
WARTAPHOTO.NET. PATI – Bagi pemuda bernama M. Hasan Basri, bangunan tua atau gudang kosong bukan sekadar sudut usang yang berdebu. Bak Raja Midas yang bisa mengubah apa pun yang dia sentuh menjadi emas, sebuah tempat yang terabaikan menjelma menjadi ruang kreatif tempat anak-anak muda berkumpul dan memutar roda ekonomi.
Pria kelahiran 1992 yang akrab disapa Aan ini membuktikan bahwa latar belakangnya sebagai seorang santri bukan halangan untuk menjadi wirausahawan yang jeli melihat peluang. Alumnus salah satu pesantren di Desa Kajen, Margoyoso, Pati ini, sukses menjalankan dua kedai kopi di tempat yang sebelumnya tidak dilirik siapa pun.

Aan sedang membuatkan kopi pesanan pelanggannya di kedai Benjoe. (Foto: Angga/WP)
Dunia kopi sebenarnya bukan hal baru bagi Aan. Langkah pertamanya di dunia usaha dimulai pada April 2025. Saat itu, bersama seorang temannya, Aan nekat mengubah sebuah rumah kuno di Desa Sekarjalak, Kecamatan Margoyoso, menjadi tempat nongkrong estetik bernama Kedai Seruput Kopi. Berada dekat dengan Kajen yang dikenal sebagai “Kota Santri”-nya Bumi Mina Tani, kedai pertamanya ini segera menjadi tempat favorit para santri dan pemuda setempat untuk bersantai.
Tak puas sampai di situ, insting bisnis Aan kembali bergerak. Pada Desember 2025, ia melirik sebuah gudang kosong di Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Pati. Dengan sentuhan kreativitasnya, gudang itu disulap menjadi tempat ngopi baru yang estetik bernama Kedai Benjoe. Buka dari siang hingga malam hari, Kedai Benjoe kini menjadi magnet baru bagi pemburu ruang komunal di Trangkil.
Keberanian Aan melangkah tentu bukan tanpa perhitungan. Di awal merintis Seruput Kopi, ia memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) senilai Rp 20 juta. Modal itulah yang ia putar dengan bijak untuk mengisi kedai.
Meski kedainya dikonsep dengan atmosfer ala kafe modern yang nyaman, Aan tetap membumi dalam urusan harga. Ia mematok harga yang tergolong ramah di kantong agar bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Sejumlah pemuda tampak asyik nongkrong di Kedai Benjoe milik Aan. (Foto: Angga/WP).
Di Kedai Benjoe Pasucen, misalnya, menu andalan kopi lelet hanya dibanderol Rp 5 ribu. Sementara untuk mencicipi menu kopi modern seperti Tubruk Robusta, Espresso, Americano, hingga Vietnam Drip, pengunjung cukup merogoh kocek Rp 7 ribu hingga Rp 8 ribu saja. Tak hanya kopi, kedai ini juga menyediakan aneka minuman jahe, teh, camilan, hingga menu makanan berat seperti ikan bakar.
“Harga minuman dan camilan di sini sama seperti di angkringan, biar bisa dinikmati semua kalangan, khususnya anak muda. Harga boleh jauh di bawah kafe-kafe biasa, tapi kalau segi rasa, kami jamin bisa bersaing,” ungkap Aan kepada Wartaphoto, Minggu (21/6/2026).
Konsistensi Aan dalam menjaga kualitas rasa dan kenyamanan tempat berbuah manis. Kedai-kedainya selalu ramai dikunjungi pelanggan setia. Salah satunya adalah Husain, pemuda asal Trangkil yang kerap menghabiskan waktu di Kedai Benjoe.
“Biasanya kumpul sama teman-teman di sini. Tempatnya nyaman dan harga makanannya terjangkau. Cocok banget untuk semua kalangan,” ujar Husein.
Menariknya, bisnis Aan kini tidak hanya mandek di dalam area kedai saja. Mengakomodasi kebutuhan masyarakat sekitar, Kedai Benjoe juga mulai merambah ke layanan katering, mulai dari makanan ringan (snack box) hingga makanan berat. Aan kini kerap melayani pesanan untuk berbagai acara besar masyarakat, seperti pengajian hingga pesta hajatan.

Model bisnis dari perdesaan yang dilakoni Aan inilah yang menjadi pilar kekuatan ekonomi di Pati. Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, mengatakan bahwa perekonomian Pati sangat didukung oleh pemberdayaan masyarakat desa, sehingga BRI berkomitmen penuh untuk berperan aktif di dalamnya. Salah satunya melalui penyaluran KUR.
“Saya melihat pengusaha Pati banyak yang merintis langkahnya dari usaha desa,” ucap pria yang akrab disapa Iin tersebut.
Pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini menambahkan, keaktifan BRI di perdesaan dibuktikan dengan masuknya 83 persen portofolio penyaluran kredit di sektor rural (pedesaan). Potensi ini dia nilai sangat strategis mengingat angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pati menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tergolong tinggi di antara daerah tetangga, yakni mencapai Rp43,05 juta per kapita per tahun.
Bisnis kedai kopi yang dilakoni Aan sesuai dengan pandangan Munif Kholifah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, tentang bantuan permodalan.
Saat dihubungi Wartaphoto, Munif menjelaskan bahwa bagi pelaku UMKM, modal dari perbankan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bahan bakar untuk tumbuh dan naik kelas.
“Dengan dukungan finansial yang tepat, pelaku usaha dapat berinovasi tanpa ragu, membuka lapangan kerja baru, dan bertransformasi dari usaha lokal menjadi penggerak utama roda perekonomian nasional,” kata Munif.
Pendapat Munif tentang pentingnya bantuan modal perbankan untuk membuat UMKM bertumbuh telah dibuktikan olen Aan. Sosok santri pengelola dua kedai kopi yang dulunya tempat terbengkalai ini menunjukkan bahwa kejelian melihat peluang dan dukungan finansial yang tepat adalah kombinasi dua hal yang bisa membantu pelaku usaha mewujudkan mimpinya
Reporter: Angga Saputra
Editor: Revan Zaen