16
September
2026
Rabu - : WIB

Bawa Ilmu Sinematografi dari Ibu Kota Masuk ke Desa, Syafiq Dirikan Demistri Picture di Pati

Wardhani tampak serius saat mengedit foto pernikahan milik klien di ruang kerjanya. (Foto: Angga Saputra/WP)

WARTAPHOTO.NET. PATI – Bagi sebagian orang, meninggalkan karier cemerlang di ibu kota berarti menyia-nyiakan kesempatan dan membuang peluang. Syafiq Wardhani Dausat (34) menyadari itu. Namun, demi merajut mimpi yang lebih besar, dengan mantap dia meninggalkan segala gemerlap dan kenyamanan Jakarta untuk pulang ke tanah kelahiran.

Pemuda kelahiran 1992 asal Desa Ngablak, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati ini hendak membuktikan bahwa ruang kreativitas tidak terbatas oleh sekat-sekat kota metropolitan.

Sebelum memutuskan pulang ke Pati pada 2022, lulusan salah satu kampus swasta di Semarang ini berkecimpung dalam industri kreatif di Jakarta sejak 2018. Pengalaman profesionalnya tidak main-main. Syafiq berkecimpung di balik layar dunia pertelevisian dan layar lebar. Dia bekerja di beberapa rumah produksi atau production house (PH). Di antaranya MNC Pictures, Starvision, hingga Unlimited Production. Di beberapa PH ternama itu, dia terlibat memproduksi berbagai sinetron dan drama populer.

Pada akhirnya, keinginan untuk berdikari lewat wirausaha membuatnya mengambil keputusan besar empat tahun lalu: menyudahi masa perantauan dan pulang ke Bumi Mina Tani.

Berbekal ilmu sinematografi yang ia reguk dari pengalaman di ibu kota, Syafiq merintis usaha jasa fotografi dan videografi profesional di Pati dengan mengibarkan bendera Demistri Picture.

Syafiq tampak serius saat mengedit foto pernikahan milik kliennya. Detail demi detail disempurnakan demi memberikan hasil terbaik bagi momen sakral sang pengantin. (Foto: Angga Saputra/WP)

Syafiq membidik pasar yang luas, mulai dari dokumentasi pernikahan (wedding), pembuatan konten branding untuk kafe-kafe lokal yang sedang menjamur, hingga produksi video konten untuk instansi pemerintahan.

Namun, awalnya jalan Syafiq dalam berbisnis tidak langsung mulus. Dia menceritakan bahwa pada masa-masa awal, untuk mendapat pekerjaan dia lebih sering mengandalkan ajakan rekan sejawat.

“Sebelum usaha berkembang seperti sekarang, dulu saya cuma mengandalkan kerja freelance (pekerjaan lepas), ikut proyek teman-teman,” kata Syafiq kepada Wartaphoto, Rabu (17/6/2026).

Dalam perjalanan dia menyadari, jika ingin mendapat klien sendiri dan membuat bisnisnya naik kelas, ia juga harus meningkatkan kualitas alat penunjang operasional.

Namun, memperbarui peralatan kamera, lensa, hingga alat pencahayaan berkualitas standar sinema membutuhkan modal tidak sedikit.

Beruntung, Syafiq menemukan solusi finansial yang tepat sasaran. Demi merealisasikan target upgrade peralatan kerja, Syafiq mengambil langkah strategis dengan memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Besaran modal yang dia dapat meningkat secara bertahap seiring pertumbuhan skala bisnisnya.

Pada 2023, Syafiq memberanikan diri mengajukan KUR BRI sebesar Rp20 juta yang sepenuhnya dialokasikan untuk penambahan inventaris alat. Merasakan dampak positif dari skema kredit yang meringankan pelaku usaha mikro, ia kembali mengakses KUR BRI pada 2025. Nominalnya meningkat jadi Rp30 juta demi menyokong kebutuhan alat produksi yang makin canggih.

Syafiq mengakui bahwa dukungan permodalan tersebut menjadi titik balik yang krusial bagi Demistri Picture. Menurutnya, tambahan modal dari KUR BRI sangat membantu dalam melakukan peningkatan alat produksi, sehingga perlahan ia bisa keluar dari zona freelance dan mulai dipercaya menggarap proyek dari klien secara mandiri.

