
WARTAPHOTO.NET. PATI – Pengabdian sebagai guru tak membatasi ruang gerak Rif’an Zaenal Ehwan dan Machmudah untuk bertumbuh di dunia usaha. Di sela-sela kesibukan mendidik generasi bangsa, pasangan suami istri ini membangun bisnis fashion.
Perjalanan pasangan guru SMA ini di dunia usaha busana dimulai pada 2013, dua tahun setelah mereka mulai mengarungi bahtera rumah tangga. Dengan modal seadanya dan semangat melimpah, mereka mengambil langkah awal berjualan kerudung yang dikulak dari Pasar Bitingan, Kudus.
Saat itu, mereka masih tinggal di sebuah rumah kontrakan di Desa Sembaturagung, Kecamatan Jakenan. Di rumah itulah, pada 2015 mereka memberanikan diri menambah koleksi pakaian untuk dijual.
Tantangan demi tantangan mereka lewati dengan konsistensi. Pada 2022, mereka sempat berpindah kontrakan ke Desa Kudukeras, Kecamatan Juwana. Di tempat baru ini, bisnis mereka mulai naik kelas. Rif’an dan Machmudah dipercaya menjadi distributor untuk beberapa merek pakaian ternama.
Hasil tak pernah mengkhianati usaha. Buah dari konsistensi selama bertahun-tahun akhirnya mengantarkan mereka memiliki rumah sendiri di Desa Tambahmulyo, Kecamatan Jakenan. Di sinilah Qisma Store berdiri kokoh. Di tempat ini, mereka mendistribusikan sedikitnya tujuh merek pakaian, melayani penjualan secara luring maupun daring via lokapasar, sekaligus membesarkan tiga buah hati mereka, dua anak perempuan yang kini duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan seorang anak laki-laki yang masih balita.

Machmudah saat menjaga Qisma Store miliknya. (Foto: Angga/WP)
Bagi Rif’an dan Machmudah, Qisma Store bukan sekadar ladang mencari cuan, melainkan media untuk berbagi manfaat. Saat ini, mereka mempekerjakan dua orang karyawan. Menariknya, tempat ini juga berfungsi layaknya “sekolah kedua”.
“Prinsip kami sejak awal adalah ingin membantu pemuda di sekitar sini agar bisa berkembang. Jadi, anak-anak yang ikut kerja di Qisma Store tidak sekadar jaga toko. Mereka kami ajari dan bimbing bagaimana cara berjualan yang baik, membaca peluang, hingga mengelola bisnis. Kami ingin mereka punya bekal mandiri ke depan,” ujar Rif’an, saat ditemui Wartaphoto di tokonya, Senin (29/6/2026).
Sebagai pebisnis yang adaptif, Rif’an menyadari bahwa kenyamanan pelanggan adalah kunci utama. Terletak di area Jakenan, Qisma Store bertransformasi menjadi pusat pemenuhan kebutuhan masyarakat, bukan hanya untuk urusan pakaian, melainkan juga transaksi finansial melalui layanan Agen BRILink.
Sejak 2024, Qisma Store telah mengadopsi sistem pembayaran digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Berkat volume penjualan yang konsisten dan terus meningkat, pada 2025 mereka resmi difasilitasi mesin Electronic Data Capture (EDC). Kehadiran dua teknologi pembayaran ini mengubah lanskap bisnis mereka secara signifikan.
“Zaman sekarang pelanggan ingin yang serba praktis. Sejak ada QRIS di tahun 2024 dan menyusul mesin EDC di tahun 2025, perputaran modal dan transaksi di Qisma Store jauh lebih efisien. Rata-rata pelanggan kami sekarang kalau belanja pakaian atau bahkan yang datang untuk keperluan tarik tunai, lebih suka transaksi nontunai atau gesek kartu. Lebih aman, cepat, dan kami tidak perlu pusing memikirkan uang kembalian,” ungkap Rif’an.
Integrasi antara toko baju, keagenan BRILink, serta fasilitas pembayaran digital yang lengkap membuat Qisma Store menjadi andalan warga Tambahmulyo dan sekitarnya.

Apa yang dilakukan Rif’an melalui Qisma Store sejalan dengan misi besar PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dalam mendekatkan akses keuangan. Area Head (Kepala Area) BRI Pati Regional Office (Kantor Wilayah) Semarang, Ahmad Muflihin Taiyeb, menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen hadir hingga ke desa-desa melalui Agen BRILink untuk memotong jarak pelayanan perbankan kepada masyarakat.
“Jadi kami bisa menjangkau daerah terjauh. Kalau mereka mau mengambil uang tunai, tidak perlu ke ATM. Agen BRILink bisa membantu masyarakat setempat,” ungkap pria yang akrab disapa Iin tersebut, yang memimpin wilayah kerja Pati, Rembang, Blora, dan Cepu.
Fenomena menjamurnya agen seperti Qisma Store di pelosok Pati ini memantik perhatian dunia akademik. Menurut dosen Ekonomi Makro Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, Suharno, BRILink merupakan salah satu model branchless banking terbesar di Indonesia. Berdasarkan data resmi BRI, jaringan Agen BRILink telah menjangkau jutaan masyarakat melalui lebih dari satu juta agen yang tersebar di puluhan ribu desa. Hal ini memungkinkan masyarakat serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melakukan transaksi perbankan tanpa harus datang ke kantor bank.
Suharno menilai dari perspektif teori inklusi keuangan, kondisi tersebut menunjukkan penurunan hambatan geografis (geographical barriers) dalam akses layanan keuangan. Sebagai ekonom, ia melihat BRILink sebagai inovasi kelembagaan yang berhasil memperluas akses keuangan hingga ke level desa.
Dalam konteks UMKM, akses yang lebih dekat terhadap layanan keuangan seperti yang disediakan oleh Rif’an dan Machmudah di Jakenan berpotensi menurunkan biaya transaksi, mempercepat perputaran modal usaha, dan meningkatkan integrasi UMKM ke dalam sistem keuangan formal. Namun demikian, Suharno juga mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam menyamakan perluasan akses dengan peningkatan kesejahteraan secara instan, sebab konsistensi dan literasi pelaku usaha tetap menjadi kunci utama.
Kisah Rif’an dan Machmudah adalah bukti nyata bagaimana inklusi digital dan finansial itu bekerja di akar rumput. Dari sepetak rumah kontrakan dan modal kulakan kerudung, kini mereka tidak hanya berhasil menginspirasi lewat dedikasi sebagai guru dan kemandirian sebagai pengusaha, tetapi juga menjadi perpanjangan tangan yang menggerakkan roda ekonomi dan literasi keuangan pemuda di desanya.
Reporter: Angga Saputra
Editor: A. Muhammad