
WARTAPHOTO.net. JATENG. Langkah kaki mereka berjalan beriringan menuju ruang wisuda. Di balik toga hitam dan senyum yang mengembang, tersimpan perjalanan panjang tentang membagi waktu antara tugas publik, keluarga, dan tuntutan akademik. Momen Wisuda ke-93 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang itu menjadi lebih istimewa ketika sepasang legislator berhasil menuntaskan pendidikan doktoral secara bersamaan dengan predikat cumlaude.
Pasangan legislator ini adalah Joni Kurnianto, yang merupakan Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Pati. Sementara sang istri, Kartina Sukawati adalah anggota DPRD Jateng. Keduanya berasal dari Partai Demokrat.
Keberhasilan tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan tinggi tetap dapat diraih di tengah padatnya aktivitas sebagai wakil rakyat. Tidak hanya menyelesaikan studi hingga jenjang doktoral, keduanya juga mencatat prestasi akademik membanggakan dalam prosesi wisuda yang digelar Untag Semarang.
Bagi pasangan yang telah berusia di atas 50 tahun itu, pencapaian ini dirasa spesial karena prosesnya melalui perjalanan panjang dan penuh perjuangan.
Saat ditemui, keduanya kompak menyebut saling menyemangati menjadi kunci kelulusan.
“Tentunya bersyukur di usia yang sudah 50 lebih ini, Alhamdulillah saya dan istri bisa lulus S3 Doktor Hukum di Untag Semarang,” ujar Joni, pada Rabu (20/5/2026).
Dia awalnya tidak pernah membayangkan bisa menyelesaikan pendidikan doktoral. Bahkan menurutnya, dorongan sang istri menjadi salah satu alasan utama dirinya mampu bertahan hingga lulus.
“Kalau tidak didorong oleh istri, mungkin saya belum lulus. Tapi Alhamdulillah dapat motivasi dan seperti pacaran lagi,” katanya.
Selama empat tahun menjalani kuliah doktoral, keduanya hampir selalu bersama. Tak jarang keduanya menikmati waktu sederhana selepas perkuliahan.
Namun perjalanan menuju gelar doktor tidak selalu mudah. Di tengah aktivitas sebagai wakil rakyat, mereka harus pandai membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan penyelesaian studi.
Joni mengakui ada masa-masa berat yang membuatnya nyaris menyerah.
“Berat banget. Waduh pusing. Kalau enggak disupport nyonya mungkin sudah menyerah,” ucapnya.
Meski demikian, tema penelitian yang diambil Joni membuatnya tetap bersemangat.
Dia meneliti penguatan regulasi pedagang kaki lima (PKL), isu yang selama ini memang dekat dengan perjuangannya di dunia politik.
“Saya memang sudah menggeluti itu sejak lama,” katanya.
Sementara itu, Kartina Sukawati mengatakan, perjuangan meraih gelar doktor membutuhkan ketekunan luar biasa.
Dalam empat tahun, mereka harus melewati tujuh kali ujian hingga akhirnya dinyatakan lulus.
“Sungguh luar biasa. Empat tahun bisa sampai tahap ini dengan tujuh kali ujian,” ujar Kartina.
Dia menyebut, kunci keberhasilan mereka adalah saling memotivasi satu sama lain, terutama ketika salah satu mulai merasa lelah.
“Pas lemas saya yang dorong. Pas saya lemas, bapak yang dorong,” katanya.
Menurut Kartina, pendidikan tidak mengenal batas usia.
Dia pun mendorong generasi muda agar tidak takut bercita-cita tinggi dalam pendidikan.
“Jangan merasa kecil kalau gelar doktor itu tinggi banget dan enggak mungkin dicapai. Kami saja sebelumnya enggak nyangka bisa sampai sejauh ini,” ujarnya.
Dia juga menilai generasi muda saat ini justru memiliki peluang lebih besar karena dukungan teknologi digital yang memudahkan akses informasi dan pembelajaran.
“Anak-anak sekarang fasilitas digitalnya jauh lebih mudah daripada kami,” tambahnya.
Pasangan legislator itu berharap ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan doktoral dapat memberi manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam tugas mereka sebagai wakil rakyat.
“Yang penting ilmunya nanti insya Allah buat kami di dewan bisa bermanfaat,” katanya.
Kebahagiaan Keluarga
Momentum wisuda Joni Kurnianto dan Kartina Sukawati ini menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi keluarga besar.
Alamsyah Satyanegara Sukawijaya atau akrab disapa Yoyok Sukawi, yang merupakan adik kandung Kartina Sukawati mengaku bangga melihat keberhasilan keduanya.
Menurut Yoyok Sukawi, capaian tersebut menjadi bukti bahwa semangat belajar tidak mengenal usia maupun kesibukan pekerjaan.
“Kami tentu bahagia dan bangga. Tidak mudah menyelesaikan pendidikan doktor, apalagi dijalani bersama sebagai suami istri di tengah kesibukan masing-masing sebagai anggota dewan,” ujar Yoyok.
Pada wisuda kali ini, Untag Semarang meluluskan total 934 mahasiswa yang terdiri dari Program Diploma III (D3) sebanyak 80 orang, Program Sarjana (S1) 762 orang, Program Magister (S2) 79 orang, dan Program Doktor (S3) 13 orang.
Rektor Suparjo mengatakan, kampus terus mendorong peningkatan kompetensi lulusan, termasuk memperluas akses pendidikan bagi kalangan pekerja dan profesional.
“Tahun ini lebih banyak wisuda kelas karyawan. Kami mempercepat karena banyak karyawan biasanya agak terlambat menyelesaikan studi. Sekarang kami dorong lebih cepat dengan kerja sama perusahaan,” ujarnya.
Menurutnya, perguruan tinggi saat ini tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik, tetapi juga harus mampu mencetak individu yang adaptif, kolaboratif, dan siap menghadapi tantangan global.
“Dunia hari ini membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas secara individual, tetapi juga mampu membangun jembatan, merajut kemitraan, dan menggerakkan kolektif menuju tujuan bersama,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Suparjo juga menyampaikan pesan khusus kepada seluruh wisudawan agar terus belajar dan menjaga integritas setelah menyelesaikan pendidikan.
Kepada lulusan sarjana, dia berpesan agar menjadi pribadi adaptif, inovatif, dan mampu bekerja sama lintas profesi maupun budaya.
Sementara kepada lulusan magister dan doktor, dia mendorong agar terus mengembangkan penelitian dan aktif dalam jejaring akademik internasional guna menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.
“Gelar Doktor bukanlah sebuah mahkota untuk dibanggakan, melainkan tanggung jawab mulia untuk menjadi penerang ilmu pengetahuan bagi masyarakat, bangsa, dan dunia,” tegasnya.
Kabupaten Pati bersama sang istri, anggota DPRD Jateng Kartina Sukawati dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.
“Ini contoh yang sangat baik bahwa pendidikan itu bisa ditempuh siapa saja selama punya niat dan semangat.”
“Mereka membuktikan usia bukan halangan untuk terus belajar,” k
atanya.
Yoyok Sukawi juga melihat kekompakan pasangan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membuat keduanya mampu bertahan hingga akhir studi doktoral.
“Saya melihat mereka saling mendukung satu sama lain. Itu yang luar biasa. Ketika dijalani bersama, perjuangan berat pun bisa terasa lebih ringan,” ungkapnya
Reporter: Revan
Editor: A. Muhammad