbuka untuk umum.
Secara harfiah, ngangsu banyu berarti mengambil air. Namun, tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan pada alam, air, dan spiritualitas warisan leluhur. Air suci dari tujuh sumber mata air di Kudus, Purwodadi, Gubug, Pati, Juwana, dan Jepara akan disatukan dalam kendi, lalu didoakan bersama dalam Puja Doa dan Macapatan pada Jumat malam, 29 Agustus 2025.
Menurut Asa Jatmiko, konseptor acara, prosesi ini menjadi simbol persatuan, kejernihan hati, serta penghormatan terhadap air.
“Ngangsu Banyu 2025 akan mengangkat tema Gunung dan Ombak yang berkolaborasi dengan komunitas Gandrung Sastra dari Pati. Acara tersebut nantinya menghadirkan karya-karya instalasi yang bertalian dengan kehidupan para nelayan di Pantura yang dirangkai dalam Pameran Puisi Rupa,” jelasnya.
Ia menambahkan, ombak melambangkan semangat pantang menyerah para nelayan, sementara gunung menggambarkan keteguhan, keagungan, dan sumber kehidupan.
“Dari gunung menuju laut, air akan mengalirkan peri-kehidupan masyarakat… Sehingga tema Gunung dan Ombak sangat cocok digunakan dalam prosesi Ngangsu Banyu tahun ini,” katanya.
Tradisi yang Terus Hidup
Sejak 2017, Ngangsu Banyu rutin digelar dengan tema berbeda setiap tahun. Pada 2024, RKBBR mengangkat tema Cerita dari Sungai bersama Dalang Wayang Kali Den Hasan dari Jepara. Tahun-tahun sebelumnya juga menghadirkan beragam tema, seperti Banyuning Brayat (2017), Banyuning Srawung (2018), hingga Sayeg Saeko Praya (2023).
Tahun ini, prosesi ke-9 akan menampilkan performance art penari Astri Agustin, Fanny Varamesthi, dan Bambang Susanto yang mengisahkan warga mengambil air dari sendang untuk kebutuhan keluarga.
Pameran Puisi Rupa
Pameran akan menghadirkan karya seni pesisiran, miniatur dokumentasi, dan catatan sejarah tentang kehidupan nelayan. Acara berlangsung dua hari, dimulai dengan seni pertunjukan dan pembukaan pameran, dilanjutkan workshop serta pentas seni keesokan harinya.
Pembukaan akan diwarnai performance art seniwati Siwi Agustin dari Pati, yang direspons oleh tiga seniman lain: Arif Khilwa, Putut Pasopati, dan Aloet Pati. Setelah itu, digelar Dialog Budaya Menyoal Fenomena Puisi Rupa bersama Indarto Agung Suksmono dan Asa Jatmiko.
Menurut penyair Pati, Arif Khilwa:
“Puisi Rupa sebagai hybrid art, seni persilangan yang justru menyuburkan disiplin seni yang jauh lebih luas… teks menjadi rupa, dan rupa berbicara melalui teks.”
Selain warga lokal, komunitas budaya dan seniman dari berbagai daerah akan tampil dengan puisi, teater, dan musik. Workshop menulis puisi dan menggambar untuk pelajar juga digelar, dengan karya terbaik mendapat apresiasi khusus.
Jadwal Acara
Acara ini didukung GsT Production dan Iniibubudi Publishing, serta menghadirkan seniman dari Kudus, Pati, dan sekitarnya.