
WARTAPHOTO.NET. PATI – Di Desa Ngemplak Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, fajar belum menyingsing. Dingin angin malam pun masih menusuk tulang. Namun bagi Juriyanto, pukul 02.30 WIB adalah alarm untuk memulai langkah di medan perjuangan. Pria 36 tahun ini harus bergegas menuju pasar untuk berjualan kelapa.
Tak ada kata lelah dalam kamus hidupnya. Usai peluh membasahi tubuhnya di pasar, Juriyanto tidak langsung pulang untuk beristirahat. Ia berganti peran menjadi loper koran, mengayuh rezeki hingga ke area Pati Kota yang berjarak belasan kilometer dari kediamannya. Semua itu ia lakukan demi membangun masa depan lebih baik bersama sang istri, Nurul Khoirun Nisa yang seorang guru TK.
Kehidupan awal pernikahan Juriyanto pada 2019 lalu terbilang penuh perjuangan. Hingga 2025, ia dan istri tinggal di rumah kontrakan di wilayah Margoyoso. Sadar bahwa kebutuhan hidup terus meningkat, Juriyanto memutar otak untuk mengembangkan bisnis kelapa milik mertuanya yang semula berjalan apa adanya.
Kelapa-kelapa ia beli dari wilayah Cilacap dan Kebumen, lalu dijualnya kembali dengan kisaran harga Rp10.000 hingga Rp12.000 per buah. Namun, untuk melompat lebih tinggi, ia terbentur masalah klasik, yakni modal.
“Awalnya modal kami sangat terbatas. Kulakan kelapa tidak bisa banyak, jadi omzetnya ya segitu-segitu saja,” kenang bapak satu anak ini saat menceritakan masa-masa sulitnya kepada Wartaphoto, Sabtu (20/6/2026).
Titik terang itu datang pada 2022. Juriyanto memberanikan diri mengambil langkah strategis dengan mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp20 juta. Langkah ini terbukti menjadi akselerator bisnisnya.
Melihat usahanya yang kian sehat dan berkembang, pada tahun 2025 Juriyanto kembali dipercaya untuk mengakses tambahan modal KUR sebesar Rp30 juta. Dukungan finansial dengan bunga yang sangat ringan dan proses yang tidak berbelit-belit ini menjadi bahan bakar utama bagi mesin bisnisnya.
Hasilnya luar biasa. Volume penjualan kelapanya melonjak tajam. Jika awalnya ia hanya mampu menjual 150 buah kelapa per hari, kini Juriyanto rutin memasok hingga 250 buah kelapa setiap harinya.
Menurut Juriyanto, kehadiran solusi permodalan seperti KUR dari lembaga perbankan tepercaya seperti BRI sangat membantu pelaku usaha kecil seperti dirinya untuk berkembang tanpa takut tercekik bunga tinggi. Layanan KUR BRI memang telah lama dikenal sebagai sahabat UMKM berkat prosesnya yang mudah dan strukturnya yang ramah bagi pengusaha lokal.

Berkat kedisiplinan mengelola keuangan dan berkah dari omzet kelapa yang meningkat, tabungan Juriyanto mulai menebal. Namun ia tidak cepat puas. Uang tabungan tersebut ia putar kembali menjadi sumber pendapatan baru.
Kini, Juriyanto memiliki pangkalan gas elpiji 3 kilogram sendiri. Tidak hanya itu, ia juga melebarkan sayap bisnisnya dengan menyewa lahan pertanian ketela di wilayah Jepara.
Puncaknya, mimpi yang dulu sempat terasa mustahil saat masih mengontrak kini menjadi nyata. Dari hasil panen kebun ketela dan akumulasi bisnisnya, Juriyanto akhirnya berhasil mendirikan rumah sendiri untuk keluarga kecilnya. Pekerjaan sampingannya sebagai loper koran pun dia tinggalkan pada akhir 2025 lalu dan kini dia fokus membesarkan bisnis.

Area Head BRI Pati RO Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, saat Ditemui Wartaphoto di Ruang Kerjanya. (Foto: Angga/WP)
Menurut Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, KUR merupakan instrumen utama BRI dalam membantu menggerakkan ekonomi masyarakat. Tak terkecuali, program modal usaha ini juga menyasar para pemuda produktif agar bisnis yang mereka rintis bisa semakin berkembang, persis seperti langkah berani yang diambil oleh Juriyanto.
“Jadi, mereka (anak-anak muda) tidak perlu khawatir idenya tidak mendapat dukungan. BRI sangat mendukung keekonomian anak-anak muda usia produktif,” ucap pria yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini.
Langkah Juriyanto memperluas bisnisnya ternyata sejalan dengan masifnya dukungan perbankan nasional. BRI mencatat, hingga April 2026, tak kurang dari Rp65,95 triliun dana KUR telah disalurkan kepada 1,3 juta pelaku usaha di Indonesia. Dari jutaan orang tersebut, Juriyanto adalah salah satu saksi hidup yang sukses memetik manfaatnya.
Dukungan pembiayaan perbankan bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga memantik apresiasi dari kalangan akademisi. Dosen Kewirausahaan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Anis Fittria, menilai bahwa modal merupakan fondasi krusial bagi pelaku usaha untuk mendongkrak kapasitas produksi, daya saing, hingga menjaga keberlanjutan bisnis mereka.
Akses pembiayaan yang mudah dan ramah kantong, lanjut Anis, terbukti ampuh mengikis kendala finansial yang selama ini kerap menjegal langkah para pelaku usaha kecil. Baginya, kehadiran skema permodalan dari perbankan maupun stimulus pemerintah adalah jembatan bagi UMKM untuk naik kelas, menggenjot produktivitas, sekaligus membuka lapangan kerja baru.
“Namun demikian, efektivitas permodalan ini tetap harus dikawal dengan pendampingan manajemen usaha serta literasi keuangan yang matang. Tujuannya jelas, agar dana yang dikucurkan benar-benar produktif dan menghasilkan,” tegas Anis saat dihubungi Wartaphoto.net.
Juriyanto membuktikan bahwa dengan kerja keras yang dimulai sejak pukul dua pagi, kejelian melihat peluang, serta keberanian mengambil langkah permodalan yang tepat lewat KUR BRI, roda nasib bisa berputar. Dari seorang loper koran yang mengontrak rumah, kini ia berdiri tegak sebagai seorang wirausahawan sukses dan mandiri dari Ngemplak Kidul Pati.
Reporter: Angga Saputra
Editor: Revan Zaen