
WARTAPHOTO.NET. PATI ‐ Aroma sedap cokelat dan pandan akan menyapa siapa saja yang berhenti atau melintas di lampu lalu lintas tepi Jalan Raya Pati-Purwodadi, Desa/Kecamatan Kayen, Pati.
Aroma manis nan menggugah selera itu bersumber dari lapak dagangan milik Hendri Irawan. Di lapak sederhana itu, sang pemuda 27 tahun berupaya membangkitkan kembali geliat penganan tradisional, yakni kue balok, di wilayah Pati Selatan.
Hendri bukanlah sosok berlatar belakang dunia bisnis modern. Ia adalah seorang santri. Jejak pendidikannya kental dengan nuansa religius, mulai dari menimba ilmu di Madrasah Salafiyah Kajen, Margoyoso, hingga melanjutkan mondok di Kudus. Hendri juga sempat mengecap bangku kuliah di salah satu kampus di Pati sebelum akhirnya memilih menyudahi langkahnya di semester empat untuk fokus berwirausaha.

Hendri bersama seorang temannya tampak sibuk membuat kue balok untuk pelanggannya. (Foto: Angga/WP).
Langkah Hendri di dunia kuliner dimulai pada Agustus 2025. Ide tersebut lahir dari ketekunannya berselancar di platform YouTube. Di sana dia mencari peluang usaha yang menjanjikan namun belum menjamur di daerahnya.
“Awal mulanya buka-buka YouTube, mau usaha apa. Dan saya lihat ada orang buat kue balok. Akhirnya latihan di rumah, belajarnya autodidak,” kata Hendri saat ditemui Wartaphoto di lapaknya, Senin (22/6/2026).
Pilihan Hendri jatuh pada kue balok bukan tanpa alasan. Menurutnya, kuliner legendaris khas Jawa Barat ini sebenarnya sempat cukup populer di Kayen pada 2023, namun kemudian redup dan tutup. Melihat celah pasar yang kosong itu, Hendri tertantang untuk menghidupkannya kembali.

Setiap hari, dibantu oleh seorang teman, Hendri mulai menggelar lapak sejak pukul 16.00 hingga 21.00 WIB.
Kesabaran dan racikan autodidaknya berbuah manis. Kini ia mampu menjual sekitar 50 hingga 70 pak kue balok per hari.
Ada dua varian rasa utama yang dia tawarkan, yakni cokelat original dan pandan, yang masing-masing dibanderol Rp15.000 per pak, lengkap dengan aneka pilihan topping, yakni keju, oreo, kacang, hingga almond.
Kunci keberhasilan Hendri tidak hanya terletak pada kelezatan kue balok yang lumer di lidah, tetapi juga pada kepekaannya membaca perilaku konsumen. Sejak lima bulan lalu, lapak kue balok Hendri resmi bermigrasi ke ekosistem digital dengan menyediakan metode pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Langkah ini dia ambil bukan sekadar untuk ikut-ikutan tren, melainkan sebagai respons langsung atas permintaan para pelanggan.
“Banyak pembeli yang tanya, bisa bayar pakai QRIS tidak? Jadi ini untuk menyediakan kemudahan bagi pembeli yang kebetulan tidak membawa uang tunai,” ujar pemuda asal Desa Pasuruhan, Kayen ini.
Kehadiran QRIS ini terbukti ampuh memangkas waktu transaksi dan meminimalkan antrean di lapaknya.

Nayla, pembeli kue balok Kayen sedang memindai kode QRIS menggunakan ponselnya untuk membayar pesanannya. (Foto: Angga/WP)
Nayla, salah seorang warga Kayen yang menjadi pelanggan setia, mengaku rela mengantre demi mendapatkan kue balok hangat kegemarannya. Bagi Nayla, keputusannya membeli di lapak Hendri juga didukung oleh faktor kepraktisan. Tanpa perlu repot merogoh dompet mencari uang pas, ia tinggal mengeluarkan ponsel pintar dan memindai kode QRIS untuk membayar.
Apa yang dipraktikkan oleh Hendri di lapak kue baloknya sebenarnya merupakan cerminan kecil dari gelombang besar digitalisasi yang tengah melanda Kabupaten Pati. Kesadaran Hendri untuk menyediakan layanan nontunai ini sejalan dengan masifnya pertumbuhan ekosistem digital di Bumi Mina Tani.

Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, menjelaskan bahwa adopsi teknologi finansial di tingkat akar rumput menunjukkan angka yang luar biasa.
Menurut lelaki yang punya sapaan akrab Iin ini, kehadiran QRIS dan aplikasi perbankan digital seperti BRImo adalah instrumen penting untuk merombak kebiasaan lama.
“Ibarat dua mata pisau, QRIS dan BRImo harus ada. Kita mengubah transaksi manual ke digital bagi masyarakat desa dengan berbagai literasi dan edukasi,” ujar pria yang memimpin BRI wilayah Kabupaten Pati, Rembang, Blora, dan Cepu ini.
Lapak kue balok Hendri yang kini ramah ekosistem keuangan digital juga memantik perhatian pengamat ekonomi dari STAI Ki Ageng Pekalongan (STAIKAP), Khairul Anwar. Ia menilai, keputusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengh (UMKM) seperti Hendri untuk mengadopsi QRIS mengonfirmasi bahwa pelaku usaha kecil di daerah kini semakin adaptif.
“Di era digital saat ini, UMKM yang memiliki QRIS cenderung lebih dipercaya karena mampu memberikan pelayanan yang cepat dan sesuai kebutuhan masyarakat. Selain memudahkan transaksi, QRIS juga membuka peluang bagi UMKM untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing,” ucap Khairul.
Ia menambahkan bahwa sistem pembayaran nontunai ini tidak hanya memanjakan konsumen, tetapi juga membantu pelaku usaha menjadi lebih modern, praktis, dan efisien dalam pengelolaan keuangan harian.
Sifat yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital terbukti bisa membawa bisnis Hendri bertahan. Keputusannya mengadaptasi sistem pembayaran QRIS bukan hanya langkah untuk menjawab kebutuhan pelanggan, melainkan juga untuk menjawab tantangan zaman.

Di sisi lain, “jiwa santri” juga memandu Hendri untuk menjalankan sikap bisnis yang khas. Baginya, rezeki tidak akan tertukar. Alih-alih pelit berbagi rahasia dapur karena takut tersaingi, dia justru berjiwa besar. Ketika ada seorang temannya yang berniat membuka usaha serupa di wilayah Pati Utara, Hendri tanpa ragu membagikan resep kue baloknya.
Dari sebuah tayangan YouTube, turun ke dapur latihan di rumah, hingga kini menjadi bagian dari ribuan titik QRIS yang menggerakkan ekonomi daerah di Kayen, perjalanan Hendri Irawan membuktikan satu hal, yakni latar belakang santri bukanlah batasan untuk menjadi pelaku UMKM yang modern, inovatif, dan berdaya saing tinggi. Di tepi jalan Pati-Purwodadi, kepulan asap kue balok Hendri tidak hanya menyajikan kehangatan rasa, tetapi juga memberi sinyal kuat bahwa masa depan UMKM Pati kini ada di genggaman digital.
Reporter: Angga Saputra
Editor: Revan Zaen