16
September
2026
Rabu - : WIB

Menilik Tradisi Kenduruan di Punden Nyai Ageng Kenduruan Tajungsari Pati

wartaphoto

WARTAPHOTO.NET. PATI – Ratusan warga Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, berkumpul di Punden atau petilasan Nyai Ageng Kenduruan yang berada di Desa Tajungsari, Kecamatan Tlogowungu, pada Kamis (13/11/2025).

Mereka datang dengan membawa ambengan berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya. Makanan yang mereka bawa itu kemudian dimakan bersama-sama usai hajatan.

Diketahui, warga Desa Ngurenrejo tersebut menggelar “Kenduruan”, sebuah tradisi dalam menyambut musim tanam.

“Tradisi tapak tilas Kenduruan merupakan kegiatan rutin kami warga Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati. Tradisi ini kita lestarikan karena merupakan kegiatan yang dilakukan oleh leluhur kita yaitu Ki Ageng Singopadu selaku penggede Ngurenrejo,” kata Sekretaris Desa Ngurenrejo, Sutrisno.

Ia menceritakan, pada zaman dahulu, saat menjelang musim tanam Ki Ageng Singopadu mengunjungi kakaknya yaitu Nyai Ageng Kenduruan untuk meminta izin menggunakan air sungai yang berada di wilayah saudaranya tersebut sebagai irigasi lahan pertanian di Desa Ngurenrejo.

“Ki Ageng Singopadu silaturahim dan meminta doa restu agar masyarakat Ngurenrejo ketika bertani mendapatkan keberkahan, tidak kesulitan soal air karena diketahui di Kenduruan ini ada sumber mata airnya, sedangakan di Ngurenrejo adalah dataran rendah. Sehingga, kebutuhan air untuk musim tanam itu Mbah Singopadu sowan minta doa Nyi Ageng Kenduruan agar ada air yang turun sampai Ngurenrejo,” tutur Sutrisno.

Karena itulah, hingga saat ini warga Ngurenrejo melaksanakan apa yang pernah dilakukan oleh leluhurnya.

“Hingga sekarang kegiatan itu dilestarikan setahun sekali yang dikenal dengan tradisi desa bernama napak tilas Kenduruan Ki Ageng Singopadu,” terang dia.

Sutrisno menjelaskan, tradisi Kenduruan rutin dilaksanakan setiap bulan November.

“Menurut perhitungan, musim labuhan (jelang musim tanam) itu antara Oktober atau November. Sehingga oleh desa ditetapkan bulannya menggunakan masehi, kemudian hari dan tanggalnya menggunakan pedoman hari jawa, yaitu Kamis Wage malam Jumat Kliwon di bulan November,” jelas dia.

Dia menambahkan, tapak tilas ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, dan pihaknya bakal terus nguri-uri tradisi ini.

“Ini jelas sudah ratusan tahun, karena Mbah Singopadu hidup zaman Kadipaten Carangsoka. Beliau patih merangkap jaksa Carangsoka,” tandas dia.

Untuk diketahui, Tambak Tiris juga menjadi tujuan tapak tilas setelah acara doa dan makan bersama di Punden Nyai Ageng Kenduruan. Namun, hanya kepala desa beserta perangkat yang melakukan tapak tilas di tempat tersebut.

Konon, saat itu air sungai tidak bisa mengalir dengan lancar karena terhalang oleh sebuah batu besar. Kemudian, batu itu dipecahkan oleh Ki Ageng Singopadu hingga terbelah menjadi dua seperti teriris.

Seketika, air sungai mengalir melewati tengah-tengah dua batu yang terbelah tersebut. Tempat batu pecah itu bernama Tambak Tiris yang lokasinya berjarak sekitar satu kilometer dari Punden Nyai Ageng Kenduruan.

Ratusan warga Ngurenrejo Wedarijaksa saat doa bersama di Punden Nyai Ageng Kenduruan Tajungsari Tlogowungu, Kamis 13 November 2025

Warga makan bersama-sama usai menggelar doa bersama di Punden Nyai Ageng Kenduruan

Warga saat Napak Tilas di Tambak Tiris usai menggelar doa bersama di Punden Nyai Ageng Kenduruan

Reporter : Putra
Fotografer : Arton
Editor : A. Muhammad

Disalin

Tinggalkan Balasan

copyright wartaphoto.net 2026
MENU
oogle close