16
September
2026
Rabu - : WIB

Museum Batik Sudewi Pati: Lestarikan Wastra Batik Bakaran dengan Dukungan Perbankan

wartaphoto
Seorang pengunjung Museum Batik Bakaran Sudewi sedang memilih kain batik untuk dibeli

WARTAPHOTO.NET. PATI – Pada masa lalu, orang harus menyusuri gang demi gang di Desa Bakaran Wetan dan Bakaran Kulon, Juwana, Pati, kemudian mengetuk pintu rumah para pembatik satu per satu hanya untuk melihat bermacam motif batik tulis bakaran asli.

Kini, ratusan helai wastra mahakarya adiluhung yang menyimpan detak sejarah sejak era Majapahit itu telah bersatu, berjejer anggun di dalam Museum Batik Bakaran Sudewi, Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati.

Dinding dan etalase museum ini seolah bernyawa, bukan sekadar memamerkan kain dengan beraneka motif cantik, melainkan juga menjadi panggung bagi peradaban yang menolak punah digilas zaman.

Berada di dalam museum yang berdiri sejak 9 Oktober 2022 ini, pengunjung bisa menikmati detail kedalaman seni batik tulis lokal yang tidak bisa ditiru oleh mesin cetak pabrikan.

Menurut Kepala Desa Bakaran Wetan, Wahyu Supriyo, batik bakaran menyimpan nilai historis yang amat dalam. Warisan adiluhung ini telah mengalir turun-temurun dari era leluhur, sejak zaman Majapahit. Nilai sejarah yang mengakar kuat itulah yang membuat Batik Tulis Bakaran resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

“Sebagai generasi penerus sekaligus pemerintah desa, kami mengemban kewajiban untuk memfasilitasi pelestariannya. Salah satu langkah nyata yang kami lakukan adalah dengan mendirikan museum ini,” jelas Wahyu kepada Wartaphoto.net, Kamis (28/5/2026).

Pemerintah Desa Bakaran Wetan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Makmur Lestari, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dan desa wisata berhasil menyatukan karya dari 13 perajin lokal, baik dari Bakaran Wetan maupun Bakaran Kulon, ke dalam satu ruang yang representatif.

Seorang pengunjung Museum Batik Bakaran sedang memilih batik untuk dibeli, Kamis (28/5/2026)

Di antara ratusan kain yang memenuhi ruangan museum, motif Mina Tani menjadi primadona yang paling memikat pandangan. Guratan pola remekan (retakan) yang menjadi ciri khas Batik Bakaran tampak begitu eksotis. Motif yang melambangkan kemakmuran bumi Pati ini tidak sekadar dipajang, tetapi di bawahnya tertera secarik kertas yang menjelaskan filosofi mendalam di balik pembuatannya.

Keindahan visual inilah yang membuat kain di museum ini bernilai tinggi. Dibanderol mulai Rp100 ribu hingga Rp700 ribu per lembar, mahakarya ini kini bahkan telah dijadikan seragam resmi ASN di Kabupaten Pati.

Museum Batik Sudewi buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 20.00 WIB. Selain pajangan kain, suasana edukasi museum terasa semakin kental dengan hadirnya pajangan peralatan membatik tradisional. Mulai dari canting, gawangan kayu, hingga infografis sembilan tahapan membatik yang kerap menjadi pusat perhatian rombongan anak sekolah.

Ada pula sesuatu yang menarik ketika transaksi terjadi di sudut ruangan. Di sinilah peran Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui program Desa BRILiaN terasa begitu nyata, memodernisasi layanan tanpa merusak estetika tradisional di sekitarnya.

Saat seorang pengunjung terpikat oleh salah satu kain, mereka tidak perlu lagi risau merogoh dompet mencari lembaran uang tunai. Cukup mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi perbankan, dan memindai QRIS BRI yang tersedia di meja kasir.

“Di zaman sekarang, kita tidak bisa memungkiri bahwa arah transaksi sudah beralih dari tunai ke digital. Sejak desa ini menjadi Desa BRILiaN, Museum Sudewi dilengkapi dengan fasilitas QRIS BRI untuk pembayaran nontunai yang kini sangat diminati pembeli,” ucap Wahyu.

