16
September
2026
Rabu - : WIB

Ribuan Warga Sukolilo Merayakan Meron, Jejak Sejarah Tradisi yang Bertahan Sejak Abad 17

wartaphoto net
2025/09/07 pada Budaya, Pati, Wisata

WARTAPHOTO.NET. SUKOLILO – Masyarakat Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati kembali menyelenggarakan Tradisi Meron, pada (06/09/2025). Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi Meron sudah ada sejak Abad 17. Hingga kini, tradisi ini terus dilestarikan.

Tradisi Meron sudah ditetapkan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal dari Kementerian Hukum dan HAM. Selain itu tradisi ini juga telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak Tahun 2016 oleh Kemendikbud.

Kepala desa dan perangkat membawa meron atau gunungan yang di sepanjang jalan Sukilolo Pati. Total ada 12 meron. Meron itu terdiri dari mahkota, gunungan, dan ancak setinggi 3 meter.  Tokoh agama, dan masyarakat memulai acara dengan melantunkan selawat dan ayat-ayat Al-Qur’an

Di tengah mahkota dihiasi miniatur ayam jago dengan rangkaian bunga melingkar. Khusus untuk Modin, miniatur ayam diganti masjid. Setelah belasan meron ditaruh di jalanan, dibacakan sejarah meron di depan Masjid Nurul Yaqin, lokasi panggung utama. Disambung dengan sambutan dan diakhiri dengan pembacaan doa. Hadir pula Bupati Pati Sudewo yang datang bersama istrinya Atik Sudewo yang memberikan sambutan puncak.

Dalam sambutannya, Bupati Sudewo menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya acara Meron yang menjadi salah satu kekayaan budaya Pati.

“Syukur Alhamdulillah kita bersama-sama menghadiri acara Meron Sukolilo ini dalam keadaan sehat wal afiat dan Insya Allah penuh barokah. Acara Meron merupakan kekayaan budaya Kabupaten Pati, tidak hanya milik Kecamatan Sukolilo, tetapi juga milik Kabupaten Pati,” ujarnya.

Bupati Sudewo juga menyampaikan apa yang pemerintah sudah lakukan dan akan dilakukan untuk daerah Sukolilo. Sejumlah ruas jalan yang kini diaspal mulus disampaikan.

Kepala Desa Sukolilo Ahmad Amirudin menyampaikan terima kasih kepada panitia dan masyarakat yang telah bersama-sama kompak menyukseskan acara Meron 2025.

“Untuk kendala ya kami butuh support dana dari Pemerintah Kabupaten. Karena ini kan aset kita bersama, tidak hanya Desa Sukolilo tetapi juga Kabupaten Pati. Kemudian terkait penyelenggaraan, nanti usai acara kita kumpulkan, kita evaluasi, mana-mana yang perlu dipertahankan dan mana yang harus diperbaiki,” ujar Amirudin.

Total pengunjung diperkirakan mencapai belasan ribu. Hal ini bisa dimaklumi karena jumlah warga Sukolilo sendiri mencapai 12.683 jiwa.

Sejarah Meron
Sekretaris Panitia Meron Sukolilo Pati, Triyono menceritakan, tradisi ini sudah ada sejak tahun 1627 Masehi. Saat itu, sejumlah prajurit Mataram Yogyakarta melintasi wilayah Sukolilo usai berperang melawan Kadipaten Pati, yang saat itu dipimpin oleh Adipati Pragola.

Rombongan pasukan Mataram ingin sampai ke keraton sebelum tanggal 12 Maulid untuk merayakan Tradisi Sekaten. Namun, hingga tanggal 12 Maulid, mereka masih berada di wilayah Sukolilo. Sehingga mereka berinisiatif menggelar tradisi serupa dengan Sekaten.

Akhirnya, mereka menggelar upacara yang dinamakan Meron. Nama tersebut mempunyai makna “Mempere Keraton” (layaknya keraton) atau sama dengan tradisi keraton.

”Kalau di Mataram itu Sekaten. Kemudian mereka menggelar tradisi di sini dengan nama Meron,” kata dia.

Semenjak itulah, Tradisi Meron terus dilestarikan oleh masyarakat. Mereka merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan membuat sejumlah gunungan. Gunungan Meron ini menjadi rebutan warga

Reporter : Arton
Editor : Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close