
WARTAPHOTO.NET. PATI – Kemarau panjang yang terjadi di Kabupaten Pati, berdampak pada sektor pertanian. Kondisi ini membuat hasil panen padi menjadi berkurang.
Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati, Niken Tri Meiningrum mengatakan, produksi gabah di masa tanam (MT) 3 ini mengalami penurunan. Yaitu sekitar 8 500 hektare saja yang bisa panen.
Sementara produksi gabah di MT 1 dan MT 2, rata-rata masih di angka 6 ton per hektare. Bahkan, di wilayah yang irigasinya bagus, ada yang berhasil produksi gabah hingga mencapai 10 ton lebih.
“Di MT tiga pada bulan Agustus ini saja, kita yang panen hanya sekitar 8.500 hektar. Dari 56 ribu sekian hektar. Berarti hanya sedikit yang tidak bisa panen,” kata dia, (4/9/2023).
Menurut dia, penurunan hasil produksi gabah ini dikarenakan tidak adanya pasokan air yang cukup untuk sektor pertanian. Khususnya, di wilayah Pati selatan yang merupakan lahan tadah hujan.
Meksipun produksi gabah mengalami penurunan, namun Niken menyebut jika harga komoditas tersebut justru mengalami peningkatan di musim kemarau ini, yakni mengalami kenaikan Rp1 ribu per kilogramnya.
“MT tiga ini yang jelas tetap mempengaruhi terhadap produksi. Tapi petani bisa diuntungkan dengan harga yang di pasaran sekarang cukup tinggi,” tutur dia.
Niken menyebutkan di MT 1 dan MT 2, harga gabah kering mencapai Rp4.800. “Sekarang diatas Rp5 ribu ke atas sampai Rp6 ribu per kilonya,” tandas dia.
Sementara itu untuk harga beras di wilayah Kabupaten Pati juga merangkak naik di musim kemarau ini. Saat ini harga beras medium menyentuh harga Rp12.500 per kilogramnya. Sementara beras premium seharga Rp14 ribu per kilogram.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Pati, Hadi Santoso mengatakan, kenaikan harga beras ini terjadi sejak beberapa pekan lalu. Menurut dia, ini adalah dampak dari kekeringan yang terjadi di wilayah Pati.
”Dampak kekeringan mengakibatkan panen dan stok berkurang. Saat ini harganya Rp14 ribu untuk premium dan Rp 12,5 ribu untuk medium,” jelas dia.
Dewi (37), salah satu pedagang di Pasar Puri Pati, mengeluhkan kondisi ini. Menurut dia, kenaikan harga beras yang terjadi ini membuat para pedagang kebingungan dalam mengambil keuntungan.
”Belum dijual sudah naik lagi. Kalau dulu baru dengar harga naik masih bisa menjual harga tetap. Tetapi kalau saat ini, saat harga naik harus segera ikut naik juga,” ujar dia.
Salah satu pembeli, Supatmi (60), mengeluhkan adanya kenaikan harga beras ini. Menurutnya, pengeluaran harian akan semakin membengkak.
“Jika harga beras naik, otomoatis uang belanja juga naik. Yang biasanya jatah untuk beli sayur dan lauk, sekarang harus dikurangi untuk membeli beras yang harganya naik,” keluh dia.
Reporter : Putra
Editor : A. Muhammad.