Keputusan Syafiq melakukan investasi alat di waktu yang tepat berbuah manis. Dengan kualitas visual yang setara dengan tangkapan layar kaca, Demistri Picture mulai kebanjiran pesanan pekerjaan, terutama saat memasuki bulan-bulan dalam kalender penanggalan Jawa yang diyakini “penuh berkah” untuk menggelar hajatan.

Syafiq mengungkapkan, setiap memasuki bulan Besar (Zulhijah), permintaan jasa foto dan video pernikahan selalu melonjak. Dalam satu bulan “musim nikah” tersebut, Demistri Picture bahkan mampu menggarap hingga lima proyek dokumentasi pernikahan. Untuk jasa foto wedding maupun video sinematik, dia menawarkan harga mulai Rp1,8 juta hingga Rp2,5 juta. Dengan spesialisasi tersebutlah Demistri Picture mampu terus bertahan dan bertumbuh hingga kini.

Area Head BRI Pati RO Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, saat Memberikan Keterangan kepada Wartaphoto di Ruang Kerjanya. (Foto: Angga Saputra/WP)

Menurut Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, KUR merupakan instrumen BRI untuk membantu masyarakat. Program ini juga menyasar para wirausahawan muda agar bisnis mereka dapat semakin berkembang.

“Kami siap membantu anak-anak muda yang punya ide dan punya kegiatan ekonomi. Maka anak muda tidak perlu khawatir idenya tidak mendapat dukungan. BRI sangat mendukung ide kreatif keekonomian anak-anak muda usia produktif,” ucap pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini.

Dikutip dari siaran pers BRI, hingga April 2026 bank pelat merah ini berhasil menyalurkan KUR sebesar Rp65,95 triliun kepada sekitar 1,3 juta debitur di seluruh Indonesia. Syafiq beruntung bisa menjadi satu di antara jutaan pelaku usaha yang merasakan manfaat program ini.

Adanya pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Salah satunya dari Suharno, dosen Ekonomi Makro di Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga.

Dia menyebut, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia dengan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Menurutnya, berdasarkan data yang secara konsisten dipublikasikan Kementerian Koperasi dan UKM, UMKM juga menyerap mayoritas tenaga kerja nasional.

Namun, di sisi lain, Suharno menyebut, berbagai studi menunjukkan bahwa keterbatasan modal masih menjadi salah satu kendala utama pengembangan UMKM.

Di sinilah lembaga perbankan perlu mengambil peran dalam memberikan bantuan permodalan bagi UMKM yang notabene merupakan penyokong perekonomian bangsa.

“Dalam teori pertumbuhan usaha kecil, modal merupakan syarat perlu (necessary condition), tetapi bukan syarat cukup (sufficient condition). Modal memungkinkan UMKM meningkatkan kapasitas produksi, membeli teknologi, dan memperluas pasar. Oleh karena itu, akses pembiayaan menjadi instrumen penting dalam pembangunan ekonomi rakyat,” kata dia kepada Wartaphoto.

Namun demikian, lanjut Suharno, kegagalan banyak UMKM menunjukkan bahwa masalah utama sering kali bukan kekurangan modal semata. Literasi keuangan yang rendah, manajemen usaha yang lemah, dan keterbatasan akses pasar juga sering menjadi penyebab utama stagnasi usaha.

“Oleh karena itu, kebijakan permodalan yang tidak disertai pendampingan berisiko menciptakan ketergantungan pembiayaan tanpa menghasilkan peningkatan produktivitas,” ucap dia.

Dalam hal ini, program KUR BRI memiliki keunggulan karena selain memberikan suntikan modal usaha juga menyediakan pendampingan bagi UMKM. Di antaranya melalui perantara para mantri (tenaga pemasar mikro) yang juga berperan sebagai penasihat finansial (financial advisor).

Dampak nyatanya telah dirasakan oleh Syafiq. Dari sebuah desa di Kecamatan Cluwak, dia tidak hanya berhasil menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri, tetapi juga membawa standar sinema Jakarta ke dalam momen-momen sakral masyarakat Pati. Melalui ketekunan, keahlian, dan kejeliannya memanfaatkan stimulus modal dari KUR BRI, Demistri Picture kini mantap berdiri sebagai salah satu vendor dokumentasi yang diperhitungkan di Bumi Mina Tani.

Reporter: Angga Saputra
Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close