
WARTAPHOTO.NET. PATI — Menyediakan kopi yang bayarnya cukup dengan selawat dan doa menjadi rahasia di balik kesuksesan usaha kopi milik Mokh. Abdullah Lutfi (33). Berkat konsistensi dan keberkahan “jalur langit” tersebut, bisnis kopi bubuk kemasan miliknya kini sukses merambah pasar luar daerah.
Pria asal Desa Semerak, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati ini merintis usaha kopi kemasan dengan merek “Original Santri” sejak tahun 2019 silam.
Sebagai alumni yang pernah nyantri di Kajen, Pati, Lutfi memang memiliki mentalitas santri yang mandiri. Di awal berdiri, ia hanya fokus pada penjualan kopi kemasan. Namun seiring berjalannya waktu, usahanya kian berkembang hingga ia mampu mendirikan kedai kopi sendiri di rumahnya.
Di kedai tersebut, Lutfi menyediakan produk yang terbilang lengkap. Mulai dari kopi hitam siap minum, biji kopi yang telah dipanggang (roasting), hingga kopi yang sudah digiling halus.

UMKM Pati: Kopi Kemasan Original Santri Milik Abdullah Lutfi
Untuk produk kopi kemasan, ia banderol dengan harga Rp20 ribu per 100 gram dan Rp200 ribu untuk kemasan satu kilogram. Sedangkan untuk secangkir kopi hitam siap minum di kedainya, hanya dijual mulai harga Rp7 ribu saja.
Kini, pemasaran kopi kemasan Original Santri tidak hanya mandek di lokal Pati, tapi sudah merambah ke wilayah eks-Karesidenan Pati, bahkan hingga menjangkau konsumen di Jawa Barat dan Jawa Timur.
Sementara untuk usaha kedainya, lokasi yang dekat dengan kawasan Kajen “Kota Santri” membuat tempat ini menjadi primadona dan jujugan favorit anak-anak pondok pesantren maupun pencinta kopi dari luar kecamatan.
“Setiap hari bisa menjual 25 sampai 50 gelas kopi. Pelanggan memang banyak anak-anak pondok. Ada dari Pondok Kajen dan juga dari pondok Pakis Tayu,” ucap bapak dua anak ini kepada Wartaphoto, Ahad (5/7/2026).
Keunikan cita rasa dan konsep kedai ini diakui oleh Muhlis, salah satu pelanggan asal Kecamatan Tlogowungu. Ia mengaku sengaja datang jauh-jauh karena penasaran dengan konsep bayar pakai doa tersebut, sekaligus menikmati rasa kopinya yang khas.
”Rasa kopinya mantap, pas di lidah. Apalagi konsep hari Jumat yang bayar pakai selawat itu berkah sekali. Jarang ada penjual yang punya niat sedekah sekalian syiar seperti ini, makanya saya bela-belain datang dari Sumbermulyo, Tlogowungu,” ujar Muhlis.
Satu hal unik yang memang melekat kuat pada kedai milik Lutfi adalah adanya program “Kopi Gratis” setiap hari Jumat. Pembeli yang datang tidak perlu membayar uang sepeser pun. Sebagai gantinya, mereka cukup “membayar” dengan membaca selawat atau melangitkan doa untuk keberkahan bersama.
Tidak hanya di kedai, aksi sosial Lutfi juga menyasar acara-acara keagamaan. Bersama komunitasnya yang bernama “Berkah Songo”, ia kerap membagikan hingga 1.000 cup kopi gratis di setiap acara pengajian atau selawatan yang digelar di wilayah Kabupaten Pati.
“Tujuannya, biar usaha semakin berkah. Semoga kopi Original Santri ini pasarnya semakin luas hingga ke luar Jawa,” pungkas Lutfi.
Reporter: Putra
Editor: A. Muhammad