
PATI | WARTAPHOTO.NET — Surutnya debit air di bendungan karet melahirkan fenomena unik bagi warga Desa Gadingrejo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Kondisi air yang dangkal membuat puluhan ribu ikan sapu-sapu terdampar dan dengan mudah ditangkap oleh warga.
Aktivitas perburuan ikan ini telah berlangsung selama sepekan terakhir. Kehadiran ikan yang melimpah tersebut dimanfaatkan warga setempat sebagai sumber penghasilan tambahan.

Rohman, salah satu warga yang ikut berburu, mengungkapkan bahwa ikan hasil tangkapan tersebut dijual ke pengepul untuk diteruskan ke perusahaan pengolah tepung ikan (trembel).
”Disuruh kirim ke PT, buat trembel atau tepung ikan. Kami ambil gratis,” ujar Rohman, Jumat (4/9/2026).

Warga menjual ikan sapu-sapu tersebut seharga Rp2.500 per kilogram. Tanpa perlu modal karena dapat ditangkap secara bebas, siapa saja diperbolehkan datang ke lokasi untuk mengumpulkan ikan.
”Bebas, siapa saja boleh ke sini. Kami jual Rp2.500 per kilogram,” tambah Rohman.
Bagi warga Desa Gadingrejo dan sekitarnya, keberadaan ikan sapu-sapu yang sebelumnya tidak bernilai kini mendatangkan berkah ekonomi.
Tak hanya menjadi lokasi berburu ikan, surutnya bendungan karet—termasuk area yang berbatasan dengan Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan—juga mendadak populer sebagai tempat berkumpul warga.
Pemandangan alur sungai yang mengering dan surut menjadi daya tarik tersendiri, terutama menjelang matahari terbenam. Informasi mengenai cantiknya pemandangan sore di bendungan ini pun cepat menyebar melalui media sosial.

Novi, warga Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana, mengaku sengaja datang bersama kawannya setelah melihat keramaian lokasi tersebut di platform TikTok.
”Penasaran saja, tahu dari TikTok kalau sungainya kering dan ramai banget. Sambil ngobrol, makan jajan, menikmati angin sepoi-sepoi,” kata Novi.
Meski keberadaan bangkai ikan sapu-sapu yang mati mengeluarkan bau kurang sedap, hal itu tidak menyurutkan niat warga untuk bersantai menikmati suasana sore di pinggir bendungan.
Reporter: Arton
Editor: A. Muhammad.