
WARTAPHOTO.NET. PATI – Eko Novin Arifianto (42), seorang pria asal Desa Sumberagung, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, menceritakan pengalamanya menjadi petani tembakau.
Ia menceritakan, dari hasil bertani tembakau, dirinya mampu menguliahkan putrinya, Natasya (18), di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta.
Baginya, hal ini menjadi kebanggaan sekaligus bukti nyata bahwa usaha bertani tembakau mampu meningkatkan taraf hidup keluarga.
“Alhamdulillah, hasil bertani tembakau bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, bahkan lebihnya bisa saya gunakan untuk biaya pendidikan anak. Saat ini anak saya sudah kuliah semester tiga di Polbangtan Yogyakarta,” kata dia, Selasa (30/9/2025).
Novin mengungkapkan, dirinya mulai menanam tembakau pada tahun 2019. Sebelumnya, ia menekuni pertanian hortikultura.
“Sebelumnya petani hortikultura, karena harga pasar tidak menentu, ya, saya beralih ke tembakau,” jelas dia.
Meski hasil panen tembakau tahun ini menurun akibat kemarau basah, Novin tetap bersyukur. Ia mengelola sekitar dua hektare lahan dengan produksi rata-rata empat ton tembakau per musim.
“Tahun ini produksinya sekitar empat ton, jadi produksi tembakau lebih banyak tahun kemarin karena cuaca yang masih diselingi hujan tahun ini,” ungkap dia.
Novin pun merasa tidak lagi kesulitan menjual tembakau berkat sistem kemitraan dengan PT Sadhana Arifnusa, Rembang. Sebab, hasil panennya bisa langsung terserap oleh perusahaan.
“Pasar sudah terjamin, jadi lebih tenang. Sekali setor bisa lima kuintal, dengan harga rata-rata Rp38 ribu sampai Rp40 ribu per kilogram. Dalam seminggu bisa dapat Rp18 juta hingga Rp20 juta,” beber dia.
Novin berharap, ke depan keberadaan program kemitraan ini terus berlanjut agar petani seperti dirinya dapat bertahan menghadapi tantangan harga pasar maupun tingginya cukai rokok yang berdampak pada penyerapan tembakau.
Reporter : Putra
Editor : Revan Zaen