
WARTAOHOTO.NET. PATI – Produksi ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Juwana diperkirakan mengalami penurunan signifikan. Kondisi tersebut dipicu banyaknya kapal nelayan berukuran di atas 30 Gross Ton (GT) yang menunda keberangkatan melaut akibat tingginya biaya operasional.
Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Mukit, mengatakan penurunan produksi ikan terjadi karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis solar yang digunakan nelayan.
“Pastinya karena banyak kapal-kapal yang belum bisa melaut. Kenaikan harga BBM yang cukup signifikan berdampak pada berkurangnya hasil tangkapan ikan,” ujar Mukit.
Menurut dia, harga solar non-subsidi yang harus dibeli nelayan saat ini mencapai sekitar Rp30 ribu per liter. Harga tersebut dinilai terlalu tinggi sehingga tidak sebanding dengan potensi pendapatan yang diperoleh nelayan dari hasil melaut.
Berdasarkan informasi yang diterimanya dari para nelayan serta hasil pemantauan di lapangan, sekitar 80 persen kapal berukuran di atas 30 GT di wilayah Juwana masih belum beroperasi.
“Dari informasi teman-teman nelayan dan pantauan di lapangan, angkanya cukup signifikan. Hampir 80 persen kapal belum melaut,” katanya.
Mukit menjelaskan, hanya sebagian kecil kapal yang tetap beroperasi. Namun, aktivitas penangkapan ikan tersebut lebih banyak dilakukan di perairan lokal dengan jangkauan yang tidak terlalu jauh.
“Yang sudah melaut pun karena terpaksa. Untuk saat ini sebagian besar yang beroperasi hanya kapal-kapal yang mencari ikan di wilayah lokal,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pasokan dan harga ikan di TPI Juwana. Karena itu, Mukit berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah untuk membantu nelayan menghadapi kenaikan biaya operasional, khususnya terkait harga BBM yang menjadi kebutuhan utama sektor perikanan tangkap.