16
September
2026
Rabu - : WIB

Meneladani Perjuangan Mbah Syato, Sang Penjelajah yang ‘Mbabat Alas’ Lahirnya Desa Ngagel Pati

wartaphoto
2026/07/11 pada Berita, Pati, wartaphoto
Haul Mbah Syato, Sang Penjelajah yang ‘Mbabat Alas’ Lahirnya Desa Ngagel Pati

WARTAPHOTO.NET. PATI – Ratusan jemaah memadati kompleks makam Mbah Syato di Dukuh Penggung, Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Pati, pada Jumat (10/7/2026) malam.

Kehadiran masyarakat yang meluap ini menjadi bukti nyata bahwa penghormatan terhadap sosok cikal bakal sekaligus tokoh pendiri Desa Ngagel tersebut tetap melekat kuat di hati warga.

Peringatan haul malam ini menjadi momen refleksi berharga bagi warga setempat untuk kembali menengok lembaran sejarah masa lalu. Ketua Panitia Haul, Ruslan Hadi, mengisahkan kembali bagaimana perjalanan heroik dan spiritual sang tokoh dalam melakukan mbabat alas (membuka lahan baru).

Menurut penuturan Ruslan, perjuangan dakwah dan penjelajahan Mbah Syato berawal dari Desa Bakalan. Dari sana, pengembaraannya berlanjut hingga akhirnya ia memilih menetap, membesarkan wilayah, dan menghabiskan sisa hidupnya sampai wafat di Desa Ngagel.

“Peringatan haul ini adalah bentuk syukur kita atas warisan perjuangan Mbah Syato. Kami berterima kasih atas sumbangsih dan kehadiran para jemaah yang bersama-sama merawat ingatan sejarah ini,” ungkap Ruslan Hadi.

​Nilai-nilai perjuangan Mbah Syato ini juga dipertegas oleh Kepala Desa Ngagel, Suwardi. Ia menekankan bahwa kerukunan dan sikap rendah hati yang ditunjukkan masyarakat saat ini adalah buah dari fondasi kebersamaan yang dulu diletakkan oleh sang leluhur desa.

Oleh karena itu, Suwardi mengingatkan agar keharmonisan yang telah lama terjalin tidak dirusak oleh hal-hal negatif di era modern, seperti maraknya judi online (slot) atau penipuan di media sosial yang mengintai generasi muda.

“Yang terpenting adalah menjaga anak cucu kita dari pengaruh buruk media sosial, serta menjaga kerukunan di tengah masyarakat,” pesan Kades Suwardi.

​Hal tersebut, lanjut Suwardi, dinilai sebagai cara konkret warga masa kini dalam menghargai tanah kelahiran yang telah diperjuangkan dengan darah dan keringat oleh Mbah Syato.

Suasana haul yang khidmat seketika menjadi cair dan hangat ketika pendakwah asal Karangrowo Jakenan, Ki Zaid Pati (KH. Ahmad Muzaidun) bersama Kiai Ahmad Sudarto (Darto Tengil) naik ke atas panggung. Keduanya tampil memukau dengan lantunan selawat yang diiringi musik qasidah gamelan santri.

Sesekali, Ki Zaid Pati dan Darto Tengil melakukan interaksi jenaka dengan jemaah lewat candaan-candaan khasnya. Menggunakan wayang sebagai media dakwahnya yang ikonik, Ki Zaid Pati mengajak seluruh jemaah untuk memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT.

Monggo kita sedaya manut dateng dawuhe ulama, taat ngibadah dateng Allah Ta’ala supadhos selamet dunya akhirat, aamiin Allahuma Aamiin (Mari kita semua patuh pada dawuh ulama, taat beribadah kepada Allah SWT supaya selamat dunia akhirat),” dawuhnya.


Sebagai penutup puncak penghormatan, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi sakral lelang selambu (kain penutup) makam Mbah Syato.

Prosesi ini dipimpin langsung oleh tokoh agama setempat, Kiai Noor Iksan (Mbah Modin). Kain selambu tersebut menjadi rebutan para jemaah yang antusias untuk ngalap berkah (mencari berkah) dari karomah sang pendiri desa. Acara pun berlangsung dengan penuh khidmat dan rasa takzim hingga akhir.

Reporter: Dimas

Editor: Revan Zaen

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close