Bagi dia, museum yang padat dengan karya seni ini adalah benteng pertahanan untuk menjaga agar batik tulis manual tidak punah digilas zaman. Di sisi lain, BRI melalui program Desa BRILiaN hadir sebagai mitra strategis yang memastikan benteng tersebut memiliki fondasi ekonomi yang kokoh dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Dalam satu bulan, Museum Batik Bakaran Sudewi mampu menjual puluhan hingga ratusan kain batik, di mana mayoritas transaksi kini dilakukan secara nontunai melalui QRIS.

Selain bantuan infrastruktur keuangan digital melalui QRIS, program Desa BRILiaN juga mendukung akses permodalan bagi para perajin batik.

Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) membantu para UMKM perajin batik untuk mengembangkan bisnis. Dengan demikian, ekosistem perekonomian batik bakaran pun bisa terjaga dengan baik.

Direktur BUMDes Makmur Lestari Bakaran Wetan, Sutrisno, mengatakan bahwa perajin batik difasilitasi dan merasa dimudahkan untuk mendapat dukungan permodalan.

Satu di antara pelaku usaha produksi batik di Bakaran Wetan yang mendapatkan permodalan dari BRI adalah Heru Utomo. Perajin batik dengan produk bermerek Satriatama ini merupakan debitur KUR.

“Saya ambil KUR BRI untuk tambahan modal. Sebab usaha batik memang membutuhkan banyak modal. Pertama kali saya ambil KUR tahun 2018, sebesar Rp 25 juta. Setelah lunas, saya ambil lagi Rp 25 juta,” kata dia.

Lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR), BRI juga mendukung festival kebudayaan yang diadakan pihak desa, di antaranya Festival Batik Bakaran.

Area Head BRI Pati RO Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, saat Memberikan Keterangan kepada Wartaphoto di Ruang Kerjanya

Komitmen BRI dalam memberdayakan masyarakat desa ditegaskan oleh Ahmad Muflihin Taiyeb, Area Head (kepala area) BRI Pati Regional Office (kantor wilayah) Semarang. Ia menjelaskan bahwa dalam upaya memberdayakan masyarakat, BRI hadir hingga ke tingkat desa di 21 kecamatan se-Kabupaten Pati melalui jaringan 41 BRI Unit.

“Dengan kekuatan sekitar 545 pekerja, kami melayani hampir 1,5 juta penduduk Pati. Kehadiran kami di desa-desa tersebut membawa berbagai inisiatif strategis, salah satunya melalui program Desa BRILiaN,” ujar pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini.

Sebagai informasi, Desa BRILiaN adalah program inkubasi dan pemberdayaan desa unggulan dari Bank BRI yang berfokus pada empat pilar utama, yakni menjadikan BUMDes sebagai motor penggerak ekonomi, penerapan digitalisasi, kewirausahaan, dan keberlanjutan. Program ini diselenggarakan untuk mempercepat transformasi desa berbasis teknologi dan penguatan ekonomi masyarakat.

Menurut Dosen Kewirausahaan di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Anis Fittria, program Desa BRILiaN merupakan bentuk pendekatan pembangunan ekonomi berbasis komunitas yang menekankan pada pemberdayaan potensi desa secara berkelanjutan. Secara akademik, konsep ini sejalan dengan teori pembangunan partisipatif.

“Desa BRILiaN tidak hanya memperkuat kelembagaan ekonomi desa, tetapi juga mendorong digitalisasi, inovasi usaha, dan pengembangan kewirausahaan lokal. Dampak ekonominya dapat terlihat dari meningkatnya kapasitas sumber daya manusia desa, tumbuhnya usaha produktif, serta terciptanya kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal,” kata Anis saat dihubungi Wartaphoto.net.

Melalui adaptasi transaksi digital dan inklusi keuangan bagi para pelaku usaha batik, wastra tradisional warisan leluhur di Bakaran bisa tetap lestari, hidup berdampingan dengan ekosistem perbankan modern yang brilian.

Reporter: Angga
Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close