
WARTAPHOTO.NET. PATI – Bagi Meyda Dewi Trisbiani, kebaya bukan sekadar pakaian adat yang hanya dikenakan pada momen-momen khusus. Lebih dari itu, baginya busana tradisional itu adalah kanvas kreativitas.
Melalui jenama kebaya besutannya, yakni Meyda Trisbiani Couture, dara kelahiran 1999 asal Pati ini mewujudkan impian sekaligus melestarikan budaya bangsa, bahkan membawanya ke panggung dunia.
Lahir dari seorang ibu yang berprofesi sebagai penjahit, ketertarikannya pada dunia fashion tumbuh sejak dini. Sejak kanak-kanak hingga remaja, Meyda menghabiskan waktu memperhatikan sang ibu mendesain busana. Minat itulah yang membawanya memantapkan langkah mengambil jurusan Tata Busana di SMKN 3 Pati.
Usai lulus SMK pada 2017, perjalanan Meyda merintis usaha tidak langsung berjalan mulus. Sebelum “berjodoh” dengan kebaya, dia sempat mencoba berbagai lini produk busana siap pakai (ready-to-wear), mulai dari tas, sepatu, hingga pakaian jadi.

Meyda Trisbiani Couture yang terletak di Rendole, Muktiharjo, Margorejo, Pati. (Foto: Angga/WP).
Bisnis itu dia jalankan di rumahnya yang beralamat di Perum Rendole Blok C 96, Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Pati. Hingga kini, Meyda masih menjadikan rumahnya sebagai pusat produksi.
“Kendala di penumpukan stok dan perputaran model fashion yang sangat cepat membuat saya sempat kesulitan mengikutinya,” kata Meyda, saat ditemui Wartaphoto di rumah produksinya, Minggu (28/6/2026).
Di sisi lain, sembari merintis bisnis, Meyda juga tetap mengutamakan pendidikan tinggi. Dia menyelesaikan studi S1 di UIN Sunan Kudus. Selepas menyandang gelar sarjana, tekadnya kian bulat. Ia mengambil keputusan besar untuk fokus total menekuni lini busana pesanan khusus (custom fashion).
Keputusan tersebut terbukti tepat. Berbekal kombinasi keahlian teknis dari SMK, wawasan yang matang selama kuliah, serta kejelian membaca pasar, Meyda memilih fokus pada produksi kebaya. Dia menawarkan keunggulan yang jarang dimiliki kompetitor, yakni kualitas detail payet manual buatan tangan (handmade). Untuk tiap helai kebaya, proses pemasangan payetnya membutuhkan waktu hingga satu pekan penuh. Hal ini demi menjaga kerapian yang sempurna.
Kini, diperkuat tim solid beranggotakan 17 orang, Meyda Trisbiani Couture secara konsisten menghasilkan hampir 100 potong kebaya eksklusif setiap bulan. Harga jualnya bervariasi, berkisar antara Rp1 juta hingga Rp5 juta, tergantung tingkat kerumitan dan detail desain.
Uniknya, sistem penjualan Meyda tidak bergerak sendiri. Ia bermitra erat dengan berbagai vendor pernikahan, MUA, event organizer, hingga instansi sekolah dan perkantoran. Kebaya-kebaya kreasinya kini rutin menyuplai berbagai tempat persewaan besar di Indonesia, dengan pasar terbesar di wilayah Solo Raya.

Meyda meninjau timnya yang sedang membuat kebaya pesanan pelanggan. (Foto: Angga/WP)
Pemasaran produk karya Meyda meluas secara organik lewat kekuatan relasi dan hobi traveling-nya. Kebaya bikinannya sudah mencapai tanah Papua. Lebih dari itu, produknya bahkan juga telah menjangkau mancanegara.
“Bisnis saya berkembang karena relasi dari mulut ke mulut sejak zaman SMK. Bahkan tahun lalu, kami alhamdulillah mendapatkan pesanan satu set kebaya pernikahan lengkap dengan beskap prianya untuk pelanggan di Paris,” cerita dia.
Pelanggan tersebut memesan kebaya untuk melangsungkan pernikahan beda budaya di Paris yang notabene dikenal sebagai Ibu Kota Mode Dunia. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa kebaya lokal dari Pati mampu bersaing di panggung internasional.
Di balik keindahan payet dan jangkauan pasar yang mendunia, ada momen krusial di mana Meyda Trisbiani Couture membutuhkan lompatan besar. Industri kreatif yang dinamis menuntut perputaran modal yang sehat agar produksi tidak tersendat dan kualitas bahan baku tetap terjaga.
Pada 2023, langkah strategis dia ambil dengan memanfaatkan dukungan modal dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Rakyat Indonesia (BRI). Melalui program permodalan yang ramah bagi pelaku UMKM ini, Meyda mampu mengatasi tantangan keterbatasan dana untuk meningkatkan skala usaha.
“Saya pernah mendapatkan permodalan (KUR) dari BRI untuk menunjang usaha. Alhamdulillah sangat membantu dalam peningkatan stok produk serta skala produksi yang lebih besar. Kalau untuk nominalnya tidak bisa saya sebut, pokoknya ratusan juta,” ucap Meyda diiringi tawa.
Suntikan modal bernilai ratusan juta rupiah tersebut terbukti menjadi angin segar yang memperkuat fondasi usahanya dalam memenuhi permintaan pasar yang terus mengalir ke bengkel produksinya di Margorejo.

Komitmen bank pelat merah ini dalam menyokong industri kreatif anak muda ditegaskan oleh Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb. Pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini menyatakan kesiapan instansinya untuk terus mendampingi geliat ekonomi generasi muda.
“Kami siap membantu anak-anak muda yang punya ide dan punya kegiatan ekonomi. Anak muda tidak perlu khawatir idenya tidak mendapat dukungan. BRI sangat mendukung ide kreatif keekonomian anak-anak muda usia produktif,” tegas dia.
Dukungan nyata ini tecermin dari masifnya penyaluran modal di tingkat nasional. Dikutip dari siaran pers BRI, hingga April 2026 bank pelat merah ini berhasil menyalurkan KUR sebesar Rp65,95 triliun kepada sekitar 1,3 juta debitur di seluruh Indonesia. Meyda beruntung bisa menjadi satu di antara jutaan pelaku usaha yang merasakan dampak positif dari program pembiayaan ini.
Adanya sinergi kuat antara penyaluran pembiayaan perbankan dan pelaku UMKM seperti Meyda juga menjadi perhatian khusus dari kalangan akademisi.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Munif Kholifah, menjelaskan bahwa bagi pelaku UMKM, modal dari perbankan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah instrumen penting atau “bahan bakar” utama untuk tumbuh dan naik kelas.
“Dengan dukungan finansial yang tepat, pelaku usaha dapat berinovasi tanpa ragu, membuka lapangan kerja baru, dan bertransformasi dari usaha lokal menjadi penggerak utama roda ekonomi nasional,” urai Munif saat dihubungi Wartaphoto.
Meyda membuktikan hal tersebut lewat setiap tusukan jarum dan kilau payet yang dia kerjakan penuh kesabaran. Dia memperlihatkan bahwa khazanah tradisi lokal tak akan lekang oleh waktu jika disentuh dengan inovasi, kerja keras, serta ekosistem keuangan yang suportif seperti yang dihadirkan oleh BRI.
Reporter: Angga Saputra
Editor: Revan Zaen