
WARTAPHOTO.NET. PATI – Bagi sebagian orang, terjebak di jurusan kuliah yang tidak diminati adalah sebuah akhir dari mimpi. Namun bagi Alfian Candra Lukmana (30), “salah jurusan” justru menjadi titik balik untuk menemukan takdirnya: menjadi seorang wirausahawan yang mampu membuka lapangan pekerjaan bagi pemuda di desanya.
Pria asal Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati ini dulunya adalah mahasiswa Pendidikan Matematika di sebuah kampus swasta di Semarang. Ia mencoba bertahan di kampus meski hatinya kerap menolak. Hal itu ia lakukan untuk menuruti kemauan orang tua yang berprofesi sebagai pendidik.
“Saya masuk jurusan matematika karena menuruti keinginan orang tua. Tapi karena dari awal tidak sesuai passion, saya sama sekali tidak menikmati proses kuliah,” jelas dia saat ditemui Wartaphoto.net di studionya, Tawon Apparel, Senin (25/5/2026).
Alih-alih menyerah pada keadaan, Alfian memilih mencari pelarian yang produktif. Sejak kuliah, ia sudah pandai memanfaatkan peluang di dunia bisnis. Mulai dari jasa foto pernikahan hingga akhirnya tertarik di dunia sablon kaus.
Usai menyandang gelar sarjana pendidikan pada 2018, Alfian tidak lantas menjadi pengajar. Ia justru memulai bisnis dari nol sebagai makelar (broker) sablon. Enam bulan lamanya ia memutar otak tanpa modal alat, hingga akhirnya pesanan yang membeludak memaksa Alfian untuk mandiri.
Bermodal nekat dan BPKB motor, ia mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp 10 juta untuk membeli alat sablon. Saat itulah, sang ayah memberikan sebuah nama yang kemudian menjadi “jimat” keberuntungannya: Tawon Apparel.
“Nama itu Bapak yang buat. Filosofinya, tawon (lebah) itu hanya mengambil yang baik seperti nektar bunga, dan mengeluarkan yang baik pula berupa madu. Saya ingin usaha ini membawa keberkahan seperti itu,” ungkap Alfian.
Secara bertahap besaran pinjaman juga ia naikkan jadi Rp 25 juta, kemudian Rp 50 juta. Dana KUR BRI itu ia gunakan untuk menambah alat agar bisa meningkatkan kapasitas produksi. Berkat hubungan kemitraan yang sukses ini, foto wajah Alfian sempat dipajang di banner kantor BRI Unit Kayen sebagai sosok Pemuda Inovatif.
Penambahan alat ini pun berdampak positif. Dari kapasitas awal yang hanya ratusan kaus, kini Tawon Apparel mampu memproduksi 1.500 hingga 2.000 potong pakaian per bulan. Ia menerima pesanan mulai dari kaus komunitas, jersei, hingga hoodie.
Harga yang ditawarkan cukup bervariasi. Untuk pembuatan kaus dibanderol mulai dari Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu, sedangkan untuk jersei dipatok mulai dari Rp 150 ribu.
Dengan optimalisasi pemasaran digital melalui Facebook, Instagram, dan TikTok, karya pemuda Kayen ini bahkan kian melanglang buana. Pakaian produksinya kerap dipesan oleh komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan, Malaysia, Singapura, hingga Korea Selatan.
Perjalanan Alfian tidak selalu mulus. Saat pandemi Covid-19 menghantam pada 2020 lalu, bisnisnya nyaris mati suri. Omzetnya anjlok hingga 75 persen karena absennya berbagai acara publik. Demi menyambung hidup dan mempertahankan bisnis, Alfian bahkan sempat menyambi sebagai fasilitator program jambanisasi dari Kementerian PUPR.
Namun, badai pasti berlalu. Kini setelah situasi kembali normal, Tawon Apparel bangkit dan menggeliat lebih hebat. Bahkan, kesuksesan yang didapat Alfian tidak dia nikmati sendiri.
Sesuai filosofi lebah yang selalu memberi manfaat bagi lingkungan sekitar, Alfian kini mempekerjakan enam orang karyawan yang semuanya merupakan warga lokal Kayen. Ia sengaja merangkul para pemuda dari golongan kurang mampu agar mereka memiliki keterampilan dan penghasilan. Tak hanya memberi upah, Alfian bahkan memfasilitasi mereka dengan kendaraan roda dua sebagai operasional untuk kelancaran bekerja.
Dari hasil keringatnya di dunia sablon, pria 30 tahun ini kini sudah mampu membeli rumah sendiri, membiayai pernikahannya, dan menghidupi keluarga kecilnya dengan satu anak.

Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, menyampaikan bahwa KUR adalah alat BRI untuk membantu masyarakat. Tak terkecuali, disalurkan untuk para pemuda yang mempuyai usaha agar semakin berkembang.
“Anak muda punya ide, punya kegiatan ekonomi, dan kami siap bantu. Jadi anak muda tidak perlu khawatir idenya tidak dapat dukungan. BRI sangat mendukung ide kreatif keekonomian anak-anak muda usia produktif,” ucap pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini.
Adanya penyaluran pembiayaan dari perbankan untuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mendapatkan apresiasi dari kalangan akademisi. Anis Fittria, Dosen Kewirausahaan di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengatakan, permodalan bagi UMKM merupakan faktor fundamental dalam meningkatkan kapasitas produksi, daya saing, dan keberlanjutan usaha.
Menurut dia, akses pembiayaan yang mudah dan terjangkau dapat mengurangi financial constraint yang selama ini menjadi hambatan utama pelaku usaha kecil. Kehadiran skema pembiayaan dari lembaga perbankan maupun program pemerintah memberi peluang bagi UMKM untuk naik kelas, meningkatkan produktivitas, serta membuka lapangan kerja baru.
“Namun demikian, efektivitas permodalan tetap harus diiringi dengan pendampingan manajemen usaha dan literasi keuangan agar dana yang diperoleh mampu menghasilkan,” kata dia saat dihubungi Wartaphoto.net.
Alfian adalah bukti bahwa lembar ijazah mungkin bisa menyenangkan orang tua, namun keberanian untuk mengejar passion dan konsistensilah yang akhirnya mampu mengubah nasib diri sendiri, sekaligus masa depan pemuda di sekelilingnya.
Reporter: Angga
Editor: Revan Zaen