16
September
2026
Rabu - : WIB

Di Desa Bakaran Wetan Pati, Tradisi dan Ekosistem Keuangan Modern Berjalan Beriringan

wartaphoto
Agen BRILink yang Ada di Taman Batik Bakaran Tampak Melayani Warga

WARTAPHOTO.NET. PATI – Di sebuah desa yang dikenal sebagai rahim batik tulis di Bumi Mina Tani, jemari terampil para perajin terus menggoreskan canting demi menyambung warisan leluhur.

Seiring perkembangan zaman, kini denyut perekonomian di desa bernama Bakaran Wetan yang terletak di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, ini tak hanya berputar di antara kain dan pewarna alami.

Sejak 2024, sebuah papan penanda bertuliskan “Agen BRILink” berdiri pada salah satu kios di Taman Batik Bakaran. Dari tempat sederhana itu, puluhan transaksi keuangan masyarakat desa berputar setiap bulannya, menjadi jembatan modernitas yang memudahkan hidup warga setempat.

Kehadiran Agen BRILink di Desa Bakaran Wetan sukses memangkas jarak dan biaya transaksi perbankan bagi masyarakat pesisir. Integrasi layanan keuangan digital di pusat kerajinan batik tulis tradisional ini tidak hanya mempermudah urusan domestik warga, tetapi juga mempercepat terbentuknya ekosistem kemandirian ekonomi pedesaan.

Sebelum transformasi digital ini masuk, urusan membayar tagihan bulanan atau transfer uang sering kali menyita waktu dan ongkos transportasi yang cukup besar bagi warga desa yang berlokasi di pesisir utara Jawa Tengah ini. Dahulu, jauhnya jarak ke kantor cabang perbankan menjadi persoalan. Namun kini, kendala tersebut perlahan hilang.

Penjaga BRILink di Taman Batik Bakaran saat Melayani Warga yang Hendak Membayar Tagihan Internet

Tatak, salah seorang warga Bakaran Wetan, menceritakan bagaimana rutinitas keuangannya berubah total dalam dua tahun terakhir semenjak memanfaatkan layanan BRILink.

“Sejak ada BRILink di Taman Batik Bakaran, semua urusan jadi serba mudah. Saya pribadi paling sering pakai untuk bayar transaksi BRIVA (BRI Virtual Account). Tidak perlu jauh-jauh lagi, cukup jalan kaki sebentar, semua beres,” ungkap dia Kepada Wartaphoto.net di Taman Batik Bakaran, Kamis (28/5/2026).

Manfaat nyata ini tak hanya dirasakan Tatak, tetapi juga oleh banyak warga desa lainnya. Hal ini tercermin dari tingginya aktivitas transaksi. Setiap bulan, Agen BRILink di Taman Batik Bakaran mencatat rata-rata 50 hingga 60 transaksi. Mobilitas keuangan tersebut mencakup pembayaran iuran BPJS Kesehatan oleh ibu rumah tangga, pelunasan tagihan air PDAM, hingga transaksi BRIVA oleh para pelaku usaha lokal untuk keperluan bisnis mereka.

Kehadiran Agen BRILink di jantung desa ini bukan sebuah kebetulan. Kepala Desa Bakaran Wetan, Wahyu Supriyo, menjelaskan bahwa kemudahan finansial ini merupakan buah dari komitmen panjang penataan desa. Bakaran Wetan sendiri telah didapuk sebagai salah satu Desa BRILiaN, sebuah program inkubasi dan pemberdayaan desa unggulan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

“Adanya BRILink ini merupakan bentuk pendampingan nyata dari BRI untuk desa kami. Sebagai Desa BRILiaN, kami tidak hanya didorong untuk maju dari sektor wisata saja, tetapi juga kemandirian ekosistem digital,” kata dia.

Wahyu menambahkan, integrasi layanan perbankan di area publik seperti Taman Batik Bakaran ini terbukti efektif. Warga bisa menikmati suasana taman sambil bersosialisasi dan menyelesaikan urusan transaksi keuangan mereka.

Dukungan BRI untuk Bakaran Wetan ternyata melangkah lebih jauh dari sekadar urusan mesin gesek kartu atau transaksi digital. Sadar bahwa fondasi utama desa ini adalah keluhuran budayanya, BRI turut hadir menjaga eksistensi tradisi lokal agar tidak padam digilas zaman.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR), BRI secara konsisten memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya setempat. Salah satunya diwujudkan lewat dukungan nyata pada pergelaran akbar tahunan, Festival Batik Bakaran.

Lewat festival tersebut, wastra batik bakaran yang memiliki ciri khas goresan remekan (retakan) eksotis kembali merayakan kejayaannya, sekaligus menggerakkan roda ekonomi para perajin.

Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, menyampaikan bahwa pihaknya hadir hingga ke desa-desa salah satunya melalui Agen BRILink. Menurutnya, agen-agen ini berfungsi mendekatkan pelayanan perbankan kepada masyarakat desa.

“Jadi kami bisa menjangkau daerah terjauh. Kalau mereka mau mengambil uang tunai, tidak perlu ke ATM. Agen BRILink bisa membantu masyarakat setempat,” ungkap dia.

Pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini menjelaskan bahwa Agen BRILink dibentuk oleh BRI untuk memudahkan kegiatan transaksi sehari-hari masyarakat desa.

“Kami memberdayakan Agen BRILink untuk membantu masyarakat desa. Yang kami agak surprise (terkejut) itu, agen BRILink bisa melakukan 1000 sampai 2000 transaksi per bulan,” jelas pria yang akrab disapa Iin ini.

Iin menambahkan, Agen BRILink kini mampu menghidupi diri sendiri karena masyarakat sangat membutuhkan kehadiran mereka di desa. Keberadaan agen ini membuat warga tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh hanya untuk pergi ke ATM.

“Jadi agen bisa menghidupi diri sendiri karena masyarakat butuh agen hadir di desa daripada mereka harus naik sepeda, becak, atau naik kendaraan lain ke ATM. Lewat BRILink juga bisa setor tunai. Misal ada anak desa kuliah di Jogja, Jakarta, itu tidak perlu jauh-jauh ke kota, cukup lewat agen BRILink sudah bisa dibantu,” imbuh dia.

Hadirnya BRILink di wilayah pelosok desa juga mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Salah satunya datang dari Dosen Kewirausahaan di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Anis Fittria.

Menurut Anis, BRI melalui program BRILink menunjukkan transformasi layanan keuangan yang semakin inklusif hingga ke wilayah pedesaan. Dari perspektif ekonomi pembangunan, BRILink mampu menurunkan biaya transaksi masyarakat, memperluas akses perbankan, serta mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan.

“Agen BRILink juga menciptakan efek multiplier bagi ekonomi lokal karena masyarakat tidak lagi bergantung pada akses perbankan di kota besar. Dalam jangka panjang, model branchless banking seperti ini memperkuat ekosistem ekonomi digital dan mempercepat pemerataan pembangunan,” jelas dia saat dihubungi Wartaphoto.net.

Melalui sinergi program Desa BRILiaN dan aktivitas Agen BRILink, di Desa Bakaran Wetan, masa lalu dan masa depan kini berjalan beriringan. Di satu sisi, canting tradisional tetap digoreskan di atas kain katun, di sisi lain, ponsel pintar dan Agen BRILink siap sedia mengamankan perputaran rupiah masyarakat. Sebuah potret ideal tentang bagaimana sebuah desa wisata mampu mempertahankan identitas budaya sembari tegak berdiri di atas fondasi ekonomi modern yang brilian.

Reporter: Angga
Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close